Sukses

Waspada, Wabah Difteri Belum Berlalu

Liputan6.com, Garut - Sebanyak tiga warga Garut, Jawa Barat, terjangkit penyakit yang diduga difteri. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut, masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyakit mereka.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Garut, dr Janna Markus Yajariawati, mengatakan ketiga pasien yang diduga menderita difteri itu masih menjalani perawatan secara intensif.

"Jika dilihat secara klinis sudah menjauhi gejala difteri, makanya masih suspect (terduga)," ucap Janna, di Kantor Dinkes Garut, Jumat, 15 Desember 2017.

Sejauh ini, ia belum memastikan secara detail ihwal penyakit ketiga pasien tadi. Namun, salah satu pasien yang diduga menderita difteri masih satu kampung dengan Aidah, pasien difteri asal Kecamatan Pakenjeng yang meninggal dunia, pada Minggu, 10 Desember 2017.

Sementara, dua pasien lainnya berasal dari Kecamatan Kadungora, Tarogong Kaler. Untuk itu, lembaganya terus memantau para pasien, termasuk keluarga mereka yang sempat bertemu langsung dengan pasien.

Ketiga pasien itu ditangani sejumlah dokter dalam ruangan khusus yang telah disediakan. Mereka mendapatkan perawatan intensif, mulai dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), dokter penyakit dalam, hingga dokter anak.

Jika para pasien itu sudah diperbolehkan pulang, Dinkes Garut tetap bakal melakukan pemantauan. "Antisipasi perlu dilakukan biar bisa dicegah," ujar Janna.

Sedangkan antisipasi lainnya, yakni dengan membuat surat edaran ke rumah sakit dan seluruh puskesmas agar waspada terhadap gejala difteri.

Untuk memastikan gejala penyakit ketiga pasien tadi, Dinkes Garut telah mengirim uji apus tenggorokan dan hidung ke Balai BLK Bandung. Namun, hasil laboratorium belum diketahui dalam waktu singkat, minimal satu pekan ke depan.

Ketiga pasien terduga difteri itu kondisinya sudah membaik. Asumsi suspect itu dari gejala klinis. "Kami lihat gejala-gejala difteri seperti adanya demam dan leher membesar seperti leher sapi sudah tidak ada," katanya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Liputan6.com, ketiga pasien terduga difteri itu adalah SR (perempuan 15 tahun) asal Kampung Palatar, Pakenjeng, JU (perempuan 18 tahun) asal Kadungora, dan CH (perempuan 68 tahun) asal Cimangaten Tarogong Kaler.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

1 dari 7 halaman

12 Kasus Difteri di Garut

Di Kabupaten Garut, selama 2017, ada 12 kasus difteri. Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya meninggal dunia. Dinkes Kabupaten Garut pun masih menunggu pemberian vaksin yang rencananya dilakukan tahun depan.

Nantinya imunisasi akan diberikan kepada warga usia satu sampai 19 tahun yang jumlahnya sekitar satu juta orang. Menurut Janna, Dinkes Garut masih menunggu logistik dari provinsi dan Kementerian Kesehatan atau Kemenkes untuk pemberian vaksin.

Selama 2017, Dinkes Garut menemukan 12 kasus difteri yang tersebar di beberapa kecamatan. Mulai dari Sukaresmi, Cibatu, Cihurip, Garut Kota, Bayongbong, Sukawening, Cisurupan, Pamulihan, Bungbulang, dan Cikajang.

Total tiga warga Garut meninggal dunia akibat wabah itu. Meskipun demikian, hingga kini, upaya pemberian vaksin untuk masyarakat dari pemerintah pusat belum dilakukan. Baru tingkat petugas RSUD yang telah mendapatkan upaya pencegahan tersebut.

Pegawai RSUD Garut Divaksin Difteri

Sebelumnya, sebanyak 1.200 orang pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Slamet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, telah mendapatkan vaksin difteri untuk mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut.

Juru bicara RSUD dr Slamet, Lingga Saputra, mengatakan pemberian vaksin itu cukup tepat sebagai bentuk pencegahan penyakit bagi pegawai, terutama dokter dan perawat karena sering bertemu pasien.

Apalagi, pada Minggu 10 Desember 2017, seorang pasien RSUD dr Slamet, Aidah (32), meninggal dunia setelah didiagnosis menderita difteri. "Makanya sejak hari Senin kemarin sampai Jumat besok kami lakukan vaksin ke para pegawai," ujarnya, Kamis, 14 Desember 2017.

Meskipun semua karyawan diwajibkan untuk diimunisasi. dalam praktiknya mereka dibagi dua agar tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat. "Sebagian bekerja, sebagian lagi diimunisasi, apalagi suntik vaksinnya juga tidak lama," kata dia.

2 dari 7 halaman

Gubernur Banten Larang Rumah Sakit Tolak Pasien Difteri

Sementara itu, setiap rumah sakit yang ada di Provinsi Banten harus siap menerima pasien difteri dan tak boleh ada yang menolaknya.

"Masing-masing puskesmas sudah vaksinasi sekarang jalan, rumah sakit juga sudah saya bilang suruh buka untuk melayani mereka," ujar Gubernur Banten, Wahidin Halim, di Kota Serang, Jumat, 15 Desember 2017.

Sejak 10 Desember 2017, Pemerintah Provinsi (Pemprov Banten) telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di Bumi Jawara. Sebab, hingga Kamis malam lalu, sepuluh penderita difteri meninggal dunia.

"Kita memang sangat prihatin dengan yang meninggal. Sudah (ditetapkan KLB), sejak hari Minggu lalu kita sudah mendapatkan status dari kabupate/kota," terangnya.

Kemudian, pada Senin, 11 Desember 2017, Pemprov Banten melakukan imunisasi serentak mulai dari rumah sakit hingga puskesmas.

Meski telah berstatus KLB, Wahidin belum menggunakan Dana Tidak Terduga (DTT) yang ada. Pasalnya, dana kesehatan dan obat-obatan maupun vaksinasi masih tersedia untuk mengobati pasien difteri.

"Masih cukup stoknya untuk melayani masyarakat," ujar Gubernur Banten.

3 dari 7 halaman

RS Adam Malik Medan Rawat 2 Pasien Difteri

Difteri menjadi salah satu penyakit yang banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia, belakangan ini. Sebab, penyakit yang tergolong menular ini banyak merenggut nyawa para penderitanya.

Di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, Jalan Bunga Lau, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara, dua pasien penderita difteri menjalani perawatan. Kedua pasien berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

"Saat ini kedua pasien sedang dalam perawatan di Ruang Khusus Infeksius Menular," kata Kepala Instalasi Rawat Inap RSUP Haji Adam Malik, dokter Mahyu Daniel, Kamis, 14 Desember 2017.

Ia menyebutkan, pasien pertama berinisial NM berjenis kelamin perempuan. Pasien berusia 15 tahun ini merupakan warga asal Kisaran, Kabupaten Asahan. Sementara, pasien kedua berinisial SM berjenis kelamin laki-laki, berusia 12 tahun, merupakan warga asal Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan.

"Kedua pasien masuk melalui IGD pada 11 Desember dan 12 Desember lalu," katanya.

Mahyu menjelaskan, pasien bernama SM awalnya menyampaikan berbagai macam keluhan seperti demam dengan suhu tubuh 37,8 derajat Celsius, sulit menelan makanan, dan terdapat selaput putih pada tonsil kanan. Sementara, NM mengeluh sulit menelan, terdapat selaput putih pada pangkal tenggorokan.

"Untuk NM tidak mengalami demam, namun suhu tubuh 36,8 derajat," ujarnya.

Saat ini tindakan yang sudah dilakukan RSUP H Adam Malik terhadap kedua pasien berupa pemberian terapi cairan, antibiotik, dan obat demam. Juga dilakukan swab tenggorokan, cek laboratorium, foto toraks serta pemberian serum antidifteri.

"Kondisi terkini kedua pasien sudah mulai membaik dan kemungkinan dua hari ke depan sudah bisa pulang," terang Mahyu.

Di tahun ini, pasien penderita difteri tidak hanya NM dan SM. Tim Medis RSUP H Adam Malik juga sempat merawat dua pasien yang masing-masing berusia 15 tahun pada Januari lalu. Kedua pasien tersebut berasal dari Deli Serdang dan Kota Langsa.

"Setelah sembuh, keduanya diperbolehkan pulang," kata Kassubag Humas RSUP H Adam Malik, Masahadat Ginting.

4 dari 7 halaman

Dinkes Sumut Kirim Surat Edaran

Pemerintah Provinsi Sumut melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengirim surat edaran ke kabupaten/kota untuk menyikapi terjadinya kasus difteri. Dinkes meminta kabupaten/kota bersama puskesmas segera melakukan penyelidikan epidemiologi bila diduga terjadi difteri.

Bila ada difteri, Dinkes Sumut menyarankan segera melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) di wilayah puskesmas/kecamatan yang merupakan lokasi terjadinya difteri. "ORI dilakukan tiga kali tanpa memandang status imunisasi," kata Kadis Kesehatan Sumut, Agustama.

Kabupaten/kota juga diharapkan meningkatkan cakupan imunisasi, termasuk imunisasi difteri secara merata di seluruh wilayah kerja dinas kesehatan masing-masing dengan target lebih dari 90 persen.

Menyikapi terjadinya peningkatan difteri, warga dianjurkan memeriksa status imunisasi masing-masing untuk mengetahui apakah sudah lengkap atau belum, sesuai jadwal dan umur. "Jika belum lengkap, agar dilengkapi," ujarnya.

Warga diimbau pula menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehari-hari dengan memakai masker bila sedang batuk-pilek. Termasuk, berobat ke pelayanan kesehatan terdekat bila merasa ada gejala difteri dan melaporkan ke puskesmas terdekat jika mengetahui ada seseorang yang menunjukkan gejala difteri.

"Kemudian mematuhi petunjuk minum obat antibiotika bagi kontak kasus difteri dan kasus carrier difteri," Agustam menandaskan.

Difteri merupakan penyakit sangat menular dan disebabkan oleh kuman Corynebacterium diptheriae yang menyerang faring, laring atau tonsil. Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam sekitar 38 derajat Celsius.

Munculnya pseudomembran di tenggorokan berwarna putih keabu-abuan dan tak mudah lepas serta mudah berdarah, sakit waktu menelan, serta leher membengkak seperti leher sapi (bullneck,) akibat pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Selain itu, terjadi pula sesak napas disertai suara mendengkur (stridor).

Terkait hal ini, Dinkes Sumut sudah meminta Anti Serum Difteri (ADS) ke Kemenkes sebanyak 20 vial untuk stok. Mengenai specimen pasien suspect difteri di RSUP H Adam Malik, satu specimen sudah mereka kirim ke Litbangkes Kemenkes.

"Untuk specimen kedua, sudah diambil dan hari ini (Kamis, 14 Desember 2017) dikirim ke Litbangkes," katanya.

Hasil specimen biasanya keluar tiga sampai lima hari. "Kondisi kedua pasien semakin membaik," Agustama menandaskan.

5 dari 7 halaman

Imunisasi di Sumbar

Adapun capaian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Sumatera Barat, dari Januari hingga November 2017, sebanyak 71,9 persen atau turun tujuh persen dari tahun 2016 yang tercapai 78,9 persen.

"Tapi, ini baru data sampai November. Dan masih ada enam kabupaten dan kota yang belum mengirim laporannya," ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Merry Yuliesday, kepada Liputan6.com, Selasa, 12 Desember 2017.

Merry optimistis capaian target imunisasi di Sumbar, melebihi tahun 2016. Sebab, masih ada satu bulan lagi yang sedang gencar dilakukan sosialisasi imunisasi. Namun, capaian Sumbar ini di bawah capaian nasional yang menetapkan target capaian imunisasi sebanyak 91,5 persen.

Merry belum berkomentar terkait rendahnya capaian imunisasi dibandingkan nasional. Untuk mencapai target, ia akan menggenjot capaian imunisasi di bulan Desember.

Imunisasi ini, sebut Merry, sangat penting untuk mencegah penularan difteri yang sedang marak terjadi di Tanah Air. Di Sumbar sendiri, sudah ada dua kasus positif difteri dan satu orang meninggal di Pasaman Barat.

"Imunisasi ini memberi imun untuk meningkatkan daya tahan tubuh bayi, balita, dan anak, sehingga tidak mudah terinfeksi," ucapnya.

Kepada warga, ia mengingatkan, bila ditemukan gejala demam, batuk, pilek, sesak napas disertai membran pada mukosa hidung atau tenggorokan (pseudo membran) segeralah ke puskesmas terdekat.

Bagi petugas harus segera merujuknya ke rumah sakit daerah dengan ditangani spesialis anak. "Jika dokter spesialis anak menganggap susfect difteri, maka segera rujuk ke RS M Djamil Padang. Anak harus dirawat di ruang ICU Isolasi," ujarnya.

6 dari 7 halaman

2 Warga Terduga Difteri Dirujuk ke RS di Semarang

Difteri juga mewabah di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dua warga diduga terjangkit difteri. Namun, dua orang tersebut sudah dirujuk ke Rumah Sakit Kariyadi dan Rumah Sakit Tlogorejo, Semarang.

"Ada orang suspect difteri, tapi karena periksanya di RSI Kendal, sehingga langsung dirujuk ke Semarang, untuk perawatan lebih lanjut," ucap dokter Tan Evi Susanti, saat ditemui Di RSUD Kalisari, Batang, Selasa, 12 Desember 2017.

Dari dua orang tersebut yang suspect difteri semuanya laki-laki dengan usia 15 dan enam tahun. Pasien suspect difteri berasal dari Kecamatan Gringsing dan Banyuputih.

Ia menyebut, dengan kejadian kasus terduga difteri tersebut, RSUD Kabupaten Batang memberikan bimbingan teknis tata laksana Kejadian Luar Biasa (KLB) kepada paramedis yang ada di lingkungan RSUD.

RSUD Kalisari Siap Tangani Pasien Difteri

Sementara itu, Direktur RSUD Kalisari, Batang, dr Junaidi menjelaskan, untuk penanganan penyakit difteri, RSUD sudah siap siaga. Terutama, bila ada pasien yang terduga hingga didiagnosis terjangkit difteri.

Bila ada ditemukan pasien difteri menjadi Kejadian Luar Biasa. "Untuk itu kita menyiapkan semua tenaga. Kami tidak menolak pasien dan siap menangani dengan peralatan yang kita persiapakan," ucap dokter Nur Hidayati.

RSUD Kalisari, Batang, Jawa Tengah, sudah menyiapkan ruang isolasi atau kamar khusus untuk pasien difteri. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

RSUD Kalisari, Batang, sudah menyiapkan ruang isolasi atau kamar khusus untuk pasien difteri. "Kamar sangat tenang, tidak banyak lalu lalang pengujung rumah sakit dan sirkulasi udara sangat baik dan pencahayaannya juga sangat terang," tuturnya.

Di RSUD Kalisari Batang, kata dia, untuk saat ini belum ada pasien yang terkena penyakit difteri. Namun, ada dua orang diduga difteri, kebetulan mereka berada di wilayah Batang sebelah timur atau di Kecamatan Gringsing.

"Mereka berdua langsung dirujuk ke Semarang yang sudah dipastikan sudah siap untuk menangani penyakit tersebut," dia memungkasi.