Sukses

Pesona Jalur 'Pembantaian' Tour de Singkarak di Kelok 44 Danau Maninjau

Liputan6.com, Padang - Keelokan panorama Danau Maninjau memang tidak diragukan lagi, apalagi berpadu dengan udara nan sejuk, bersih, serta dikelilingi perbukitan dan sawah serta pepohonan yang masih alami membuat siapa saja betah untuk berlama-lama menikmati pesonanya.

Nuansa tersebut juga memanjakan mata para pembalap Tour de Singkarak (TdS) 2019 pada etape lima yang mengambil garis start di Kota Payakumbuh dan finish di Matur Kabupaten Agam dengan jarak total 206,5 kilometer, Rabu (6/11/2019).

Pesona danau terluas kedua di Sumbar ini tidak bisa dipisahkan dari kelok 44 yang berada di sisi danau. Meski tanjakannya mendebarkan dada pembalap Tour de Singkarak, tetapi suasana yang sejuk merupakan bonus yang tidak bisa didapatkan di tempat lain.

Medan lintasan kelok 44 yang terletak di Kabupaten Agam, merupakan salah satu lintasan yang cukup berat.

Selama perhelatan Tour de Singkarak, rute di kelok 44 ini dikenal sebagai salah satu jalur paling ekstrem. Bahkan, ada yang menyebutnya dengan rute "pembantaian".

Memiliki sudut kemiringan jalur sekitar 45 derjat hingga 60 derjat, membuat banyak pembalap yang berguguran. Sesuai dengan namanya, lintasan ini memiliki 44 buah tikungan dengan tanjakan yang sangat tajam.

Karakteristik lintasan dengan pendakian panjang dan memiliki tikungan tajam, menjadi tantangan berat bagi para pembalap.

 

2 dari 2 halaman

Kaya Budaya dan Kuliner

Memasuki kelok pertama, pemandangan Danau Maninjau sudah menemani para pembalap sekaligus menguji ketangguhan 89 pembalap yang tersisa.

Menaklukkan kelok 44 merupakan tantangan terbesar pada etape lima ini. Hingga finis tidak sedikit pembalap yang kehabisan stamina.

Di Sumatera Barat, Danau Maninjau merupakan salah satu destinasi unggulan dan cukup banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Danau Maninjau merupakan danau vulkanik, terletak di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sekitar 140 kilometer dari Kota Padang, serta 36 kilometer jika dari Bukittinggi.

Masih di sekitar danau, ada kebudayaan yang tidak boleh dilewatkan. Salah satunya "Rakik-Rakik" yakni perlombaan yang diadakan sekali setahun ketika malam takbir. Warga di tepian Danau akan berlomba-lomba membuat perahu dan hiasan cantik. Beberapa dari mereka juga membuat versi mini rumah gadang, mesjid, dan lain-lain.

Tidak hanya tradisi yang masih kuat dipertahankan, kuliner di tepi danau juga tak boleh dilewatkan. Salah satunya mencoba jajanan dari rinuak, jenis ikan kecil yang hanya ada di Manijau.

Biasanya, ikan ini diolah menjadi kerupuk, pepes, dan juga digoreng. Jangan lupa pula mencoba pensi atau mirip dengan kerang air tawar berukuran kecil. Biasanya, pensi dimasak dengan cara direbus dengan bumbu khas.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Antusiasme Luar Biasa Warga Kerinci saat Nonton Tour de Singkarak
Artikel Selanjutnya
Aksi Simpatik Dua Commissaire di Sela Kesibukan Super Ketat Tour de Singkarak