Sukses

Incar Segmen Premium, Ini Modal Kaca Film Konica Minolta ICE-µ

Liputan6.com, Jakarta - Setelah berpengalaman membuat film untuk kamera, Konica Minolta mencoba peruntungan di pasar kaca film. Dengan produk unggulannya, ICE-µ yang sudah diluncurkan di Jepang pada 2011, dan mulai masuk ke Indonesia pada 2015 lalu.

Melalui PT Global Auto International (GAI), distributor utama kaca film Minolta, ICE-µ sudah terlebih dahulu dipercaya sebagai kaca film original equipment manufacturer (OEM) untuk Mitsubishi Xpander.

Dijelaskan Andy Hartono, GM Sales and Marketing PT GAI, kaca film ICE-µ dengan tanpa material metal, dapat memberikan kenyamanan lebih. Bahkan, konsumen tidak perlu khawatir dengan penerimaan sinyal untuk GPS.

"Dengan keunggulan teknologi yang kami miliki, kaca film ICE-µ kami targetkan dapat merebut pangsa pasar 20 persen dari pasar kaca film di Indonesia," jelas Andy di acara Media Gathering, di The Hook, Rabu (18/4/2018).

Untuk detailnya, kaca film ICE-µ ini memiliki tiga teknologi inti, yang digunakan oleh Konica Minolta yaitu Optical Technology, Coating Technology dan Material Application Technology.

Dengan Optical Technology, mengaplikasikan prinsip kerja optik mesin fotocopy pada kaca film ICE-µ yang digunakan untuk mencapai target Infra Red Rejection (daya tolak sinar inframerah).

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Sementara Coating Technology mengaplikasikan teknologi terkini dari metode nano-coating presisi tinggi. Terakhir, Material Application Technology, yang menerapkan sejumlah teknologi dalam penggunaan material photosensitive yang dapat meningkatkan kualitas, daya tahan, sensitivitas, dan produktivitas.

Selain itu, teknologi inti yang digunakan pada kaca film ICE-µ memberikan beberapa keunggulan yaitu, tidak mengintervensi sinyal elektronik, seperti yang diperlukan ponsel atau navigasi GPS, mengurangi suhu dalam kabin, menahan sinar ultra violet (UV) yang berbahaya serta ramah lingkungan.

Dengan kemampuannya menahan panas yang dipancarkan sinar matahari, maka dapat mengurangi kebutuhan penggunaan penyejuk kabin (AC), dan hal ini menjadikan pemakaian bahan bakar lebih hemat dan lebih ramah lingkungan.

Loading