Sukses

Bukan Cuma Desain, Ada Standar Sirkuit MotoGP yang Wajib Dipenuhi

Liputan6.com, Jakarta - Rencana Indonesia menjadi tuan rumah gelaran MotoGP musim 2018 harus pupus. Pasalnya, promotor MotoGP, Dorna, justru menunjuk negara tetangga Thailand sebagai tuan rumah kejuaraan balapan tersebut mulai 2018-2020.

Otoritas olahraga motorsport Thailand, Sakon Wannapong, dan CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta menandatangani kerja sama di Bangkok, Thailand, pada Kamis (31/8/2017).

Arena balap yang digunakan adalah Chang International di Buriram, Thailand, 392 km dari Ibu Kota Bangkok. Chang International Circuit memiliki trek sepanjang 4.554 meter serta 12 tikungan. Sirkuit yang dirancang oleh Hermann Tilke ini mengeluarkan biaya hingga Rp 740 miliar.

Untuk menentukan sebuah trek balap layak digunakan untuk sebuah balapan kelas dunia, Federation Internationale de Motocyclisme (FIM) membuat semacam buku pedoman yang dinamakan FIM Standards for Circuits. Dokumen ini diperbarui tiap tahun demi menyesuaikan dengan berbagai keadaan.

Sebagaimana disebutkan dalam bagian Object, otoritas "bisa menggunakan standar ini sebagai panduan awal untuk pembangunan sirkuit baru". Standar FIM ini mulai berlaku pada 1 Januari 2017.

Dalam dokumen yang dilihat Kamis (31/8/2017), ada 15 bab aturan yang terdiri dari masing-masing pembahasan. Khusus soal trek balapnya diatur dalam "article 4 - circuit design". Bab ini terbagi dalam 11 sub bab, seperti ketentuan soal layout sirkuit dan tikungan.

"Unsur-unsur dalam artikel ini dimaksudkan untuk membantu desain trek dasar. Agar trek dapat homologasi dari FIM disarankan agar semua poin yang dijelaskan di sini diikuti. Apakah trek akan mendapat lisensi A atau B ditentukan berdasarkan beberapa poin wajib," tulis aturan itu.

Mari kita bahas sekilas.

Pertama soal layout. Dalam dokumen ini tidak diatur bagaimana trek sebaliknya. Namun pakemnya adalah ia harus punya lebar minimal 12 meter, di mana pada starting grid lebarnya minimal 14 meter. Sementara panjangnya di antara 3,5 kilometer sampai 10 kilometer, dengan jumlah tikungan minimal 10.

Lalu kemiringan atau "gradien transversal". Pada trek lurus kemiringan harus disesuaikan agar waktu hujan tidak ada air yang menggenang. Sistem drainase juga harus baik, menjamin tidak ada genangan air di trek, pitlane, tepi trek, bahkan area run off.

Trek lurus minimal harus 250 meter. Garis start minimal harus ada 200 meter sebelum tikungan pertama. Untuk sirkuit tingkat A, panjang minimal trek adalah 400 meter, dan garis start minimal sebelum tikungan pertama jaraknya harus tidak kurang dari 250 meter.

Soal kerb, atau bagian samping sirkuit yang berwarna warni yang dipakai pembalap sebagai batasan racing line mereka, harus dibuat minimal 12 meter, di mana bagian awal dan akhirnya berbentuk segitiga dengan warna putih. Trek juga harus dilengkapi dengna verges dan area run off.

Untuk lebih jelasnya, buka tautan berikut.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Pupusnya harapan

Dengan masuknya Thailand dalam agenda tahunan MotoGP, harapan Indonesia yang menginginkan melihat Marc Marquez, Valentino Rossi dan pembalap lainnya berlaga di Tanah Air, pupus.

Kebijakan Dorna untuk menentukan tempat balapan memang penuh pertimbangan, mengingat Palembang yang kabarnya akan menjadi lokasi kejuaraan masih jauh dari persiapan matang.

Sebaliknya dengan Thailand, mereka memiliki sirkuit yang sudah mendapatkan sertifikat tinggi dari FIA (Federasi Balap Mobil) dengan grade 1 dan FIM (Federasi Balap Motor) grade A.

Sebelumnya, selain Sirkuit Jakabaring, Indonesia juga berencana membangun arena balapan sekelas MotoGP di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, ada juga sirkuit yang telah direncanakan dibangun sebagai pesaing Jakabaring, yakni di Lido, Jawa Barat.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS