Sukses

Mematahkan Mitos Puisi ala Joko Pinurbo

Liputan6.com, Yogyakarta - Puisi dan dunia sastra di Indonesia kembali menggeliat. Penyair Joko Pinurbo juga turun tangan dalam sebuah lokakarya penulisan puisi di Kedai JBS Wijilan Yogyakarta, Sabtu (7/9/2019).

Lewat kegiatan yang menjadi bagian dari pra-kegiatan Festival Sastra Yogyakarta itu, Joko Pinurbo tidak hanya berbagi soal teknis penulisan puisi. Ia juga mematahkan tiga mitos yang selama ini diamini dan kerap menghambat seseorang melahirkan puisi.

"Setidaknya ada tiga mitos yang harus disingkirkan sebelum memulai praktik penulisan puisi," ujar Jokpin, sapaan akrabnya.

Pertama, mitos puisi tidak bisa diedit, tidak tergantikan, dan tidak bisa disentuh oleh orang lain. Mitos itu terpatahkan, sebab layaknya karya sastra lainnya, puisi lahir dari proses.

Ia menyarankan orang membaca Hopla! karangan Chairil Anwar untuk menghapus mitos pertama ini.

Kedua, mitos puisi berkaitan dengan ilham dan ilham turun dari langit, maka untuk mendapatkan ilham harus menyepi.

"Kalau ini benar-benar dilakukan, saya jadi khawatir nanti jadi gawat, kalian bisa masuk angin dan meriang," tuturnya berkelakar.

Menurut Jokpin, ilham itu harus dijemput karena sumber utama ilham justru bumi dan kehidupan tempat pergulatan sehari-hari.

Ketiga, mitos harus menderita terlebih dulu baru bisa menulis puisi. Ia menegaskan belum pernah membaca pernyataan semacam itu dari Chairil Anwar.

Ia tidak menampik, persoalan mood kerap dijadikan alasan saat menulis puisi. Padahal tidak ada alasan tidak mood dalam dunia kepenulisan.

"Mood adalah situasi dan kondisi yang harus diciptakan sendiri, buktinya saya malah melejit dan mengalami masa subur puisi di usia 37 tahun," kata Jokpin.

2 dari 2 halaman

Diagram Pohon

Jokpin menjelaskan metode umum yang bisa digunakan saat menulis puisi. Namanya, diagram pohon.

"Metode ini terkesan ilmiah, tetapi efektif untuk dipelajari," tuturnya.

Ia memilih untuk menggunakan diagram karena selayaknya sebatang pohon,puisi pun berilham dari tanah atau dari bawah alias dari pergulatan hidup sehari-hari.

"Ini sebabnya ilham harus dijemput dan diserap, ilham tidak datang dari langit karena manusia biasa tidak bisa menjangkau langit," kata Jokpin.

Ia berpendapat konteks kekinian sangat potensial dijadikan bahan dan inspirasi penulisan puisi.

Problematika di kehidupan sosial, seperti mudah terpancing konflik, gemar bertengkar, rusaknya hubungan kasih sayang, bisa menjadi pintu masuk untuk memulai menulis puisi.

Jokpin dikenal sebagai penyair yang lihai menyulap diksi sehari-hari menjadi puisi.Diksi-diksi seperti celana, kamar mandi, asu, dan yang terbaru seperti biskuit Khong Guan, tidak jarang hadir menjadi simbol dalam bait-bait puisinya.

"Rahasianya, saya menikmati penyatuannya dengan hidup, sehingga  kentara dalam diksi-diksi yang sarat dengan rutinitas sehari-hari," ujar Jokpin.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
JVWF 2019 Jadi Bukti Ajang VW Lokal Kini Mendunia
Artikel Selanjutnya
Yogyakarta Siapkan Aturan Larangan Konsumsi Daging Anjing, Ada Sanksinya?