Sukses

Sawer Sunda, Tradisi Lisan Berisi Nasihat untuk Mempelai Pengantin

Liputan6.com, Bandung - Upacara pernikahan adat Sunda memiliki warisan adat dan budaya lama yang masih dilaksanakan hingga saat ini. Tradisi tersebut adalah sawer (nyawer), yakni sastra lisan yang memuat nasihat sebagai bentuk kepedulian dalam membangun karakter, khususnya dalam berumah tangga.

Mencuplik dari 'Sawer Penganten Tuntunan Hidup Berumah Tangga di Kabupaten Bandung' oleh Aam Masduki, puisi sawer panganten merupakan salah satu bentuk tradisi lisan dan masuk pada wilayah folklor. Istilah folklor di Indonesia pertama kali dikemukakan oleh James Danandjaja.

Folklore didefinisikan sebagai sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun. Ragam kolektif tersebut bisa berupa apa saja, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat.

Sebagai salah satu bentuk sastra lisan, upacara sawer panganten mempergunakan bahasa sebagai alatnya. Dalam Kamus Umum Basa Sunda (1954), istilah 'sawer' mempunyai dua arti.

Sawer bisa diartikan sebagai air hujan yang masuk ke rumah karena terhembus angin (tempias). Definisi lain dari sawer diartikan sebagai menabur (pengantin) dengan beras dicampur uang tektek (lipatan sirih) dan irisan kunir.

Dalam sastra Sunda, sawer berarti petuah untuk pengantin dalam bentuk syair serta diiringi tembang berisi nasihat orang tua. Isi sawer merupakan pepatah dari orang tua kepada anaknya yang akan menjalani kehidupan baru, yakni berumah tangga.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Juru Sawer

Pepatah sawer tersebut biasanya disampaikan atau dituturkan oleh juru sawer. Isi sawer berupa tuntunan berumah tangga, ajaran keagamaan, dan ajaran sopan santun antara suami-istri.

Bahan dan alat-alat yang digunakan dalam upacara saweran biasanya meliputi beras putih, leupit, kunyit, uang logam, dan permen. Beberapa simbol tersebut juga memiliki makna tersendiri di baliknya.

Beras putih dimaknai sebagai ketentraman dalam sebuah keluarga karena dianggap sebagai salah satu cadangan pangan yang aman. Adapun leupit merupakan sirih yang dilipat segi tiga yang di dalamnya berisi kapur sirih, gambir, pinang, kapol, saga, dan tembakau.

Leupit dimaknai sebagai keterbukaan dalam kehidupan dalam rumah tangga. Sementara itu, rasa leupit yang pahit dan manis melambangkan bahwa saat menjalani rumah tangga tidak selalu melewati masa manis, melainkan juga masa pahit.

Kehadiran kunyit merupakan simbol emas yang berasal dari warnanya, yakni kuning. Artinya, saat berumah tangga, mempelai akan dihargai orang lain dan saling menghargai, layaknya menghargai mahalnya nilai emas.

Uang logam dalam tradisi ini dimaknai sebagai lambang dunia atau kekayaan. Tak hanya di dunia, pasangan pengantin juga diharapkan dapat bersama-sama menyiapkan bekal akhirat.

Adapun rasa manis permen dimaknai sebagai kehidupan berumah tangga yang harus diwarnai oleh memanis atau didasari keharmonisan keluarga yang luwes, tidak monoton, penuh inovasi, dan fungsi keluarga sesuai dengan harapan mencapai kebahagian. Hal ini dapat diwujudkan dengan sikap saling menyayangi, tidak gampang tersulut nafsu, dan saling mengalah untuk menghindari pertikaian.

(Resla Aknaita Chak)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS