Sukses

Lonjakan Mengerikan Kasus Positif Covid-19 Sulbar dari Klaster Pasien 03

Liputan6.com, Mamuju Tengah - Ketidakjujuran pasien positif Covid-19 ketiga (03) di Sulawesi Barat asal Kabupaten Mamuju Tengah beserta keluarganya berakibat fatal. Karena terdapat 27 kasus positif Covid-19 yang berasal dari turunan pasien 03. Total kasus di Sulawesi Barat mencapai 33.

Desa Pontanakayyang di Mamuju Tengah yang merupakan daerah asal pasien pun terkena imbasnya, total 28 warganya positif Covid-19, sehingga daerah itu menjadi klaster penyebaran virus mematikan. Stigma negatif harus ditanggung oleh warga desa itu, karena ketidakjujran segelintir orang.

Pemerintah setempat pun melakukan isolasi wilayah terhadap desa itu, bahkan terdapat 3 posko penanganan Covid-19 yang didirikan disana. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi peneyebaran Covid-19 yang kian masif.

Pasien 03 meninggal dunia pada Jumat (03/04/2020), saat dirawat di RSUD Regional Sulawesi Barat yang menjadi rumah sakit rujukan Covid-19, hasil tes swabnya baru keluar seminggu kemudian dan dinyatakan positif Covid-19.

Sebelum dibawa ke rumah sakit rujukan, pasien bahkan sempat dirawat di dua rumah sakit lainnya tanpa mendapatkan perawatan Standar Operasional Prosedur (SOP) Covid-19. Petugas medis sama sekali tidak diberitahu mengenai riwayat perjalanan pasien, sehingga ia dianggap tidak terpapar virus mematikan itu.

Anggota Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sulawesi Barat dr Muhammad Ikhwan megatakan, pasein dan keluarganya tidak pernah jujur terkait riwayat perjalanannya.

Setelah ditelusuri oleh gugus tugas, terungkap jika pasien baru kembali dari daerah transmisi lokal Covid-19, sehingga penularan virus mematikan itu sudah tidak terbendung.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Keluarga Pasien 03 Tak Jujur

"Sejak awal, keterangan pasien dan keluarganya simpang siur. Mereka bilang tidak kemana-mana ini pasien. Setelah diperjelas, baru saya dapat informasi, ternyata ini pasien baru dari Kota Makassar bersama suaminya dan sempat menghadiri pesta pernikahan disana," jelas Ikhwan.

Bahkan, menurut Ikhwan, setalah pasien meninggal dan dimakamkan sesuai SOP Covid-19, keluarganya masih sempat melakukan taksiyah. Saat itulah, diperkirakan penyebaran virus terjadi. Virus itu diseberkan oleh keluarga yang menajdi Carrier atau Orang Tanpa Gejala (OTG).

"Baru mereka ini (keluarga pasien) agak-agak bandel juga. Kalau dikasih tahu jangan keluar rumah, isolasi dulu, dia tidak perduli. Akibatnya, 28 kasus positif di Pontanakayyang semua kerabat mereka. Kita masih menunggu hasil swab lainnya, yang sudah kontak dengan pasien," tutur Ikhawan.

Ikhwan berpesan, agar pasien dapat jujur dengan riwayat perjalanan mereka, karena hal itu sangat membantu gugus tugas dan tenaga medis dalam menghentikan mata rantai penyebaran Covid-19.

Sementara itu, Direktur RSUD Regional Sulawesi Barat dr Indah Nursyamsi juga membenarkan pernyataan Ikhwan, menurutnya pasien dan keluarganya tidak memberikan informasi yang akurat ke petugas medis. Dia sangat berharap agar pasien dan keluarganya tidak menutup-nutupi gejala maupun jejak perjalanan mereka.

"Ketidakjujuran itu tidak hanya berdampak ke keluarga tetapi juga ke tenaga medis sebagai garda terdepan. Untung dulu proses pemakaman jenazahnya sesuai SOP Covid-19. Betapa kejujuran ini sangat berarti dan berdampak luas," kata Indahwati.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini: