Sukses

Dilema Pendidikan Formal dan Masa Depan Orang Rimba

Liputan6.com, Jambi - Berdasarkan catatan dan pendataan KKI Warsi Jambi 2010 lalu, populasi Orang Rimba Jambi mencapai hampir 5.000 jiwa.

Keberadaannya menyebar di beberapa kawasan hutan di daerah itu seperti TNBD (1.700 jiwa), Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) (500 jiwa) dan sebagian lainnya berada di sepanjang jalur lintas Sumatra sekitar 1.500 jiwa.

Keberadaan warga Rimba makin terdesak oleh pembukaan lahan baik secara perorangan maupun perusahaan. Tak jarang, beberapa kali terjadi konflik antara kelompok orang rimba dengan masyarakat maupun perusahaan. Maka itu, mereka membutuhkan pendidikan sebagai penyangga kehidupan.

Kemampuan Anak Rimba menyerap pendidikan tidak kalah dari anak-anak di luar hutan. Sasa, salah satu fasilitator pendidikan KKI Warsi yang ada di kawasan TNBD mengatakan, Beteguh merupakan salah satu Anak Rimba yang memiliki kemampuan akademik menonjol di sekolahnya.

Sejak berada di tingkat SD, Besudut kerap mendapat ranking 1 dan menerima berbagai penghargaan di sejumlah perlombaan.

Karena kemampuannya yang menonjol, Beteguh dijadikan kader pendidikan (guru rimba) bagi sedikitnya 50 anak rimba yang tinggal di dalam hutan TNBD.

Meski begitu, untuk mengajak anak-anak Rimba bisa belajar membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.

"Anak Rimba tidak bisa dipaksa atau disanksi seperti anak pada umumnya, mengingat kebiasaan anak Rimba hidup bebas di dalam hutan. Untuk itu, kami selalu memberikan masukan dan bujukan bagaimana pentingnya sekolah untuk kehidupan yang akan datang," jelas Sasa.

Ia menyebutkan, dalam proses pendampingan KKI Warsi selama kurang lebih 15 tahun, sudah ada sekitar 400 anak-anak Rimba Jambi yang sudah bisa membaca dan menulis.

Proses itu menunjukkan perjuangan keras yang harus dijalani mengingat adat istiadat kerimbaan yang sangat melekat dan dipegang teguh masyarakat Rimba.

Untuk itu, Sasa berharap pemerintah lebih memperhatikan hak anak-anak rimba untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Meski sudah tersedia fasilitas belajar berupa kelas jauh atau sekolah satu atap, khususnya di Pemkab Sarolangun, jumlahnya masih belum cukup. Begitu pula dengan jumlah tenaga pendidik Anak Rimba.

"Begitu juga dengan metode ujian nasional. Sebagian besar anak-anak Rimba kesulitan dalam memahami soal karena kendala bahasa. Kami ke depan akan mendorong adanya metode bahasa soal UN bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Rimba," kata Sasa.

2 dari 2 halaman

Serba Terbatas

Kepala Sekolah Satu Atap di Kecamatan Pematang Kabau, Kabupaten Sarolangun, Sutrisno mengatakan, selama ini ia masih mengandalkan kader pendidikan, salah satunya Beteguh, untuk menjangkau anak-anak Rimba yang belum bisa berbaur dengan anak-anak pada umumnya. Mereka bertanggung jawab menjadi guru di kelas jauh yang digagas sejak 2012.

"Kelas jauh ini dilakukan tiga hari dalam sepekan," ucap Sutrisno.

Kelas jauh ini bukan tanpa kendala. Tempat tinggal Orang Rimba yang terpisah-pisah serta kebiasaan melangun (mengembara) menjadikan anak-anak Rimba terkadang sulit ditemui untuk diajak belajar. Kendala lainnya adalah faktor kesulitan ekonomi yang dihadapi siswa Anak Rimba.

"Karena kebiasaan orangtua Anak Rimba, yakni apabila anaknya dinilai sudah dewasa dan bisa mencari nafkah sendiri, maka orang tua melepaskan tanggung jawabnya secara ekonomi," ujar Sutrisno lagi.

Untuk itu, Sutrisno beberapa kali menyarankan kepada Pemkab Sarolangun agar bisa memberikan lapangan kerja khusus bagi anak Rimba agar bisa memperoleh pendapatan secara ekonomi untuk menopang kehidupannya.

"Bisa saja dengan membuka kebun dan dirawat oleh anak anak rimba. Sehingga, anak rimba bisa memenuhi kebutuhan hidupnya agar tetap bersekolah," ia menerangkan.

Pernyataan senada disampaikan Kepala SDN 191 Ade Irma Suryani yang berlokasi di Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Sekolah yang kini menampung 128 Anak Rimba itu memerlukan peningkatan fasilitas.

Sejak didirikan 1994 lalu, sekolah tersebut baru memiliki tiga ruang kelas saja, satu kelas bahkan sebenarnya diperuntukkan untuk ruang perpustakaan. Karena kekurangan kelas, ruang perpustakaan akhirnya diubah sebagai ruang kelas dan kantor.

"Bahkan saat waktunya belajar, dalam satu kelas ada dua kelompok belajar, mengingat, jika satu ruangan digunakan untuk satu kelas saja, bisa seharian waktu proses belajar dan mengajar," ujar Ade Irma.

Ia meyakini dengan adanya perbaikan dan peningkatan fasilitas, proses belajar mengajar Anak Rimba bisa lebih baik. Anak-anak Rimba juga akan lebih tertarik dan kerasan untuk belajar di sekolah.

Apalagi, pada dasarnya mereka memiliki tingkat kecerdasan dan daya ingat tinggi karena sistem adat dan aturan Orang Rimba diturunkan melalui tradisi bertutur yang sangat mengandalkan daya ingat.

Loading