AKBP Netty Rosdiana Mundur dari Polri, Singgung Hati Nurani

AKBP Netty Rosdiana mengakui tidak mudah meninggalkan institusi Polri.

Diterbitkan 02 November 2026, 12:07 WIB
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • AKBP Netty Rosdiana Siagian mengundurkan diri dari Polri efektif 1 September 2026.
  • Keputusan diambil atas pertimbangan pribadi, bukan karena paksaan atau tekanan pihak lain.
  • Ia memilih mundur demi menjaga prinsip dan hati nurani yang tidak sejalan.

Liputan6.com, Jakarta - AKBP Netty Rosdiana Siagian memilih mengakhiri pengabdiannya di Korps Bhayangkara. Ia menyatakan mengundurkan diri dari Polri terhitung sejak 1 September 2026, melalui pernyataan yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

"Dengan ini Saya mengajukan permohonan pengunduran diri dari Dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terhitung sejak tanggal 01 September 2026," tulis Netty dalam unggahan tersebut, dikutip Senin (2/11/2026).

Netty menyebut keputusan itu diambil setelah melalui pertimbangan matang dan atas kemauan sendiri. Ia juga memastikan pengunduran dirinya bukan disebabkan paksaan maupun tekanan dari pihak lain.

"Keputusan ini bukan karena adanya paksaan atau tekanan dari pihak mana pun, melainkan atas pertimbangan pribadi dan keadaan yang menurut saya mengharuskan saya untuk mengakhiri masa pengabdian saya sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri)," jelasnya.

Ia mengungkapkan, selama bertugas sebagai anggota Polri, dirinya mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran. Netty juga memperoleh kesempatan untuk mengabdi kepada institusi dan masyarakat.

 

Tegaskan Tak Hilang Keberanian

Meski demikian, ia mengakui tidak mudah meninggalkan institusi yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya dan tempatnya mengabdi. Namun, menurut Netty, bertahan dalam tatanan yang tidak lagi sejalan dengan hati nurani juga menjadi pilihan yang semakin sulit dijalani.

Netty menegaskan tidak akan kehilangan keberanian dalam mengambil keputusan tersebut. Baginya, melepaskan jabatan bukan hal yang lebih menakutkan dibandingkan mengkhianati kebenaran.

"Seragam bisa ditanggalkan, jabatan bisa ditinggalkan, tetapi harga diri dan hati nurani tidak boleh diperjualbelikan. Saya memilih mundur dengan luka, daripada bertahan dengan mengorbankan prinsip," tuturnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6