Sukses

Reinkarnasi Bandara Ngloram Blora Setelah 34 Tahun Mati Suri

Liputan6.com, Blora - Tidak banyak yang tahu jika Bandara Ngloram yang berada di Blora, Jawa Tengah hanya seumur jagung. 4 tahun setelah digunakan pertama kali oleh Presiden Soeharto, bandara itu ditutup.

Bandara ini memang awalnya dibangun untuk mendukung proyek-proyek  pertambangan minyak dan gas (migas) yang berada di sekitar Kabupaten Blora.

"Sekitar empat tahun setelah didarati perdana Pak Harto, Bandara Ngloram tidak aktif," kata Wakil Bupati Blora, Arief Rohman kepada Liputan6.com, Sabtu, 11 Januari 2020.

34 tahun kemudian, sejak digunakan pertama kali oleh Soeharto, Bandara Ngloram dibangun kembali. Pembangunan Bandara Ngloram pun ditangani langsung oleh Kementerian Perhubungan sejak 2018 lalu.

Direktur Jendral (Dirjen) Perhubungan Udara, Polana Banguningsih Pramesti saat melakukan pendaratan perdana di Bandara Ngloram pasca dibangun mengungkapkan, landasan pacunya memiliki luas 1.200 meter x 30 meter. Dia pun berharap bandara tersebut bisa dioperasikan untuk jenis pesawat ATR 72 terbatas.

"Saya berharap dengan bandara ini bisa membantu masyarakat terhubung lebih cepat dengan tempat sekitar," ucapnya.

2 dari 2 halaman

Empat Tahap Pembanguan Bandara Ngloram

Saat ini, Bandara Ngloram belum memiliki terminal penumpang, akses jalan menuju bandara ini pun masih sangat tidak layak untuk dilalui. Ke depan, rencananya bandara itu akan dibangun bertahap sebanyak 4 kali.

Tahap pertama, runway yang saat ini memiliki luas 1.200 meter x 30 meter akan ditambah menjadi 1.400 meter x 30 meter, dengan apron 84 meter x 60 meter. Sementara, di terminal penumpang, akan dibangun area seluas 240 meter persegi. 

Berdasarkan catatan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kantor UPBU Kelas III Dewadaru-Karimunjawa, kapasitas Bandara Ngloram pada tahapan pertama ini ditargetkan melebihi 50.000 penumpang per tahun.

"Target selesai pada akhir tahun 2020, agar dapat segera dioperasikan menjadi bandara komersil," jelasnya.

Pada tahap kedua, runway akan diperluas lagi menjadi 1.600 meter x 30 meter, dengan apron menjadi 127 meter x 90 meter, dan terminal penumpang menjadi 2.013 meter persegi dengan kapasitas 138.562 penumpang per tahun.

Tahapan ketiga, runway akan diperluas menjadi 1.850 meter x 45 meter, dengan apron menjadi 168 meter x 90 meter, dan terminal penumpang menjadi 3.726 meter persegi dengan kapasitas 237.390 penumpang per tahun. 

Dan tahap keempat, runway akan diperluas dengan panjang 2.000 meter x 45 meter, dengan apron seluas 168 meter x 90 meter dan difasilitasi empat pesawat ATR 72-600, dua pesawat Boeing 737-600, serta terminal penumpang yang luasnya 5.216 meter persegi dengan kapasitas 420.551 penumpang per tahun.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Keturunan Pakubuwono IV Nilai Keraton Jipang Bukan Kerajaan
Artikel Selanjutnya
Muncul Keraton Jipang, Begini Respons Pemkab Blora