Sukses

Kabupaten Blora Kini Punya Gedung Perpustakaan yang Megah

Liputan6.com, Blora - Gedung baru itu tampak megah. Tertinggi dibandingkan bangunan di sekitarnya. Dengan desain yang futuristik, bangunan bertingkat lima itu kini menjadi ikon baru yang menjadi kebanggaan warga Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Ya, kini masyarakat Blora sudah memiliki bangunan perpustakaan yang representatif. Hampir semua lantai digunakan sebagai fasilitas layanan yang penuh koleksi bahan bacaan. Bagian paling atasnya digunakan sebagai roof top, area untuk menikmati panorama keindahan Blora dari ketinggian. Membaca sambil menikmati pemandangan tentu menjadi pengalaman seru yang mengasyikan.

Namun, di balik kebanggaan tersebut masih ada sejumlah persoalan. Bangunan perpustakaan yang dibangun menggunakan dana alokasi khusus (DAK) dari Perpustakaan Nasional itu hanya memiliki satu orang pustakawan saja.

"Ruang bacanya sudah nyaman. Fasilitas sudah mumpuni, tetapi sayang tenaga pustakawan masih kurang, selain koleksi digitalnya juga belum banyak. Padahal hal itu diperlukan untuk memompa minat baca," ujar Muhammad Sajudin, salah seorang pemustaka.

Hal senada juga diutarakan guru dari SMPN 1 Tunjungan, Martana. Menurutnya rasio antara koleksi dengan tenaga pustakawan jelas kurang memadai.

"Kurangnya pustakawan tentunya berdampak pada kekurangmampuan menangani kegiatan perpustakaan secara profesional sehingga bisa menghambat pelayanan dan pengembangan perpustakaan di masa yang akan datang," katanya.

 

Ia menyarankan sebaiknya pemerintah daerah segera merespons kondisi ini agar para pemustaka dan masyarakat mendapatkan pelayanan yang memadai. Caranya, dengan mengadakan penerimaan ASN baru berlatarbelakang kualifikasi pustakawan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blora, Aunur Rofiq, kepada Liputan6.com mengakui, tantangan yang paling terasa itu soal tenaga pustakawan yang masih kurang. Pihaknya baru memiliki seorang tenaga pustakawan.

"Apalagi profesi pustakawan memainkan peran penting sebagai pemandu bagi para pemustaka menemukan sumber informasi ataupun pengetahuan yang dibutuhkan," ujar Aunur Rofiq.

Meski demikian, dibangunnya gedung perpustakaan Kabupaten Blora oleh Perpusnas melalui DAK, diharapkan membuat layanan perpustakaan semakin banyak diminati masyarakat, sehingga budaya literasi di kawasan ini bisa berkembang.

Aunur berjanji, pihaknya akan segera melakukan pengembangan profesionalitas pelayanan untuk meningkatkan kualitas layanan pada masyarakat.

 

Sebelum mendapat bantuan dari Perpusnas, gedung perpustakaan Kabupaten Blora jauh dari ideal. Berada di lokasi yang sempit dan amat terbatas sehingga sulit untuk mencapai pelayanan perpustakaan yang maksimal.

Diketahui, sebelum pandemi Covid-19, program perpustakaan sudah banyak melibatkan partisipasi langsung masyarakat yang dibantu dukungan dari para stakeholder meluncurkan inovasi pengembangan budaya baca, yakni Saka Pustaka (satuan karya perpustakaan).

Saka Pustaka adalah program yang bersifat bottom up (dari bawah ke atas). Saking suksesnya, program inovasi Saka Pustaka diadopsi oleh sejumlah daerah di Indonesia.

"Kategorinya masih sebagai satuan karya lokal. Kebanyakan kalau saka itu kan dari atas ke bawah buatnya. Sedangkan ini dari bawah ke atas. Inovasi dari Blora ini beberapa daerah lain sudah mengadopsi," jelas Rofiq.

Untuk tingkat literasi Kabupaten Blora, Aunur melihatnya masih taraf relatif ideal. Keberadaan perpustakaan desa yang membantu pemenuhan kebutuhan informasi  juga membantu memberdayakan potensi masyarakatnya.

Di tengah pandemi Covid-19, perpustakaan Kabupaten Blora telah melengkapi pelayanannya dengan layanan digital. Diharapkan dengan cara tersebut bisa menjadi solusi sehingga pemanfaatan perpustakaan di kondisi pandemi tetap bisa optimal.

2 dari 2 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini: