Prabowo Minta Antisipasi Dampak El Nino, BMKG Perkuat Modifikasi Cuaca

BMKG akan memperkuat dukungan dalam menghadapi musim kemarau yang bertepatan dengan El Nino tahun ini.

Diterbitkan 28 Juli 2026, 20:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pemerintah fokus antisipasi kemarau dan El Nino, jaga air serta cegah karhutla.
  • BMKG perkuat dukungan modifikasi cuaca untuk ketersediaan air dan pencegahan karhutla.
  • Modifikasi cuaca dilakukan di 6 provinsi rawan dan untuk pengisian 240 waduk.

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajarannya untuk melakukan sejumlah langkah menghadapi potensi dampak kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino. Termasuk, menjaga ketersediaan air dan mencegah kebakaran hutan serta lahan.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyampaikan BMKG akan memperkuat dukungan dalam menghadapi musim kemarau yang bertepatan dengan El Nino tahun ini. Menurut dia, langkah tersebut dilakukan melalui upaya menjaga ketersediaan air di waduk serta operasi modifikasi cuaca.

"Jadi ada dua, yaitu terkait dengan ketersediaan air melalui waduk-waduk, pengisian waduk dengan modifikasi cuaca dan sebagainya. Juga dengan, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui pembasahan dari lahan-lahan yang mudah terbakar ini melalui modifikasi cuaca. Tadi diperkuat banyak tentang modifikasi cuaca," kata Faisal usai rapat bersama Prabowo di Istana Merdeka Jakarta, Selasa (27/7/2026).

Dia menyampaikan terdapat enam provinsi yang menjadi fokus utama pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Operasi tersebut akan dilakukan secara berkala untuk menjaga kelembapan lahan gambut agar tidak mudah terbakar.

"Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar," ujarnya.

"Termasuk kita melakukan di Kepulauan Riau juga untuk modifikasi cuaca, dan juga di Aceh, beberapa tempat secara situasional tergantung situasi dan kondisi," sambung Faisal.

 

Selain itu, Faisal menjelaskan operasi modifikasi cuaca juga akan dimanfaatkan untuk membantu pengisian air di sejumlah waduk di berbagai wilayah Indonesia. BMKG akan bekerja sama dengan lintas kementerian dan lembaga guna menjaga ketersediaan air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), irigasi, dan kebutuhan air bersih.

"Untuk kekeringan, BMKG melakukan beberapa modifikasi cuaca, bekerja sama dengan BNPB, bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan, dan juga dengan swasta untuk pengisian waduk. Pengisian waduk-waduk yang ada di Indonesia, kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih," tutur dia.

Faisal menuturkan kedua langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam mengedepankan upaya pencegahan terhadap kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi penyempurnaan dari penanganan yang sebelumnya lebih berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi.

"Tidak hanya kita menunggu adanya titik api, kemudian kita padamkan dengan waterbombing, kemudian dengan pemadam yang disemprot, dan sebagainya. Tapi ketika permukaan air tanahnya sudah menurun, itu dilakukan modifikasi cuaca yang dapat menjatuhkan jutaan kubik air, dan kemudian dapat menjenuhkan daerah tersebut," jelas dia.

"Sehingga sekarang kita lihat bahwa untuk kebakaran hutan dan lahan relatif lebih dapat dikendalikan dibanding sebelum 2015," imbuh Faisal.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6