Hadapi Abu Anak Krakatau, Kemenkes Aktifkan Pusat Darurat

Abu Vulkanik Anak Krakatau, Menkes Aktifkan Health Emergency Operating Center

Diterbitkan 06 September 2026, 14:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengaktifkan pusat komando darurat kesehatan di daerah yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan masyarakat menyusul erupsi pada Minggu (6/9/2026).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan seluruh Health Emergency Operating Center (HEOC) di kabupaten dan kota terdampak telah mulai diaktifkan. Kemenkes juga menyiapkan panduan teknis bagi tenaga kesehatan agar penanganan warga yang terdampak abu vulkanik dapat dilakukan secara seragam.

"Kementerian Kesehatan sudah mulai mengaktifkan semua Health Emergency Operating Center (HEOC) di seluruh kabupaten/kota yang terdampak," ujar Budi dalam konferensi pers bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara daring, Minggu (6/9/2026).

Selain mengaktifkan pusat komando, Kemenkes akan menerbitkan surat edaran yang berisi panduan bagi tenaga kesehatan di daerah. Panduan tersebut akan menjadi acuan puskesmas dan rumah sakit dalam menangani keluhan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

"Kita juga segera akan mengeluarkan surat edaran untuk memberikan guidance (panduan) yang rinci terhadap para petugas tenaga kesehatan di seluruh kabupaten/kota yang terdampak," papar Budi.

Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah juga diperkuat. Kemenkes akan menggelar pertemuan secara rutin dengan Dinas Kesehatan di wilayah terdampak untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat.

"Dan yang ketiga kita akan segera melakukan Zoom rutin antara Health Emergency Operating Center Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan seluruh kabupaten/kota untuk memonitor perkembangannya seperti apa," pungkas Menkes Budi.

 

Abu Vulkanik Bisa Ganggu Pernapasan, Mata, dan Kulit

Budi sebelumnya meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap mengantisipasi paparan abu vulkanik. Menurut dia, ada tiga bagian tubuh yang perlu mendapat perhatian, yakni saluran pernapasan, mata, dan kulit.

"Pertama adalah ke pernapasan, kedua adalah ke mata, dan yang ketiga adalah ke kulit. Jadi pernapasan, mata, dan kulit adalah tempat-tempat di mana masalah kesehatan bisa terjadi akibat adanya debu vulkanik ini," ujar Budi.

Untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, masyarakat di wilayah yang terdampak signifikan diminta mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, masyarakat disarankan menggunakan masker.

"Jaga kesehatan pernapasan, usahakan kegiatannya dilakukan di rumah. Kalau harus keluar rumah, pastikan memakai masker. Kalau sudah merasa tidak enak pernapasannya, segera ke puskesmas terdekat karena kita sudah men-deploy alat-alat nebulizer dan juga oksigen konsentrator," ucap Budi.

Abu vulkanik juga dapat menyebabkan mata gatal atau mengalami iritasi. Karena itu, masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan kacamata untuk mengurangi paparan langsung.

"Pencegahannya bagaimana? Itu tadi nomor satu, kalau tidak ada kegiatan harus keluar, usahakan itu di dalam. Tapi kalau harus keluar, usahakan memakai kacamata ya, usahakan memakai kacamata agar debunya agak terhalang masuk ke mata kita," kata Budi.

Jika abu masuk ke mata, masyarakat diminta tidak menguceknya. Mata dapat dibersihkan menggunakan air dan warga bisa mendatangi puskesmas jika keluhan berlanjut.

"Kalau terpaksa sudah debunya masuk, ya pastikan jangan dikucek-kucek ya, bersihkan pakai air dan segera ke puskesmas karena semua puskesmas sudah kita kasih obat tetes mata ya. Jadi kalau sudah kena, treatment-nya seperti apa, jangan dikucek-kucek, bersihkan pakai air dan kalau perlu obat tetes mata," sambung dia.

Paparan abu juga perlu diantisipasi pada kulit. Budi meminta masyarakat membersihkan tubuh dengan air setelah kembali dari luar rumah. Pembersihan dilakukan secara hati-hati karena partikel abu vulkanik dapat memiliki permukaan yang tajam.

"Balik lagi kalau tidak usah keluar rumah ya di dalam rumah saja. Tapi kalau sudah kena, setiap kembali ke rumah pastikan dibersihkan dengan air ya, pastikan dibersihkan dengan air dengan hati-hati karena mungkin saja ada beberapa partikelnya yang tajam ya, bersihkan dengan hati-hati," terang dia.

 

Siapkan Sejumlah Alat Gangguan Pernapasan

Kemenkes memastikan fasilitas kesehatan telah menyiapkan kebutuhan penanganan sesuai keluhan yang mungkin muncul.

Nebulizer dan oksigen konsentrator disiapkan untuk gangguan pernapasan, sementara obat tetes mata dan salep kulit disediakan untuk keluhan pada mata dan kulit.

"Kesehatannya ada di pernapasan, mata, dan kulit. Bagaimana caranya supaya kita tetap sehat ketiganya, kalau bisa jangan keluar rumah aja. Tapi kalau keluar rumah mesti pakai masker, kalau mata mesti pakai kacamata, kalau kulit begitu pulang langsung dibersihkan," kata dia.

"Kalau ternyata sudah sakit ya segera ke puskesmas, kita sudah siapkan kalau pernapasan ada nebulizer dan oksigen konsentrator, kalau misalnya mata kita siapkan tetes mata, kalau kulit juga kita siapkan salep kulit," sambung Budi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6