Sukses

3 Olahan Singkong Fantastis di Sumatera Barat

Liputan6.com, Sumatera Barat Bicara mengenai makanan tradisional Suamtera Barat, memang tidak ada habisnya. Selain Randang yang telah mendunia, daerah Minang Kabau ini juga memilki berbagai kuliner berbahan baku ubi kayu (singkong).

Di Sumatera Barat, singkong sangat mudah ditemuka, tumbuhan ini banyak ditemui di sekitar rumah warga. Tidak diperlukan perawatan khusus untuk menanamnya, selain daunnya yang dapat dijadikan sayur, singkong sendiri dapat diolah menjadi berbagai makanan yang lezat.

Berikut makanan tradisional Sumatera Barat berbahan baku singkong, yang kerap diburu wisatawan lokal dan mancanegara.

Kacimuih

Jajanan tradisional ini berbahan dasar singkong dan kelapa . Singkong parut yang direbus ditaburi kelapa parut serta gula di atasnya. Terdapat pilihan dalam menikmati kacimuih, bisa menggunakan gula pasir putih ataupun gula merah.

Cara membuat kacimuih pun terbilang sederhana, parut kasar singkong yang telah dibersihkan kemudian dikukus. Setelah matang, taburi dengan parutan kelapan yang telah dicampur gula pasir atau gula merah.

Kacimuih dapat disajikan dengan berbagai bentuk di antaranya, ditaruh di dalam piring tanpa ditata. Dibulatkan seperti bola-bola sebesar genggaman tangan.

Meskipun terlihat sederhana, Kacimuih ini ternyata mengandung berbagai macam gizi, yaitu serat megnesium, vitamin C, dan asam lemak. Singkong dan parutan kelapa juga dapat memperlancar metabolisme dalam tubuh serta menambah energi.

Salah seorang pelajar SMA di Kota Bukittinggi Luthvia Nabila menuturkan, kantin sekolahnya masih menjual kacimuih, namun telah divariasikan. “Ada yang ditaburi, meses, parutan keju” kata Luthvia.

 

 

 

 

2 dari 3 halaman

Singkong Berbungkus Daun Pisang

Lapek Ubi

Lapek (Lepat) identik dengan makanan kukus yang dibungkus dengan daun pisang. Di Ranah Minang terdapat berbagai jenis lapek dengan bahan baku yang berbeda, salah satunya Lapek Ubi. Makanan kukus ini terbuat dari singkong.

Pengolahannya terbilang cukup mudah, bahan- bahan pendukungnya pun tidak susah didapat. Bahan-bahan yang dibutuhkan yaitu singkong, gula merah, kelapa parut, daun pandan, garam dan daun pisang sebagai pembungkus adonan.

Parut singkong hingga halus, bubuhi garam secukupnya kemudian diaduk merata. Gula merah dipotong dadu dan taruh kelapa parut di wadah yang berbeda. Daun pisang yang telah disiapkan di potong sama besar.

Adonan singkong diletakkan di atas daun pisang, masukkan satu keping gula merah berbentuk dadu dan kelapa parut di tengah-tengah adonan, di atasnya taruh potongan daun pandan . Lipat daun pisang dengan rapi kemudian kukus lebih kurang 30 menit.

Lapek ubi sangat enak dinikmati saat hangat, dijadikan teman minum kopi oleh masyarakat Sumatera Barat.

Salah seorang penjual Lapek Ubi di kawasan Kota Bukittinggi, Syamsiar mengatakan lapek ubi banyak dicari wisatawan. “Lapek ubi selalu dicari orang di sini, bule juga sering beli lapek ubi ke saya,” ujar wanita paruh baya yang telah 20 tahun menjual lapek ubi di kawasan ini.

3 dari 3 halaman

Kue Angka Delapan

Karak Kaliang

Cemilan bewarna kuning ini lebih dikenal dengan sebutan “kue angka delapan,” karena memang bentuknya menyerupai angka delapan. Menjadi dagangan wajib di toko oleh-oleh khas Sumatera Barat.

Teksturnya yang renyah sangat cocok disantap saat bersantai dan juga sebagai teman makan nasi. Pembuatan karak kaliang terbilang cukup sulit, melalui beberapa tahapan. Singkong yang di parut halus, hasil parutan diperas hingga terpisah air dari sari patinya.

Sari pati dikeringkan beberapa hari hingga menyerupai tepung. Tepung tersebut dimasak dengan air hingga menjadi seperti lem, masukkan bumbu halus dan ampas ubi yang telah diperas sebelumnya. Cetak sesuai keinginan dan goreng pada minyak  yang telah dipanaskan, sambil terus diaduk agar karak kaliangnya masak merata.

Salah seorang penjual karak kaliang di Pasar Banto Bukittinggi, pemiliki Toko Sanjai Amak menyatakan, daya tarik karak kaliang terdapat pada warnanya. “Kuningnya harus pas, jangan terlalu pekat dan jangan sampai pucat,” jelasnya.

Miftahul Jhannah

Artikel Selanjutnya
Berwisata Menapaki Ribuan Anak Tangga di Bukittinggi
Artikel Selanjutnya
Cerita Tiga Batu Ajaib di Batusangkar