Sukses

Cilacap Dikepung Banjir, 3 Sekolah di Kawasan Bencana Tetap Buka

Liputan6.com, Cilacap – Sebanyak 14 desa di lima kecamatan, Kabupaten Cilacap, terendam banjir. Rendaman terparah terjadi di Desa Sidareja dan Gunungreja. Sekitar 300 rumah di antaranya terendam dengan ketinggian mencapai 90 sentimeter di dalam rumah.

Seperti tabiat daerah pasang surut, banjir rendaman tak cepat surut. Kadang berhari-hari, seringkali pula lebih dari sepekan. Lantas, bagaimana anak-anak sekolah mengisi harinya di tengah banjir itu?

Selasa, 17 Oktober 2017, Mayang (11) dan teman-temannya asyik bermain di sebelah selatan Alun-alun Sidareja. Mereka menyeberang saling bergandengan. Berkali-kali mereka melakukan itu sampai bosan.

Lantas, mereka pun mulai menjajal keberanian dengan masuk ke wilayah rendaman. Saling berpegangan tangan, mereka girang bukan kepalang.

Ketika itu, jam menunjukkan pukul 11.00 WIB siang. Alih-alih belajar di dalam kelas, mereka justru bermain di sebelah utara sekolah yang jaraknya dari alun-alun hanya dibatasi jalan lingkar selebar 10 meter.

"Sedang istirahat. Kosong pelajaran," kata siswa SD Negeri 1 Sidareja ini.

Mayang tinggal di Kauman, Desa Gunungreja, Kecamatan Sidareja, yang terendam banjir. Rumahnya memang masih luput dari banjir. Namun, ketika berangkat sekolah, ia harus diantar orangtuanya.

Begitu pula saat pulang, ia harus dijemput. Selokan-selokan di kanan kiri jalan membuat orangtua khawatir.

Di wilayah ini, setidaknya ada tiga sekolah yang dikepung banjir. Air tak sampai masuk ke dalam kelas, tetapi hanya merendam halaman sekolah.

Berbeda dengan Mayang yang tetap bersekolah, Adinda Nur Ayuni (15) memilih membolos. Siswi kelas X sebuah SMK di Sidareja itu terpaksa mengungsi bersama puluhan warga Dusun Cibenon lainnya. Musababnya, rumahnya di Dusun Cibenon, Desa Sidareja terendam banjir. Ia mengaku kerepotan kala mempersiapkan baju sekolah.

Kepala UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidareja, Agus Murtanto mengakui, banjir yang melanda Kecamatan Sidareja menyulitkan siswa SD dan SMP yang ada di sana.

Mereka harus menerjang banjir untuk bisa ke tempat belajar karena jalan tergenang. Di beberapa bagian yang dalam, anak-anak mesti digendong orang yang mengantar.

Menurut Agus, dari tiga desa yang terendam, yakni Desa Sidareja, Gunungreja dan Sidamulya, tidak ada satu pun sekolah yang meliburkan siswanya. Kegiatan belajar mengajar dilakukan seperti biasa karena genangan banjir hanya sampai ke halaman sekolah.

Dinas Pendidikan akan mengambil sikap jika genangan sudah masuk ke ruang belajar. Siswa akan diminta belajar di rumah mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan siswa.

"Kalau air sampai masuk kelas, siswa kita minta belajar di rumah. Bukan diliburkan. Kalau tetap masuk kasihan anak-anak. Bisa-bisa malah kena sakit," kata Agus.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading