Sukses

75 Bencana Alam Melanda Kebumen dalam Sehari

Liputan6.com, Kebumen - Kebumen adalah salah satu daerah di Jawa Tengah dengan risiko bencana alam yang tinggi. Di bagian utara, wilayah Kebumen terdiri dari pegunungan.

Pegunungan, dengan kemiringan yang tinggi, tentu rawan longsor dan banjir bandang. Apalagi, jika dipicu cuaca ekstrem. Sebaliknya, di sisi tengah dan selatan, wilayah Kebumen didominasi derah dataran rendah. Sungai-sungai dangkal, nyaris rata dengan daratan.

Selasa sore, mendadak hujan sangat lebat atau ekstrem turun di Kebumen. Tak hanya satu atau dua jam, hujan ekstrem ini mengguyur, bahkan hingga keesokan harinya, Rabu malam (16/1/2019).

Tak pelak, daerah rawan bencana alam pun terdampak. Hingga Kamis dinihari, Badan Penanggulangan Bencana Daerah mencatat ada sebanyak 75 titik bencana alam.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kebumen, Eko Widianto mengatakan bencana itu terdiri dari bencana banjir, longsor dan angin kencang.

Bencana tanah longsor terjadi di 22 desa di sembilan kecamatan wilayah Kabupaten Kebumen. Banjir di 20 desa sembilan kecamatan, sedangkan angin kencang dan puting beliung melanda 15 desa di 13 kecamatan.

“Teridentifikasi ada 75 titik, terdiri dari banjir, longsor dan angin kencang yang sampai menyebabkan pohon tumbang dan rumah rusak,” katanya, Kamis, 17 Januari 2019.

Dari keseluruhan wilayah yang terdampak bencana alam berupa longsor, banjir dan angin kencang, kecamatan Kebumen wlayah timur adalah daerah yang paling parah. Di antaranya, Desa Sumberadi, Roworejo dan Seruni.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Dampak Terparah Bencana Alam Kebumen

Di tiga desa tersebut, ribuan rumah terendam. Akibatnya, ratusan warga mengungsi. Selain itu, ribuan hektare tanaman padi berusia sekitar satu bulan setelah tanam juga terendam.

“Ya kalau untuk permukiman paling terdampak di wilayah Kecamatan Kebumen,” dia mengungkapkan.

Mulai Rabu malam dan hari ini, BPBD mendirikan dapur umum dan posko kesehatan di sejumlah wilayah yang terdampak banjir dan menyebabkan warganya mengungsi.

Di luar Kecamatan Aliyan, pengungsian juga terjadi Desa Rangkah Buayan, Purwodadi Kecamatan Kuwarasan, Sugihwaras Kecamatan Adimulyo.

Selain penanganan paska-bencana, BPBD Cilacap hari ini juga tengah mempersiapkan peralatan serta relawan untuk dikerahkan untuk memperbaiki sejumlah tanggul sungai yang jebol.

“Hari ini kita masih membantu yang kemarin kesulitan untuk memasak, kita mendirikan dapur umum masih jalan. Serta mempersiapkan penanganan tanggul sungai yang jebol,” dia menerangkan.

Akan tetapi, perbaikan tanggul tak dilakukan hari ini, melainkan mulai besok. Sebab, debit air masih tinggi, baik di permukiman maupun pada sungainya. Karenanya, BPBD masih fokus untuk penanganan korban bencana alam.

Hingga hari ini belum diperoleh angka pasti jumlah kerugian yang dialami akibat bencana alam ini. Namun, dia memastikan jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah.

“Belum, datanya belum masuk semua. Kita masih akan rapatkan,” dia menambahkan.

Gara-Gara Dering Telepon, Suami Tega Bunuh Istri

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Bagaimana Menata Industri Pariwisata Indonesia yang Rentan Bencana?
Artikel Selanjutnya
Dari Merapi hingga Selatan Sunda, Dampak Bencana Alam bagi Pariwisata