Sukses

Menyapa Buaya Putih Jadi-jadian Sungai Kriyan Cirebon

Liputan6.com, Cirebon - Sungai Krian Kota Cirebon menjadi salah satu kawasan yang menjadi saksi sejarah perkembangan Cirebon. Tidak jauh dari Situs Lawang Sanga di Kampung Mandalangan Kelurahan Kasepuhan Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon.

Sungai tersebut menjadi salah satu kawasan tempat berlabuhnya kapal dari luar Cirebon. Sebab, keberadaan Lawang Sanga saat itu menjadi syahbandar dan pintu masuk tamu atau utusan kerajaan-kerajaan dari Nusantara pada zaman dulu.

Namun seiring perkembangannya, Lawang Sanga tak hanya menjadi situs bersejarah. Kawasan tersebut menyimpan mitos tentang munculnya sosok Siluman Buaya Putih di antara Sungai Krian dan Situs Lawang Sanga.

"Buaya putih tidak buas karena diyakini merupakan kutukan oleh Sultan," ujar juru Kunci Lawang Sanga Cirebon Suwari, Kamis (24/1/2019).

Masyarakat meyakini, buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan itu sebagai penjaga situs Lawang Sanga. Dia menceritakan buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan merupakan jelmaan salah seorang putra dari Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya.

Diketahui, anak dari Sultan Syamsudin yang dikutuk menjadi buaya putih bernama Elang Angka Wijaya. Elang Angka Wijaya dikutuk menjadi siluman buaya putih karena semasa di dunia dia tidak pernah patuh terhadap perintah ayahnya.

"Elang Angka Wijaya ini memiliki kebiasaan kalau makan sambil tiduran, tungkurap. Sultan selalu menasihati agar tidak seperti itu tapi kerap diabaikan. Hingga akhirnya sultan berucap anaknya kalau makan tengkurap seperti buaya. Ucapan orang dulu kan manjur," ujar dia. ‎

Sejak menjelma menjadi buaya putih, Elang Angka Wijaya hidup di lingkungan di salah satu kolam yang berada di salah satu bangunan Keraton Kasepuhan Cirebon. Namun, menginjak usia dewasa, buaya putih tersebut pindah ke kawasan Sungai Kriyan.

2 dari 2 halaman

Menampakkan Diri

Buaya tersebut dikabarkan sering menampakkan diri di hadapan warga sekitar. Bahkan, warga sudah menganggap biasa terhadap penampakan diri Siluman Buaya Putih itu.

"Di waktu tertentu makannya di kampung kami ada tradisi yang tidak bisa dilewatkan," kata Suwari.

Namun demikian, mitos mengenai buaya putih di Cirebon ini menjadi pelajaran penting dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya permintaan warga untuk menjaga dan melestarikan sungai Kriyan.

Dia mengaku, hingga saat ini, masyarakat sekitar Sungai Kriyan masih memercayai mitos buaya putih tersebut. Bahkan, ada tradisi tersendiri saat masyarakat sekitar melihat buaya putih.

"Lempar tumpengan ke sungai kalau ada masyarakat yang melihat buaya putih. Sama-sama menjaga lingkungan," kata dia.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

Loading
Artikel Selanjutnya
Angka HIV/AIDS Meningkat di Cirebon, Bupati Imron Kaget
Artikel Selanjutnya
Ironi Penambak di Cirebon Jual Garam Cuma Rp100 per Kilogram