Sukses

Kisah Pria Cilacap yang Nyaris Tewas Usai Mengonsumi Miras Oplosan Maut

Liputan6.com, Cilacap - Rumah bercat kuning itu tampak sepi. Pintu tertutup, terkunci rapat-rapat. Ini adalah kediaman salah satu korban selamat dalam tragedi miras oplosan berujung maut di Majenang Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Di depan rumah, terparkir minivan tua warna biru tua yang tak terlalu terawat. Ban sebelah kiri mobil bernomor polisi Jakarta itu sedikit kempis.

Seorang perempuan setengah baya tergopoh-gopoh keluar. Dia Suwanti (49), istri korban selamat miras oplosan maut Cilacap, Sugeng Prabowo (55). Lantas, kami pun masuk ke ruang tamu.

Sejujurnya, kami sedikit pesimisTIS. Dikhawatirkan, Sugeng maupun kEluarganya enggan diwawancara. Namun, melihat raut muka sumringah Suwanti, perlahan kekhawatiran itu luruh.

Barangkali, Minggu ini adalah salah satu hari yang paling membahagiakan bagi Suwanti. Suaminya selamat dari maut usai menenggak miras oplosan usai dua hari dirawat.

Pasalnya, pada malam pertama Sugeng dirawat, Kamis, tiga rekan suaminya meregang nyawa akibat miras oplosan di ruang IGD RSUD Majenang, Cilacap.

2 dari 4 halaman

Kronologi Pesta Miras Oplosan Berujung Maut

"Nanti ya, sebentar lagi, bapak masih tiduran. Masih pusing, Mas," dia mempersilakan kami duduk di ruang tamu, Minggu sore, 29 April 2018.

Tak lama kemudian, pria setengah baya keluar dari ruang utama. Perawakannya tinggi besar. Ia pun tampak ramah, meski sedikit-sedikit masih mengernyitkan dahi menahan sakit. Ia memakai jaket tebal di tengah panas yang begitu menjerang.

Sugeng, sebelumnya dirawat di RSUD Majenang sejak Kamis, usai menenggak miras oplosan di rumah salah satu rekannya di Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI), Sakti, warga Jenang Kecamatan Majenang.

Rabu siang, seperti biasanya, Sugeng memarkir kendaraan di Terminal Pasar Induk Majenang (PIM). Mendadak, datang karibnya, Ibeng yang mengajaknya ke rumah rekan lainnya, Sakti, di Desa Jenang, untuk menyelesaikan sebuah masalah di organisasi SPTI.

Saat itu, Ibeng juga mengulungkan uang Rp 100 ribu untuk membeli miras. Maka, Sugeng pun menambahi Rp 100 ribu. Sesampai di rumah Sakti, hasil patungan rekan lain, total terkumpul Rp 300 ribu.

Uang itu lantas dibelikan delapan botol miras merk Javanese Vodka dan minuman kemasan merk Tebs empat kaleng. "Dicampur Tebs karena baunya sengar, nggak enak," ucap Sugeng.

 

3 dari 4 halaman

Pusing dan Mual Dikira Masuk Angin

Secara berurutan, tiba rekan yang lain, sehingga total berjumlah tujuh orang, yakni Sakti, Ibeng, Slamet, Teguh, Amak, Adi dan Sugeng sendiri. Mereka pun menikmati miras oplosan yang akhirnya berujung maut itu.

Seperti tak terjadi apa-apa, Sugeng sempat balik badan ke terminal pasar dan lantas pulang ke rumahnya. Tengah malam, miras oplosan itu rupanya mulai bereaksi. Sugeng mulai merasa sedikit pusing dan mual.

Saat itu, ia menduga kena masuk angin. Maka, ia pun minta kerokan ke istrinya. Tetapi, keesokan harinya, beranjak siang, bukannya membaik tubuhnya justru lemas lunglai. Ia pun libur kerja.

SelepaS Lohor, sekitar jam 13.00 WIB, kondisinya mulai memburuk. Kepala pusing, perut mual, diare dan pandangan mata, kabur.

Suwanti pun lantas memaksa suaminya ke RSUD Majenang. Ia khawatir, terjadi apa-apa dengan suaminya.

Sesampai di RSUD, rupanya, sudah ada tiga rekan suaminya yang sama-sama dirawat. Mereka adalah Sakti, Ibeng dan Amak. Lantas, datang lagi satu rekan lainnya, Sugiyanto. Mereka bersama-sama menggak miras oplosan di rumah Sakti, pada Rabu siang.

 

4 dari 4 halaman

Harapan Suwanti dan Sugeng Usai Lolos dari Miras Oplosan Maut

Kamis malam, RSUD Majenang penuh hiruk pikuk. Tiga orang penenggak miras oplosan meninggal dunia. Dan itu, menjadi luka traumatik untuk Suwanti.

"Di sebelah suami saya itu ada Ibeng. Kasihan sekali, sepertinya sakit sekali sewaktu meninggal dunia," Suwanti menuturkan.

Adapun suaminya, saat itu mengalami sesak nafas. Sesekali, suaminya tersedak dan muntah. Suaminya juga berkali-kali buang air besar dan kencing.

Sugeng pun, antara sadar dan tidak, diliputi rasa khawatir. Ia takut dicabut nyawanya sebelum benar-benar tobat. Ia prihatin, sekaligus takut luar biasa.

"Saya tobat, tidak akan mengulang lagi. Saya pesan juga kepada rekan-rekan jangan minum (miras) lagi. Bahaya," Sugeng menambahkan.

Sebelumnya, lima orang meninggal dunia usai menenggak miras oplosan di Jenang Kecamatan Majenang. Tiga korban meninggal pada Kamis malam dan Jumat pagi. Dua korban lainnya meninggal pada Sabtu malam.

Tiga korban yang meninggal Kamis dan Jumat adalah Ahmad Haryanto alias Amak (27), Sugiyanto (33), dan Ibeng (47). Adapun dua korban terakhir adalah Harin Mulyono (42) dan Teguh Haryanto (45).

Namun, seperti diakui oleh Sugeng, satu korban yang meninggal pada Sabtu malam, Harin Mulyono (42) alias Jebres bukan lah orang yang bersamanya menenggak miras oplosan. Yang saat itu ikut pesta miras oplosan adalah Teguh Haryanto.

Saksikan video menarik di bawah ini:

Loading