Hari Anak Nasional 2026, Mengenalkan Budaya ke Anak Tak Lagi Membosankan

Hari Anak Nasional 2026 menjadi momentum mengenalkan budaya pada anak melalui pertunjukan dan workshop interaktif yang seru, serta gratis.

Diterbitkan 23 Juli 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah perubahan gaya belajar anak yang semakin dekat dengan dunia digital, mengenalkan budaya Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih interaktif. Hari Anak Nasional 2026 menjadi momentum untuk menghadirkan pengalaman belajar yang tidak lagi mengandalkan metode konvensional.

Anak-anak harus diajak terlibat langsung dalam aktivitas kreatif yang menyenangkan. Pendekatan tersebut membuka peluang bagi keluarga untuk memperkenalkan seni budaya sebagai bagian dari keseharian anak.

Galeri Indonesia Kaya memanfaatkan momen Hari Anak Nasional─yang diperingati setiap 23 Juli─dengan menghadirkan rangkaian pertunjukan akhir pekan dan program Ruang Kreatif Liburan Anak sepanjang bulan Juli. Seluruh kegiatan dapat diikuti secara gratis melalui reservasi.

Rangkaiannya dirancang agar anak tidak hanya jadi penonton, tapi juga ikut merasakan proses berkesenian lewat berbagai kelas kreatif yang mengenalkan kekayaan budaya Nusantara.

"Setiap anak berhak mendapatkan ruang untuk belajar, berekspresi, dan mengenal jati dirinya, termasuk melalui seni dan budaya," kata Program Director Galeri Indonesia Kaya Renitasari Adrian melalui rilis pada Lifestyle Liputan6.com, Minggu, 19 Juli 2026.

"Menyambut Hari Anak Nasional, kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tapi juga memperkaya wawasan anak-anak tentang kekayaan budaya Indonesia."

"Kami percaya, ketika anak diberikan kesempatan untuk menikmati sekaligus terlibat langsung dalam proses berkesenian, kecintaan terhadap budaya akan tumbuh secara alami dan menjadi bekal berharga bagi mereka di masa depan," imbuhnya.

 

Dekat dengan Kehidupan Anak

Rangkaian pertunjukan menghadirkan beragam cerita yang dekat dengan kehidupan anak. Makemory #SaveLaguAnak membuka program melalui penampilan Natasha, Ria Enes dan Suzan, Tasya Kamila, serta Geofanny yang mengajak keluarga bernostalgia lewat lagu-lagu anak.

Pertunjukan tersebut sekaligus memperkenalkan kembali lagu anak pada generasi masa kini agar tetap dikenal di tengah dominasi musik populer. Musikal Nara si Putri Angsa persembahan Swargaloka melanjutkan rangkaian acara dengan mengangkat isu perundungan.

Kisah seorang putri yang berubah menjadi angsa mengajak anak memahami arti empati, menghormati perbedaan, serta membangun keberanian menghadapi perlakuan tidak menyenangkan. Penyampaian pesan melalui drama musikal membuat tema tersebut lebih mudah dipahami oleh penonton usia dini.

Ada pula Fantasy Land karya Regina Art pada 18 Juli. Pertunjukan tersebut membawa penonton mengikuti petualangan Luna bersama sahabat-sahabatnya di dunia penuh imajinasi. Cerita menanamkan nilai persahabatan, kerja sama, keberanian, dan kreativitas melalui pengalaman visual yang menghibur sekaligus edukatif.

 

Pengalaman Menyenangkan

Rangkaian pertunjukan akan ditutup melalui Pertunjukan Musikal Ibu Sud: Nada Anak Nusantara pada 25 Juli. Pementasan menghadirkan Sita Nursanti sebagai Ibu Sud, serta Ria Enes dan Suzan sebagai narator.

Penonton diajak menikmati kembali lagu legendaris seperti Pergi Belajar, Naik Delman, Burung Kutilang, Naik Becak, Kupu-Kupu yang Lucu, serta Tik-Tik Bunyi Hujan dalam balutan aransemen baru dan drama musikal yang hangat.

"Sebagai seseorang yang tumbuh bersama lagu-lagu anak dan pernah merasakan indahnya masa menjadi penyanyi cilik, saya percaya lagu anak memiliki peran penting dalam membentuk kenangan sekaligus nilai-nilai positif sejak dini," ujar Tasya Kamila.

"Senang sekali melihat antusiasme anak-anak yang hadir di Galeri Indonesia Kaya, bahkan putra saya, Arrasya, ikut bernyanyi dan maju ke depan secara spontan ketika lagu-lagu anak dibawakan."

"Momen sederhana seperti itu menunjukkan bahwa lagu anak tetap bisa dinikmati lintas generasi ketika terus diperkenalkan melalui pengalaman yang menyenangkan bersama keluarga."

 

Ruang Kreatif Liburan Anak

Program Ruang Kreatif Liburan Anak melengkapi rangkaian kegiatan melalui pengalaman belajar yang lebih partisipatif. Anak-anak mengikuti kelas akting, tari, dan menyanyi lewat cerita rakyat Jawa Tengah bertajuk "Si Kendhil."

Materi pembelajaran mengajarkan pentingnya menerima perbedaan, sekaligus mencegah perundungan melalui pendekatan seni pertunjukan. Peserta juga mempelajari beragam warisan budaya Indonesia melalui kelas kreatif lainnya.

Anak-anak membuat dekorasi boneka kayu burung cendrawasih bersama Bartega Studio, memainkan angklung bersama Angklung Galung Nusantara, menyusun diorama papercraft bertema kesenian Nusantara bersama Ichinogami, serta mengenal sejarah Wayang Suket sambil membuat wayang dari rumput bersama Wayang Suket Indonesia.

Program Ruang Kreatif berlanjut pada 26-30 Juli melalui Kelas Singkat Pemula: Musikal Payung Fantasi bersama Pasha Prakasa dan Andrea Miranda. Kelas terbuka bagi peserta berusia 15 hingga 40 tahun tanpa pengalaman panggung.

Peserta akan mempelajari dialog, akting, koreografi, serta membawakan lagu-lagu karya Ismail Marzuki sebelum menampilkan hasil latihan dalam uji pentas pada 2 Agustus 2026.