Lampu Kuning Industri Otomotif, Riset Terbaru LPEM UI: Pasar Mobil Bekas Naik, Mobil Baru Stagnan

Riset terbaru LPEM FEB UI mengungkap pergeseran drastis perilaku konsumen Indonesia yang kini lebih memilih mobil bekas lantaran harga mobil baru makin tak terjangkau.

Diterbitkan 12 Januari 2026, 16:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Industri otomotif nasional sedang menghadapi fenomena "lampu kuning". Riset terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkap pergeseran drastis perilaku konsumen Indonesia yang kini lebih memilih mobil bekas lantaran harga mobil baru makin tak terjangkau.

Peneliti Senior LPEM FEB UI, Riyanto, memaparkan data yang mengkhawatirkan. Penjualan mobil baru di Indonesia mengalami stagnasi di angka 866.000 unit pada 2024, jauh menurun dibandingkan puncak kejayaannya pada 2013 yang menembus 1,22 juta unit.

"Harga mobil memang lebih tinggi daripada pendapatan masyarakat secara umum," ujar Riyanto dalam pemaparan studi 'Pasar Otomotif dan Kebijakan Elektrifikasi' di Bandung, Jumat (9/1/2026).

Riyanto menyoroti ketimpangan harga. Rasio harga mobil baru (menggunakan indeks harga Avanza) terhadap pendapatan per kapita di Indonesia mencapai 354%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang hanya 161%.

Akibatnya, terjadi migrasi besar-besaran konsumen ke pasar mobil bekas. Data LPEM UI menunjukkan pangsa pasar mobil bekas pada 2024 telah mendominasi hingga 67,5%, mengalahkan mobil baru yang hanya tersisa 32,5%.

"Faktor utama meliputi daya beli rumah tangga yang terbatas, perbedaan harga yang lebar antara mobil baru dan bekas, serta penurunan nilai jual kembali yang relatif cepat di beberapa segmen," kata Riyanto.

Cara Memperluas Pasar Mobil Baru

Hasil survei LPEM FEB UI menunjukkan, sekitar 87% sampel sudah memiliki mobil. Dari total responden yang ingin membeli mobil, sekitar 64% responden berencana membeli mobil bekas dan sekitar 36% responden berencana membeli mobil baru.

"Bagaimana cara memperluas pasar mobil baru? Pertama, meningkatkan kemampuan membeli mobil baru. Kedua, mempersempit selisih harga dengan mobil bekas. Ketiga, menurukan depresiasi mobil baru," ungkap Riyanto.

Menurutnya, masalah keterjangkauan masih menjadi penghambat utama minat pembelian mobil dalam lima tahun mendatang. Di antara 3.054 responden yang tidak berencana membeli mobil dalam lima tahun ke depan, alasan utama adalah keterbatasan ekonomi, harga yang tinggi, dan ketidakpastian masa depan. Pembelian mobil terbaru (dalam enam bulan terakhir) masih didominasi oleh ICEV.