Kenangan Paling Dirindukan Ayah ke Ain Korban Kecelakaan KRL: Selalu Minta Dijemput

Ayahanda Nur Ainia Eka Rahmadhyna, Hary Marwata mengungkapkan komunikasi terakhir dengan Ain terjadi pada Senin sore.

Diterbitkan 28 April 2026, 23:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Ayah Ain berkomunikasi terakhir Senin sore, meminta dijemput seperti biasa.
  • Ain dikenal sederhana, penurut, selalu naik KRL gerbong wanita, dan membantu keluarga.
  • Keluarga kesulitan mencari Ain, akhirnya teridentifikasi di RS Polri setelah pencarian.

Liputan6.com, Jakarta - Ayahanda Nur Ainia Eka Rahmadhyna Hary Marwata mengungkapkan komunikasi terakhir dengan Ain terjadi pada Senin sore. Ia sempat mengirim pesan kepada sang putri, meminta dijemput seperti kebiasaan pulang kerja.

“Biasanya memang minta dijemput sekitar setengah sembilan malam. Itu sudah rutin,” katanya saat ditemui di rumah duka, Tambun, Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Namun malam itu, Ain-demikian ia akrab disapa tak kunjung kembali. Bahkan, keluarganya sempat kesulitan melacak keberadaannya karena ponsel miliknya tertinggal di lokasi kecelakaan.

Selama bekerja, Ain dikenal menggunakan KRL sebagai moda transportasi utama. Ia disebut lebih memilih berada di gerbong khusus perempuan.

“Dia memang selalu di gerbong wanita. Sudah kebiasaannya begitu,” tuturnya.

Di mata orang tua, Ain adalah sosok anak yang sederhana dan penurut. Sehari-hari, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sepulang kerja dan jarang bepergian.

“Anaknya nurut, enggak banyak tingkah. Pulang kerja ya di rumah. Jarang keluar,” kenang ayahnya.

Momen Terakhir Bersama Keluarga

Beberapa hari sebelum kejadian, Ain bahkan masih sempat menghabiskan waktu bersama ibunya untuk berbelanja. Selain itu, Ain turut membantu perekonomian keluarga. Meski sang ayah masih bekerja, kontribusi Ain dinilai cukup berarti.

"Iya, dia ikut bantu," ucap Hary singkat.

Momen terakhir yang diingat sang ayah terjadi pada Senin pagi, sebelum Ain berangkat kerja. Seperti biasa, ia menyiapkan bekal makanannya sendiri.

"Enggak ada firasat apa-apa. Pamit biasa saja,” katanya.

Sempat Bingung Cari Korban

Keluarga sempat kebingungan saat mencari keberadaan Ain. Sejak malam hingga keesokan harinya, adik-adiknya menyisir sejumlah rumah sakit, mulai dari RSUD hingga beberapa rumah sakit swasta, namun namanya belum juga menemukan nama korban. 

“Dari awal memang nama dia belum ada. Adiknya cari ke mana-mana, sampai pagi dan siang belum ketemu,” ujar ayah korban, Hary Marwata, saat ditemui di rumah duka, Tambun, Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Kepastian baru didapat setelah keluarga mendatangi RS Polri Kramat Jati. Di sana, pihak keluarga diminta melengkapi data, termasuk identifikasi melalui KTP dan sidik jari untuk memastikan identitas korban.

Kini, keluarga hanya bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Sang ibu masih dalam kondisi terpukul atas kepergian putrinya.

“Masih shock, tapi tadi juga sudah tahlilan,” ujar Hary.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6