Mengenal Tari Salai Jin, Warisan Budaya dari Ternate

Masyarakat Ternate tempo dulu, sebelum masuknya agama Islam, menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.

Diterbitkan 16 Mei 2025, 01:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tari Salai Jin adalah sebuah warisan budaya yang merepresentasikan akar spiritual dan filosofis yang sangat mendalam dari masyarakat Ternate, Maluku Utara.

Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni gerak tubuh, melainkan merupakan bagian integral dari ritus adat yang sarat akan nilai-nilai kepercayaan kuno dan pemahaman kosmologis masyarakat setempat.

Dalam setiap gerakan dan dentuman irama musik yang mengiringinya, Tari Salai Jin menjadi semacam jendela yang membuka tabir masa lalu, di mana hubungan antara manusia dan kekuatan supranatural seperti roh leluhur atau jin menjadi hal yang biasa dan diyakini memiliki kekuatan besar dalam memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Ternate tempo dulu, sebelum masuknya agama Islam, menganut kepercayaan animisme dan dinamisme yang melihat alam dan segala isinya sebagai tempat bersemayamnya kekuatan roh-roh gaib.

Dalam konteks inilah, Tari Salai Jin tumbuh dan berkembang sebagai salah satu bentuk komunikasi ritual yang bertujuan untuk memanggil serta berinteraksi dengan makhluk-makhluk gaib tersebut, terutama dalam upaya penyembuhan penyakit atau menyelesaikan masalah keluarga yang dianggap tak dapat diselesaikan dengan cara biasa.

Dalam pelaksanaannya, Tari Salai Jin biasanya ditarikan secara berkelompok oleh para penari laki-laki dan perempuan yang telah memiliki pemahaman khusus tentang makna serta teknik tari ini. Gerakan-gerakannya tidak dibuat sembarangan, melainkan mengikuti pola-pola tertentu yang dipercaya dapat membuka gerbang komunikasi dengan alam gaib.

Iringan musik yang digunakan pun khas, mengandalkan alat-alat tradisional seperti tifa dan gong yang ritmenya dibuat sedemikian rupa agar menciptakan suasana transenden, membantu para penari dan partisipan memasuki kondisi spiritual yang dalam.

Tak jarang dalam tarian ini, terdapat bagian di mana salah satu penari atau bahkan penonton mengalami kesurupan, yang dalam kepercayaan masyarakat setempat diartikan sebagai tanda keberhasilan memanggil roh jin.

Misteri dan Kepercayaan

Fenomena ini semakin memperkuat kepercayaan bahwa Tari Salai Jin bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan merupakan ritual sakral yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia gaib. Maka dari itu, tak semua orang diperbolehkan mengikuti atau menyaksikan tarian ini, terutama jika tidak memahami tata cara atau aturan adat yang menyertainya.

Fungsi utama dari Tari Salai Jin adalah sebagai bentuk pengobatan tradisional, di mana orang yang sakit akan dijadikan pusat perhatian dalam ritual tersebut. Para penari dan pawang akan mencoba berkomunikasi dengan jin untuk mengetahui penyebab penyakit yang diderita, apakah murni karena faktor medis atau karena gangguan makhluk halus.

Jika penyebabnya adalah gangguan spiritual, maka jin tersebut akan diminta untuk pergi atau bahkan diajak bernegosiasi agar tidak lagi mengganggu si penderita.

Konsep ini sangat erat kaitannya dengan sistem kepercayaan masyarakat Ternate yang melihat tubuh manusia sebagai entitas yang tidak hanya terdiri dari daging dan darah, tetapi juga memiliki unsur jiwa dan roh yang rentan terhadap pengaruh-pengaruh eksternal dari dunia gaib.

Oleh karena itu, penyembuhan tidak bisa hanya dilakukan melalui obat-obatan fisik, tetapi juga melalui ritus-ritus spiritual seperti Tari Salai Jin. Dalam hal ini, tarian tersebut berperan sebagai medium yang menjembatani manusia dengan kekuatan tak kasat mata yang dipercaya dapat membantu atau justru menyebabkan penderitaan.

Seiring dengan masuknya Islam ke wilayah Ternate, posisi Tari Salai Jin sempat mengalami perubahan. Praktik-praktik yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama mulai ditinggalkan atau disesuaikan dengan nilai-nilai baru yang lebih selaras dengan ajaran Islam.

Meskipun begitu, keberadaan tari ini tidak serta-merta menghilang. Sebaliknya, ia bertahan sebagai bentuk kekayaan budaya lokal yang tetap dihormati, meski penggunaannya kini lebih terbatas pada konteks-konteks tertentu yang bersifat pelestarian budaya, seperti festival adat atau pertunjukan seni tradisional.

Beberapa elemen magisnya memang telah dikurangi, namun aura mistik dan spiritual yang melekat pada Tari Salai Jin tetap kuat terasa, terutama bagi mereka yang tumbuh dan besar di lingkungan masyarakat adat yang masih menjunjung tinggi warisan leluhur.

Dengan demikian, tari ini tidak hanya menjadi simbol dari masa lalu yang penuh misteri dan kepercayaan, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas dalam kehidupan masyarakat yang terus berkembang.

Penulis: Belvana Fasya Saad