Gempa NTT M7,7: Sejumlah Hotel di Labuan Bajo Rusak

Gempa NTT terasa kuat dirasakan di sejumlah wilayah daratan Flores, termasuk Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, hingga Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Diterbitkan 15 Agustus 2026, 07:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kupang - Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8) pagi. Guncangan kuat dirasakan di sejumlah wilayah daratan Flores, termasuk Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, hingga Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Berdasarkan informasi BMKG, gempa terjadi sekitar pukul 05.58 WITA, dengan pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman sekitar 15 kilometer. Gempa tersebut juga berpotensi menimbulkan tsunami.

Di Labuan Bajo, guncangan gempa terasa cukup kuat dan membuat warga serta wisatawan panik. Sejumlah warga dilaporkan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Dampak gempa juga mulai terlihat di sejumlah bangunan. Salah satu nya Hotel Jayakarta Labuan Bajo dilaporkan mengalami kerusakan parah pada bagian lobi. Plafon lobi ambruk, sementara sejumlah bagian tembok mengalami retakan. Sejumlah tamu hotel terlihat berhamburan keluar bangunan saat gempa.

Kerusakan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai Barat. Rumah warga dan fasilitas umum di Kecamatan Boleng serta Kecamatan Kuwus Barat disebut mengalami kerusakan. Bahkan, terdapat laporan sejumlah rumah warga roboh akibat kuatnya guncangan.

Sementara di Ruteng, Kabupaten Manggarai, bangunan kampus Unika Santu Paulus juga dilaporkan mengalami kerusakan. Dinding salah satu gedung kampus disebut ambruk.

Salah seorang warga Labuan Bajo, Erwin, mengatakan warga langsung panik ketika merasakan kuatnya guncangan.

“Warga langsung berlarian keluar rumah karena gempanya cukup kuat. Kami juga khawatir karena ada informasi mengenai potensi tsunami,” ujar Erwin.

Hingga berita ini diterbitkan, jumlah pasti bangunan yang rusak dan korban terdampak masih dalam pendataan. Kondisi kerusakan juga masih menunggu verifikasi dari pemerintah daerah, BPBD, dan instansi terkait.

Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir, diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan resmi dari BMKG serta pemerintah daerah terkait potensi tsunami dan perkembangan kondisi pascagempa.

Sudah Diwanti-Wanti Ahli Ikatan Bencana Indonesia

Gempa merusak yang terjadi di Kolombia kemarin menjadi alarm tanda bahaya bagi Indonesia. Aktivitas gempa besar di seputar Cincin Api Pasifik selama 2026, hingga Agustus ini, menunjukkan konsentrasi seismisitas gempa signifikan global yang sangat tinggi. Hal itu setidaknya diungkapkan Daryono, yang juga anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), kepada Liputan6.com, Rabu (12/8/2026). 

"Hanya dalam kurun waktu kurang dari delapan bulan, telah terjadi 10 peristiwa gempa dengan Magnitudo di atas 7," katanya.

Lebih lanjut Daryono mengatakan, dari rentetan aktivitas di sputar cincin api pasifik itu, sebagian besar episentrum gempa tersebar secara eksklusif di sepanjang tepi Pasific, yang merupakan zona subduksi paling aktif di dunia akibat interaksi konvergensi antar-lempeng tektonik utama dunia.

Secara distribusi spasial, wilayah Asia Pasifik mendominasi rentetan gempa bumi besar ini, dimulai dari Gempa Utara Sabah Malaysia (M7,1 pada 22 Februari), Laut Maluku Indonesia (M7,3 pada 1 April), Japan (M7,4 pada 20 April), hingga Filipina yang mencatatkan magnitudo terbesar dalam seri ini yaitu M7,8 pada 7 Juni. Wilayah Pasifik Selatan juga menunjukkan pelepasan energi tektonik yang intensif, sebagaimana terekam pada kejadian gempa Tonga (M7,5 pada 24 Maret) dan Vanuatu (M7,3 pada 30 Maret).

Sementara itu, aktivitas seismik di sepanjang pantai barat benua Amerika memuncak pada pertengahan tahun, yang diawali oleh guncangan di Meksiko (M7,3 pada 17 Juli), disusul dua peristiwa gempa besar berturut-turut di Venezuela (M7,2 dan M7,5 pada 24 Juni).

"Kejadian paling mutakhir adalah gempa bermagnitudo M7,4 di Kolombia pada 10 Agustus 2026, yang menegaskan tingginya akumulasi stres pada Lempeng Nazca dan Lempeng Amerika Selatan," katanya.

Secara seismologi, frekuensi 10 kali gempa M7+ hingga bulan Agustus mencerminkan fase pelepasan energi tektonik global yang sangat dinamis pada batas-batas lempeng aktif. Tingginya magnitudo di atas M7,0 pada seluruh titik lokasi ini membawa implikasi risiko bencana yang signifikan, mulai dari potensi kerusakan struktural masif di daratan hingga ancaman pembangkitan tsunami lokal maupun regional di kawasan pesisir Samudra Pasifik.

"Rangkaian fenomena seismik global di atas memberikan alarm nyata bagi Indonesia, yang secara geografis berada tepat di persimpangan lempeng-lempeng tektonik utama Cincin Api Pasifik," katanya.

Kehadiran beberapa zona kekosongan gempa di zona sumber gempa (seismic gap) dan tingginya akumulasi stres pada segmen-segmen megathrust, seperti di lepas pantai Sumatera, selatan Jawa, hingga kawasan timur Indonesia, menuntut penguatan mitigasi bencana secara berkelanjutan dan terstruktur.

"Peningkatan kewaspadaan publik, evaluasi keandalan infrastruktur tahan gempa, serta penguatan pemahaman akan simulasi evakuasi mandiri dan sistem peringatan dini menjadi kunci mutlak dalam meminimalkan dampak potensi guncangan kuat di masa mendatang," katanya.

  • liputan6
    Gempa adalah peristiwa bergetar atau bergoncangnya bumi karena pergerakan atau pergeseran lapisan batuan pada kulit bumi secara tiba‐tiba.
    Gempa
  • liputan6
    Beberapa kejadian gempa bumi tercatat di Indonesia pada bulan Mei 2026, termasuk di Muna, Sulawesi Tenggara, dan Gayo Lues, Aceh, dengan magnitudo bervariasi.
    Gempa Bumi Terbaru
  • liputan6
    Informasi gempa bumi terkini di Indonesia mencakup data kejadian, lokasi pusat gempa, penyebab, fenomena gempa susulan, serta peran BMKG dalam pemantauan dan peringatan dini.
    Gempa Terkini Indonesia
  • Gempa NTT
  • Leveling Sistem
  • reg