Sukses

Ini Prediksi Lalu Lintas Selama Ramadan

Liputan6.com, Jakarta - Memiliki lebih dari 4 juta pengguna aktif di Indonesia, Waze memberikan prediksi lalu lintas selama Ramadan. Lalu lintas terpantau meningkat hingga 44 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Bila biasanya orang menghabiskan 29 kilometer per hari, lalu lintas diprediksi meningkat hingga 98 persen.

Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan, jam sibuk biasanya berlangsung antara pukul 15.00 dan 20.00 WIB. Namun Lalu lintas terpadat diprediksi muncul pada pukul 17.00, ketika orang mulai meninggalkan rumah atau kantor untuk berbuka puasa.

Dengan demikian, waktu yang disarankan untuk bepergian selama Ramadan ialah pukul 12.00 siang atau setelah pukul 21.00.

Laporan ini juga menyatakan, Waze mengalami peningkatan jumlah pengguna hingga 26 persen selama musim Ramadan.

“Kebiasaan di sini adalah orang-orang akan bergegas pulang ke rumah atau ke tempat makan selama waktu sibuk supaya bisa hadir tepat waktu untuk berbuka puasa dengan keluarga dan teman. Mereka cenderung mencari rute alternatif menghindari kemacetan,” kata Marlin R. Siahaan, Waze Indonesia Country Manager.

2 dari 2 halaman

Destinasi Utama

Selama Ramadan tahun lalu, ada tiga destinasi utama, yakni toko serba ada yang menarik 4.1 juta navigasi, restoran dan outlet makanan siap saji dengan 1.5 juta navigasi, dan warung kopi dengan 391.000 navigasi.

Toko serba ada menjadi tujuan terbanyak, karena masyarakat biasanya membeli makanan ringan atau minuman untuk berbuka puasa saat masih berada di jalan. Menjelang Hari Raya Idul Fitri adalah waktu tersibuk di sebagian tempat pengisian bahan bakar karena budaya mudik di Indonesia.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, navigasi pada aplikasi Waze umumnya meningkat selama Idul Fitri, dimana orang-orang mengambil manfaat pergi mudik atau berkendara ke tujuan wisata,” ujar Marlin.

Pada tahun 2018, terjadi 87 persen navigasi di Medan, 62 persen di Semarang, 42 persen di Surabaya, 34 persen di Bandung, dan 20 persen di Jakarta. Angka tertinggi muncul di Medan dikarenakan kurangnya infrastruktur transportasi umum di kota tersebut.

Sebaliknya, kilometer berkendara tertinggi terjadi di Semarang (148 persen), diikuti Surabaya (95 persen), Bandung (53 persen), Medan (48 persen), dan Jakarta (25 persen).

“Hal ini terjadi karena orang diharuskan mengemudi lebih jauh dari segi jarak di Semarang,” ucap Marlin.