Sukses

Tempias Sinar Matahari Pagi dari Balik Celurit Madura

Liputan6.com, Sumenep - Mendengar kata celurit, serasa tidak lepas dari kekerasan, carok, dan orang Madura, Jawa Timur. Padahal, bagi orang Madura, carok yang merupakan pertarungan satu lawan satu menggunakan celurit bukanlah hal yang mudah dilakukan, meskipun ada persoalan antara satu sama lain tidak semerta-merta diselesaikan melalui jalur kekerasan, terkecuali persoalan itu sudah tak bisa lagi dimediasi.

Celurit memang menjadi senjata khas bagi orang Madura yang telah menjadi warisan nenek moyang terdahulu, sehingga terdapat filosofi dari bentuk celurit itu. Bentuk celurit yang seperti tanda tanya menunjukkan rasa ingin tahunya orang Madura cukup tinggi, walaupun selama ini seringkali jadi lucu-lucuan atau ocehan, tapi tetap saja menunjukkan jiwa rasa ingin tahu tersebut.

Membawa celurit yang merupakan senjata warisan nenek moyang itu juga tidaklah sembarangan. Dalam filosofinya, celurit itu diselipkan di pinggang sebelah kiri sebagai pengganti tulang rusuk laki-laki yang kurang satu. Maka bagi lelaki Madura tempo dulu serasa tidak lengkap jika tidak membawa celurit dan diselipkan di pinggang bagian kiri.

"Celurit bagi orang Madura itu multifungsi, bisa digunakan nyabit rumput dan semacamnya. Maka celurit itu bukan hanya digunakan untuk carok," kata Ibnu Hajar, budayawan Kabupaten Sumenep, Senin, 30 Desember 2019.

Ibnu menjelaskan, pada umumnya orang Madura dulu banyak memelihara sapi sebagai investasi yang sewaktu-waktu bisa dijual ketika ada kebutuhan mendesak, sehingga dari sisi kebudayaan celurit menjadi senjata khas daerah ini yang dapat digunakan untuk apa saja, termasuk sebagai alat menyabit rumput untuk memenuhi pakan ternak peliharaannya. Maka jangan lantas celurit tersebut hanya dikaitkan dalam tindakan kekerasan.

"Selama ini kalau orang berpikir ketika mendengar kata celurit identik dengan carok memang benar. Karena nenek moyang kita zaman dulu jika carok menggunakan celurit," ucap dia.

Ketika berbicara soal kekerasan atau duel satu lawan satu yang menggunakan senjata bukanlah hanya di Madura, tapi di luar daerah maupun luar negeri juga sama, bahkan lebih sadis ketimbang di Madura. Karena jika di Madura menggunakan senjata khasnya yaitu celurit, di luar negeri malah sudah menggunakan senjata api.

"Jadi sama saja, jika di Las Vegas yang koboinya menggukan pistol saat duel satu lawan satu. Di Madura dulunya duel pakai celurit," jelas Ibnu saat ditemui Liputan6.com.

 

2 dari 3 halaman

Masalah Harga Diri

Sebenarnya, jika berbicara carok memang sangat populer pada era nenek moyang orang Madura sekitar abad 19. Namun, saat ini carok tidak lagi sepopuler pada zaman waktu itu, sehingga jika dipersentasekan volume carok sekarang tidaklah seberapa, sebab carok tersebut sudah jarang terjadi di daerah ini.

"Masyarakat luar harus datang ke Madura biar paham tidak selamanya di sini keras. Serta celurit itu tidak menjadi sesuatu senjata yang sangat menakutkan," katanya.

Tidak bisa dipungkiri ketika urusan harga diri memang di Madura seringkali berujung carok (duel satu lawan satu yang menggunakan celurit), itupun masih melalui proses panjang. Apabila ada proses mediasi yang dapat menyelesaikan persoalan kedua belah pihak, maka bisa saja persoalan itu terselesaikan secara kekeluargaan.

Namun, jika soal urusan mengganggu istri orang, rasanya tidak ada kata ampun dan tidak bisa ditawar lagi. Daerah luar Madura sepertinya sama ketika menyangkut soal merendahkan harga diri, tapi perlawanannya saja yang berbeda. Jika di Madura kekerasan menggunakan celurit, daerah tentu juga menggunakan senjata khasnya ketika berduel satu lawan satu.

Pada zaman nenek moyang dulu persoalan carok seringkali dipicu oleh tiga faktor, yaitu, harta, tahta, dan wanita. Apabila terdapat persoalan dari ketiganya itu tentu sudah menyangkut harga diri yang terasa diinjak-injak dan harus dilawan.

 

3 dari 3 halaman

Pribadi yang Lemah Lembut

Orang Madura biasanya teguh pendiriannya serta bertanggung jawab, sehingga jika melakukan sesuatu tindakan tidak menghindar begitu saja. Salah satu contoh adalah ketika terjadi carok, di mana pelaku yang menang tidak lari, melainkan menyerahkan diri ke pihak berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Selain itu, orang Madura juga suka berteman dengan siapa saja tanpa memilih perbedaan, sehingga ketika sudah akrab tampak seperti saudara sendiri meskipun hanya sebatas teman. Maka kekerasan yang dikenal di luar Madura sangat tidak sebanding dengan kenyataan yang sebenarnya, karena kerasnya orang Madura hanya tampak dari cara menyampaikan pembicaraan, tetapi untuk watak dan karakter sebenarnya lemah lembut.

"Kerasnya orang Madura itu hanya dipicu oleh iklim kita yang tandus, sehingga sangat memengaruhi. Jadi stigma kekerasan itu harus dihilangkan," katanya.

Meskipun cara penyampaian kata orang Madura terkenal kasar, tetapi di balik itu semua tersimpan sopan santun yang selalu dijaga agar dapat menghargai orang lain. Bahkan dari sejak kecil cara menghargai dan menghormati orang lain selalu diajarkan oleh para orangtua, supaya kelak anaknya sudah dewasa dapat menghormati orang yang lebih tua maupun muda.

"Orang Madura sopan santunnya luar biasa. Prinsipnya orang Madura, siapa yang menggigit cangkir atau gelas di rumah saya, itu saudara saya. Jadi kalau ada yang mengganggu pasti dibela mati-matian, karena itu sudah seperti saudara saya sendiri," jelas Ibnu Hajar.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Pencuri Baik Hati di Madura, Galau Lalu Menyerahkan Diri ke Polisi