Sukses

Orang Terkaya Hong Kong Tulis Puisi Agar Demo Berhenti

Liputan6.com, Hong Kong - Orang terkaya Hong Kong, Li Ka-shing, akhirnya angkat suara soal demo yang telah berlangsung berminggu-minggu. Satu suara dengan para taipan lain, Li Ka-shing memilih agar muncul perdamaian.

Mengutip South China Morning Post, Sabtu (17/8/2019), Li Ka-shing pun mengutip ungkapan puitis Dinasti Tang untuk membujuk pendemo agar berhenti. Pesan itu ia cetak pada kolom iklan di beberapa koran Hong Kong, seperti Hong Kong Economic Times.

"Melon dari Huangtai tidak bisa dipetik lagi," tulis sang orang terkaya. Ungkapan itu bermakna keadaan sudah sangat buruk sehingga jangan diperparah lagi.

Bagian atas iklan di koran itu tertulis: "Niat terbaik bisa berujung pada hasil terburuk." Pada bagian bawahnya ada kata "kekerasan" yang dicoret dan di bagian bawah tertulis: "hentikan kemarahan dan kekerasan atas nama cinta."

Pada Jumat (16/8/2019), Li Ka-shing berkata keberhasilan Hong Kong terikat pada prinsip "satu negara dua sistem" yang dianut China dan Hong Kong. Tanpa menyebut secara spesifik, ia kembali menyuarakan keraguan.

"Jalan ke neraka seringnya dibangun dengan niat baik. Kita harus memikirkan konsekuensi yang tidak diniatkan," ujar sang orang terkaya melalui juru bicara.

Seperti diketahui, para pendemo asal Hong Kong sedang berunjuk rasa besar-besaran melawan pengaruh pemerintahan China. Pemimpin Eksekutif Hong Kong yang pro-China, Carrie Lam, juga dituntut mundur oleh pendemo.

2 dari 4 halaman

Tentara China Gelar Latihan Militer Skala Besar di Perbatasan Hong Kong

Ratusan tentara Tiongkok melakukan latihan militer di stadion olahraga Shenzhen, dekat perbatasan Hong Kong, Kamis, 15 Agustus 2019. Latihan militer dilakukan di tengah keprihatinan Departemen Luar Negeri Amerika yang khawatir tentara dikerahkan melintasi perbatasan di Hong Kong untuk membubarkan demonstrasi massa yang melanda kota.

Saat latihan, sejumlah tentara berseragam terlihat di stadion dan teriakan serta peluit terdengar hingga luar. Tempat parkir di stadion dipenuhi lebih dari 100 kendaraan paramiliter yang dicat gelap, termasuk truk pasukan, pengangkut personel lapis baja, bus, dan jip. Tiga di antaranya adalah kendaraan tempur beroda lapis baja, dan dua kendaraan meriam air.

"Ini adalah pertama kalinya saya melihat pertemuan (tentara) berskala besar," kata Yang Ying, seorang resepsionis di pusat kesehatan di dalam kompleks stadion, seperti dilansir euronews.com.

"Ada latihan di masa lalu, tetapi biasanya mereka melibatkan polisi lalu lintas," tambahnya. "Teman-teman kita, media sosial semuanya mengatakan itu karena demonstrasi di Hong Kong."

10 minggu konfrontasi yang semakin keras antara polisi dan pengunjuk rasa telah menjerumuskan Hong Kong ke dalam krisis terburuknya sejak ia beralih dari Inggris ke pemerintahan Tiongkok pada 1997. Demonstrasi tersebut merupakan salah satu tantangan terbesar bagi Presiden Tiongkok Xi Jinping sejak ia berkuasa pada 2012.

3 dari 4 halaman

Krisis Terburuk hingga Tekanan Pemerintah China

Hong Kong mengalami krisis terburuk setelah berlangsungnya situasi tegang antara polisi dan pengunjuk rasa selama sepuluh minggu terakhir. 

Media nasional China menyinggung perihal latihan di dalam Stadium Shenzen. Bahkan sebuah tabloid yang dikelola Partai Komunis China, menerbitkan video yang menunjukkan kendaraan-kendaraan personel mengitari kota.  

Aksi protes yang dilakukan merepresentasikan salah satu tantangan terbesar bagi Presiden China, Xi Jinping sejak ia berkuasa sebagai pemimpin di Negeri Tirai Bambu dari 2012. 

Meski demikian, Pemerintah China tidak membenarkan penempatan kendaraan militer di Shenzen terkait dengan Hong Kong. Mereka mengatakan penempatan tersebut adalah bagian dari latihan yang telah direncanakan sebelumnya. Namun, kedatangan kendaraan militer China berlangsung setelah pemerintah pusat di Beijing menyebut protes Hong Kong "disusupi terorisme".

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Suplai Alat untuk Demonstrasi Hong Kong, Pemuda Taiwan: Bersatu Kita Kuat
Artikel Selanjutnya
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Lobi Kongres AS untuk Tekan China