Pramono Ungkap Beban Transportasi: Setiap Pagi Lebih dari 4 Juta Orang Masuk Jakarta

Menurut Pramono, besarnya arus komuter dari wilayah penyangga ke Jakarta setiap hari memperberat beban sistem transportasi.

Diterbitkan 16 April 2026, 12:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut bahwa persoalan transportasi masih menjadi tantangan utama ibu kota. Pasalnya, mobilitas harian di Jakarta amat tinggi dengan lebih dari 4 juta orang masuk Jakarta setiap pagi.

“Jakarta ini setiap pagi ada kurang lebih empat juta sampai empat setengah juta orang masuk ke Jakarta. Sore kembali ke kediamannya masing-masing. Itulah problem transportasi yang dihadapi oleh Jakarta,” kata Pramono dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD DKI Jakarta 2027 di Balai Kota, Kamis (16/4/2026).

Menurutnya, besarnya arus komuter dari wilayah penyangga ke Jakarta setiap hari memperberat beban sistem transportasi. Kondisi ini membuat Pemprov DKI mendorong penciptaan ekosistem mobilitas dan konektivitas berbasis transit sebagai solusi jangka panjang.

“Penciptaan ekosistem mobilitas dan konektivitas masyarakat berbasis transit Jakarta,” katanya.

Selain pembenahan transportasi, Pramono juga meminta setiap wilayah administratif di Jakarta mengembangkan pendekatan tematik sesuai keunggulan masing-masing guna mendukung pemerataan pembangunan.

Dia mencontohkan Jakarta Pusat yang difokuskan pada sektor jasa pemerintahan dan perdagangan internasional, sementara Jakarta Selatan kini berkembang sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Jakarta Pusat misalnya, tentunya hal yang berkaitan dengan jasa pemerintahan, perdagangan internasional. Jakarta Selatan sekarang menjadi salah satu ikon pertumbuhan ekonomi baru di Jakarta. Dan sebagainya dan sebagainya, termasuk Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Pulau Seribu,” jelasnya.

Pembenahan Wilayah Bikin Jakarta Lebih Baik

Secara khusus, dia juga menyoroti Kepulauan Seribu sebagai kawasan strategis yang harus mulai dipersiapkan sejak sekarang karena dinilai memiliki potensi besar sebagai masa depan Jakarta.

“Saya selalu mengatakan bahwa salah satu masa depan Jakarta yang harus dikelola dirawat dengan baik adalah Pulau Seribu. Itu akan menjadi masa depannya Jakarta,” ungkap Pramono.

Dia optimistis, jika pembenahan transportasi dan pengembangan wilayah dilakukan secara terarah sejak dini, Jakarta akan mampu menjawab berbagai tantangan perkotaan ke depan.

“Jadi saya yakin kalau ini dipersiapkan dari sekarang maka Jakarta mudah-mudahan akan menjadi lebih baik,” katanya.

Jutaan Komuter Masuk Setiap Hari

Data Kementerian Perhubungan menunjukkan, terdapat sekitar 88 juta pergerakan orang per hari di kawasan Jabodetabek. Dari jumlah tersebut, sekitar 3 hingga 4 juta orang merupakan komuter yang melakukan perjalanan menuju Jakarta setiap harinya. Tingginya arus komuter ini menjadi salah satu penyebab utama kepadatan lalu lintas dan tingginya beban transportasi di ibu kota.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta, total perjalanan masyarakat di Jakarta mencapai sekitar 20 juta perjalanan per hari. Namun, hanya sekitar 20–25 persen yang menggunakan transportasi umum. Artinya, sebagian besar perjalanan masih mengandalkan kendaraan pribadi yang turut memperparah kemacetan.

Beban transportasi juga terlihat dari tingginya jumlah pengguna angkutan umum setiap hari. Data BPS mencatat, layanan TransJakarta melayani sekitar 1 juta hingga 1,2 juta penumpang per hari.

Sementara itu, MRT Jakarta melayani sekitar 100 ribu hingga 130 ribu penumpang per hari, dan LRT Jakarta melayani puluhan ribu penumpang setiap harinya.

Selain itu, moda transportasi komuter berbasis rel juga menanggung beban besar. KAI Commuter mencatat pengguna KRL Commuter Line mencapai sekitar 700 ribu hingga 800 ribu penumpang per hari. Sebagian besar pengguna berasal dari wilayah penyangga seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang yang melakukan perjalanan menuju Jakarta.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6