Sukses

Riwayat Sendang Pocot Bantul, Dipercaya Tempat Mencopot Jabatan Seseorang

Liputan6.com, Yogyakarta - Kampung Banyuurip merupakan sebuah perkampungan di Tenggara Kabupaten Bantul Yogyakarta. Kampung ini dikenal sebagai perkampungan tua yang sakral sampai saat ini.

Kampung Banyuurip yang terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo ini konon memiliki tempat yang dianggap mistis oleh masyarakat sekitar. Tidak jarang orang datang ke kampung ini untuk melakukan ritual hajat atau sekadar berwisata spiritual.

Dikutip dari berbagai sumber, salah satu tempat yang cukup sakral yakni Sendang Pocot. Sendang ini berada di sisi timur Kampung Banyuurip Bantul atau tepat di sebelah barat Sungai Oya.

Keberadaan Sendang Pocot ini memang tak lepas dari sejarah peninggalan Sunan Geseng atau Jebeng Cokro Joyo yang dikenal sebagai salah satu tokoh agama di daerah tersebut. Konon Sendang Pocot ini biasanya dimanfaatkan orang untuk "mocot" atau mencopot jabatan seseorang.

Sebagai tempat yang cukup angker, jarang ada yang berani datang ke Sendang Pocot. Melalui Sendang Pocot ini konon siapa pun bisa mencopot jabatan seorang pemimpin yang dianggap menyengsarakan rakyat.

Untuk persyaratan ritual cukup mudah, hanya menyediakan sesaji maupun uba rampe yang dibutuhkan. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, sejarah munculnya sendang ini tak sembarangan.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Memandikan Murid

Sendang Pocot muncul setelah Sunan Kalijaga memandikan muridnya yakni Sunan Geseng yang meninggal karena terbakar. Sebelumnya, Sunan Geseng yang bernama Jebeng Cokro Joyo berasal dari Bagelan Purworejo, Jawa Tengah.

Ia bertemu dengan Sunan Kalijaga saat dirinya menderes kelapa. Jebeng Cokro Joyo pun menjadi murid Sunan Kalijaga dan ikut mengembara ke arah Timur sampai wilayah Jatimulyo.

Sewaktu Sunan Kalijaga memiliki urusan ke Mekkah, ia meminta Jebeng Cokro Joyo tinggal di wilayah tersebut dengan menancapkan tongkat ke tanah dan tidak boleh pergi sebelum sang guru kembali. Karena menunggu cukup lama, tempat tersebut tumbuh pohon bambu dan tumbuhan rambat sehingga Jebeng Cokro Joyo tak terlihat.

Sekembalinya Sunan Kalijaga, ia lalu membakar pohon bambu dan ternyata muridnya tersebut ditemukan dalam keadaan mati dengan luka bakar. Melihat hal itu, Sunan Kalijaga lantas menancapkan tongkatnya dan keluarlah sumber mata air yang jernih dan berlimpah.

Tak disangka, setelah dimandikan, Jebeng Cokro Joyo yang mati dalam keadaan gosong dapat hidup kembali. Sehingga mata air tempat ditancapkan tongkat Sunan Kalijaga saat ini dikenal sebagai Blumbang Banyuurip atau Banyu Penguripan. Sementara tempat untuk membuang kotoran Jebeng Cokro Joyo dikenal sebagai Sendang Pocot.

 

Penulis: Tifani