Kekerasan Santri di Lombok, Pimpinan DPR Minta Evaluasi Pengawasan

Sari meminta aparat penegak hukum untuk mengusut kasus tersebut secara tuntas dan transparan.

Diterbitkan 09 Juni 2026, 11:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati, menyampaikan keprihatinan sekaligus duka cita mendalam atas peristiwa kekerasan tragis yang menimpa tiga orang santri di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Insiden memilukan tersebut dilaporkan mengakibatkan satu orang santri kehilangan nyawa dan memicu gelombang keresahan di tengah masyarakat.

Sebagai pimpinan DPR RI sekaligus wakil rakyat yang merepresentasikan daerah pemilihan (dapil) Pulau Lombok, Sari mengecam keras segala bentuk tindakan premanisme di lingkungan pendidikan agama. Ia menegaskan tidak ada pembenaran apa pun atas hilangnya nyawa seseorang.

“Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan tindakan kekerasan yang menghilangkan nyawa seseorang, terlebih terhadap santri-santri yang sedang menuntut ilmu,” ujar Sari Yuliati dalam keterangan resminya, Selasa (9/6/2026).

Menyikapi hal tersebut, Sari mendesak aparat penegak hukum untuk bergerak cepat mengusut tuntas rantai kejadian korporal ini secara transparan. Ia meminta agar penegakan hukum menyasar hingga ke akar masalah, termasuk menyeret pihak-pihak yang dinilai abai dalam pengawasan.

“Saya meminta aparat penegak hukum untuk mengungkap kasus ini secara menyeluruh. Tidak boleh ada toleransi terhadap pelaku maupun pihak yang terbukti lalai sehingga peristiwa ini dapat terjadi. Keadilan harus ditegakkan dan keluarga korban berhak mendapatkannya,” tegasnya.

 

 

Jadi Peringatan Keras

Legislator ini menambahkan, tragedi ini harus menjadi alarm keras dan momentum evaluasi total bagi sistem perlindungan anak di lingkungan lembaga pendidikan keagamaan. Kendati demikian, Sari secara khusus mewanti-wanti masyarakat luas agar tetap jernih dan tidak menggeneralisasi atau menyudutkan seluruh pondok pesantren akibat ulah oknum.

“Kita tidak boleh menghakimi seluruh pesantren hanya karena perbuatan segelintir oknum. Saya meyakini masih banyak pesantren di Lombok maupun di seluruh Indonesia yang menjadi tempat menuntut ilmu yang aman, membentuk karakter, akhlak, dan masa depan generasi muda bangsa,” ucap Sari mengingatkan.

Sari mengajak komitmen bersama dari pengelola pesantren, tokoh agama, hingga pemerintah daerah untuk memperketat ruang gerak potensi kekerasan demi menjamin hak rasa aman bagi setiap anak yang sedang menimba ilmu.

“Keselamatan dan perlindungan santri harus menjadi prioritas bersama. Tidak boleh ada ruang bagi kekerasan dalam bentuk apa pun di lingkungan pesantren. Anak-anak harus dapat belajar dan menuntut ilmu dengan rasa aman serta nyaman,” pungkasnya.

Sosok Terduga Pelaku

Polres Lombok Tengah mengusut kasus dugaan pembakaran tiga santri di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Batukliang, Nusa Tenggara Barat. Dalam peristiwa tersebut, satu santri dilaporkan meninggal dunia saat menjalani perawatan akibat luka yang dideritanya.

Kepala Seksi Humas Polres Lombok Tengah, Iptu Lalu Brata Kusnadi mengatakan, penyidik telah mengantongi identitas terduga pelaku. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, pelaku diduga merupakan teman para korban.

"Terduga pelakunya teman korban," kata Brata, Sabtu (6/6/2026).

Meski begitu, hingga saat ini polisi belum melakukan penangkapan. Penyidik masih mendalami kasus tersebut untuk mengungkap secara utuh kronologi maupun motif di balik peristiwa pembakaran itu.

"Belum diamankan, karena masih dilakukan penyelidikan," ujarnya.

Menurut Brata, peristiwa tersebut sebenarnya terjadi pada Desember 2025. Namun, laporan baru disampaikan keluarga korban setelah mereka fokus mendampingi proses pengobatan para korban.

"Pihak keluarga baru melapor, karena fokus melakukan pengobatan terhadap korban," jelasnya, dikutip dari Antara.