Sukses

Curhatan Warga Aceh Diterjang Puting Beliung Saat Asyik Menonton Televisi

Liputan6.com, Jakarta Kabut tebal menyelimuti Kampung Wih Pisam, Kecamatam Wih Pisam, Kabupaten Bener Meriah, Sabtu sore, 9 Februari 2019. Armas (45) memilih meringkuk di dalam rumah sambil menonton televisi karena di luar sedang gerimis.

Saat sedang asyik menonton, dia mendengar bunyi gaduh dan melihat atap belakang rumahnya bergerak-gerak tertiup angin. Lima menit kemudian, angin puting beliung sudah menyambar atap rumah beberapa warga di kampungnya.

Bencana angin puting beliung juga terjadi di Kampung Pante Raja, kecamatan yang sama. Belasan rumah dan sebuah menasah rusak akibat bencana yang terjadi sekitar pukul 17.00 WIB.

"Sebelumnya cuaca pada saat siang hari panas dan terik sedang memasuki sore hari cuaca mulai mendung disertai hujan gerimis," Armas bersaksi ke petugas terkait, Sabtu malam, 9 Februari 2019.

Puing-puing kayu dan material lainnya dibiarkan menumpuk di lokasi karena petugas tidak bisa membersihkan akibat hari sudah malam. Pembersihan menyeluruh akan dilakukan hari ini, Minggu (10/2/2019).

Rincian rumah rusak akibat terjangan angin puting beliung di dua kampung tersebut yakni, 10 rusak ringan, 1 rusak sedang, 2 rusak berat, ditambah sebuah menasah bernama Al-Fitrah rusak ringan. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp150 juta.

"Pengungsi masih dalam koordinasi dengan BPBD Kabupaten Bener Meriah. Tim memantau terhadap perkembangan di lapangan," terang Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) kepada Liputan6.com, Sabtu malam.

Sebagai catatan, cuaca di kabupaten itu tergolong ekstrem karena bersulih tak menentu dalam beberapa hari ini. Saat kejadian, mayoritas warga berada di dalam rumah karena di luar sedang gerimis.

Saat ini, listrik di dua kampung itu padam, dan sedang diperbaiki. Hari ini, pihak terkait berencana turun ke lokasi untuk menyalurkan bantuan kepada warga terdampak bencana puting beliung melalui kepala desa masing-masing.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Geunteut, Teror Menyeramkan bagi Bocah-Bocah Aceh Saat Petang Merembang
Artikel Selanjutnya
Dinilai Diskriminatif, Google Ralat Terjemahannya di Google Translate