Menengok Posko Mudik BBPJN Jawa Tengah-Yogyakarta di Prupuk Tegal

Bangunan posko bercat putih itu berdiri mencolok di pinggir jalan nasional Prupuk-Simpang Tiga Utara Jalan Lingkar Bumiayu, Kabupaten Tegal.

Diterbitkan 12 Maret 2026, 11:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bangunan bercat putih itu berdiri mencolok di pinggir jalan nasional Prupuk-Simpang Tiga Utara Jalan Lingkar Bumiayu, Kabupaten Tegal. Di dinding depannya terpampang tulisan besar berwarna kuning dan biru bertuliskan Posko Terpadu Klonengan, yang menjadi tanda fungsi dari tempat itu.

Tak jauh dari halaman, sebuah alat berat terparkir di pinggir jalan. Hamparan sawah membentang di seberang, dengan latar Gunung Slamet yang tampak samar dari kejauhan.

Dekat pintu masuk, sebuah rak kecil bertuliskan “Tempat Charger HP”, dilengkapi beberapa colokan listrik. Ruangannya tak kalah menarik, suasana sederhana namun tertata rapi. Lantai keramik putih mengilap.

Dua bantal duduk segitiga diletakkan di atas karpet biru tua. Area itu tampak disiapkan sebagai tempat beristirahat bagi pemudik yang singgah sejenak. Beberapa kursi sofa mengelilingi meja kayu kecil di sisi lain ruangan.

Bangunan itu disiapkan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah–DI Yogyakarta sebagai bagian dari layanan arus mudik Lebaran 2026.

Kepala Bidang Preservasi I BBPJN Jawa Tengah-DIY Fajar Triawan mengatakan posko tersebut merupakan bagian dari jaringan posko mudik yang disiapkan di seluruh ruas jalan nasional.

“Dalam rangka dukungan terhadap arus mudik Lebaran, kami mendirikan 18 posko yang tersebar di seluruh ruas jalan nasional di Jawa Tengah. Sementara di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat lima posko tambahan,” kata Fajar di lokasi, Kamis (12/3/2026).

Menurut dia, standar pembangunan posko sebenarnya telah ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Namun, posko di Klonengan dibangun melalui kerja sama beberapa instansi.

“Ini kerja sama dengan Satlantas Tegal. Lahan disediakan oleh Dinas Perhubungan, lalu pengelolaannya melibatkan Balai dan kepolisian. Jadi posko terpadu,” ujar Fajar.

 

Posko Berdiri di Titik Strategis

Posko itu berdiri di titik yang dianggap strategis karena berada di jalur penghubung menuju wilayah selatan Jawa Tengah.

Persimpangan Dermojaya atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai kawasan Flyover Klonengan merupakan pertemuan arus kendaraan dari jalur Pantai Utara menuju wilayah Banyumas dan sekitarnya.

“Kalau untuk arus mudik yang menuju selatan, ini salah satu rute yang biasanya padat,” kata Fajar.

Di sekitar posko juga disiagakan peralatan untuk penanganan darurat di jalan. Saat ini tersedia satu unit loader excavator dan satu unit truck crane kecil.

Peralatan tersebut disiapkan untuk mengantisipasi gangguan di jalur mudik, misalnya jika terjadi pohon tumbang atau hambatan lain yang mengganggu arus kendaraan.

“Kalau ada kejadian darurat, alat kami sudah siap di sini,” ujarnya.

Di bagian belakang kompleks posko terdapat area parkir yang cukup luas. Kendaraan pemudik dapat diparkir di sana ketika mereka beristirahat.

Sebuah masjid juga berdiri di area yang sama. Polisi turut menyiapkan tenda layanan tambahan, termasuk fasilitas tambal ban bagi pengendara yang mengalami masalah di perjalanan.

Menurut Fajar, posko tersebut terbuka bagi semua pemudik, baik pengguna mobil maupun sepeda motor. Pemudik juga tak dibatasi waktu ketika beristirahat di lokasi tersebut.

“Kalau memang membutuhkan istirahat ya dipersilakan. Tidak harus dibatasi 10 atau 15 menit. Situasional saja,” kata dia.

 

Berbagai Hal Disiapkan

Di tempat yang sama, Kepala Satuan Kerja PJN 1 Provinsi Jawa Tengah M. Syidik Hidayat mengatakan wilayah kerja satuannya mencakup ruas Losari hingga Semarang, Tegal dan Slawi ke arah selatan hingga Wangon, serta Wangon menuju Majenang sampai perbatasan Jawa Barat.Total panjang jalan yang menjadi tanggung jawab Satker PJN 1 mencapai 462 kilometer.

Menurut Syidik, persimpangan Dermojaya merupakan arus utama bagi pemudik dari Jakarta yang menuju selatan Jawa Tengah. Jalur ini menghubungkan perjalanan menuju Cilacap, Purwokerto, Banyumas, Kebumen, Purworejo, hingga Yogyakarta.

“Selain jalur ini, pemudik menuju Yogyakarta juga bisa melalui Pemalang atau Semarang, termasuk menggunakan jalur tol,” kata Syidik.

Panjang ruas utama yang melintasi kawasan tersebut sekitar 135,5 kilometer. Pada jalur ini terdapat sejumlah kegiatan penanganan jalan, termasuk perbaikan di kawasan Dermojaya yang kini diperlebar dan dilengkapi saluran irigasi.

Penanganan di lokasi ini mencakup sekitar 9 kilometer dan ditargetkan selesai pada Maret 2027. Selain itu, penanganan juga dilakukan di ruas Tegal-Slawi-Dermojaya-Wangon dengan target pekerjaan sekitar 24 kilometer.

Di luar proyek tersebut, pekerjaan rutin tetap dilakukan, seperti pemeliharaan kondisi jalan, penambalan lubang, serta pembersihan drainase.

Untuk mendukung penanganan cepat, Satker PJN 1 juga menyiapkan material cold mix atau aspal siap pakai. Untuk ruas PPK 1.4 disiapkan sekitar 400 sak. Secara keseluruhan, Satker PJN 1 menyiapkan sekitar 1.300 sak aspal untuk penanganan cepat di berbagai titik jalur mudik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6