Laporan Liputan6.com dari Turki: Kisah Masjid Süleymaniye yang Dibangun saat Sinan Sedang 'Merokok'

Laporan Liputan6.com mengulas, Masjid Süleymaniye dibangun pada abad ke-16 atas perintah dan dinamai sesuai nama, Sultan Süleyman yang Agung.

Diterbitkan 06 Maret 2026, 04:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dari kejauhan, siluet bangunan mahakarya Dinasti Ottoman berdiri tegak menguasai punggung Bukit Ketiga Istanbul. Dia adalah Masjid Süleymaniye. Masjid karya arsitektur legendaris Turki, Mimar Sinan itu kokoh memandang ke arah Tanduk Emas seperti sultan yang tak pernah turun takhta.

Jalanan basah memantulkan bayang kubah dan Menara Süleymaniye. Sementara, langkah para pengunjung terdengar pelan, hampir seperti jeda sebelum memasuki ruang yang lebih agung dari sekadar bangunan ibadah.

Masjid Süleymaniye dibangun pada abad ke-16 atas perintah dan dinamai sesuai nama, Sultan Süleyman yang Agung. Selama pembangunannya, lebih dari 3.500 pekerja bekerja keras di gedung tersebut.

Kepada Sinan, Sultan terobsesi membangun masjid baru untuk menyaingi kemegahan gereja Hagia Sophia yang dibangun oleh Kaisar Bizantium Justinian I. Sultan ingin masjid Süleymaniye menjadi wajah baru Dinasti Ottoman yang saat itu begitu adidaya menguasai wilayah luas di tiga benua, Asia, Afrika, dan Eropa.

Masjid Süleymaniye memang lebih kecil daripada Hagia Sophia, tetapi bisa dikatakan sebagai bangunan yang lebih anggun. Berdiri di jantung Konstantinopel (Istanbul), Süleymaniye melambangkan kekuasaan dan kekayaan Kesultanan Utsmaniyah yang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Suleyman.

Sinan berusaha menciptakan masjid dengan interior yang terang dan megah, namun tetap dengan kesederhanaan yang menjadi ciri khas arsitektur Ottoman.

Selain desain kubah, interior masjid ini dihiasi dengan kaligrafi Islam yang indah dan ubin İznik yang terkenal, menciptakan suasana yang damai dan merenung bagi para jemaah yang datang untuk beribadah.

Kisah Mimar Sinan 'Merokok' sampai Ditegur Sultan

Di antara cerita tentang pembangunan Süleymaniye Mosque, ada satu cerita yang kerap diceritakan ulang dari generasi ke generasi tentang Mimar Sinan dan Sultan Suleiman. Kisah ini mungkin lebih mendekati anekdot sejarah daripada catatan arsip resmi, tetapi ia hidup kuat dalam cerita masyarakat Turki.

Kisah ini bercerita tentang bagaimana cara Mimar Sinan mengevaluasi sistem suara dalam masjid agar suara yang dibunyikan di dalam masjid dapat menggema dan didengar orang-orang di depan hingga belakang.

Konon, suatu hari Sultan Suleiman mengunjungi lokasi pembangunan masjid yang sedang berlangsung. Proyek itu adalah simbol ambisinya masjid terbesar dan termegah pada zamannya. Namun ketika sang sultan tiba, ia mendapati sesuatu yang membuatnya heran.

Di tengah para pekerja yang sibuk, Sinan arsitek utama kekaisaran duduk santai. Dia disebut-sebut duduk tepat di bawah kubah dan mulai mengisap hookah (atau kita kenal dengan sebutan Shisha) yang dibawanya. Sinan memandangi bangunan yang belum rampung.

Tidak ada gambar yang sedang ia pegang. Tidak ada instruksi yang tampak ia berikan. Hanya diam, asap tipis mengepul, dan tatapan yang terarah ke kubah yang sedang dibangun.

Sultan pun mendekat dan bertanya dengan nada yang menyiratkan ketidaksabaran:

“Wahai Sinan, mengapa engkau duduk saja? Apakah pembangunan ini tidak cukup penting bagimu?”

Sinan tidak panik. Ia berdiri, memberi hormat, lalu menjawab dengan tenang:

“Wahai Sultanku, sudilah kiranya Anda memerhatikan hokah yang ada di depanku ini dengan saksama.”

Süleyman yang Agung menatap hokah itu baik-baik dan ternyata tidak ada tembakau di dalamnya.

“Paduka Sultan, hamba sedang memikirkan bagaimana suara azan akan bergema di dalam kubah itu.”

Teknik Akustik Masjid

Jawaban itu membuat suasana hening sejenak. Sinan menjelaskan bahwa ia sedang menghitung gema, resonansi, dan pantulan suara di ruang utama masjid.

Dia membayangkan bagaimana suara imam akan terdengar sampai ke saf paling belakang tanpa terdistorsi. Dalam beberapa versi cerita, ia bahkan mengatakan sedang mengatur ventilasi dan sirkulasi udara agar asap lampu minyak tidak menghitamkan dinding.

Sinan lantas menempatkan 255 kubus air berongga di dalam kubah yang ingin dia sesuaikan dengan sistem suara (akustik) masjid. Dia menyesuaikannya sedemikian rupa hingga tidak ada pengeras suara, suara imam dan muazin dari masjid itu akan dapat menyebar ke seluruh penjuru masjid berkat teknik pengaturan akustik pada arsitekturnya.

Sultan Suleiman, yang awalnya khawatir, akhirnya tersenyum. Dia menyadari yang tampak seperti kemalasan adalah bagian dari proses perenungan mendalam. Sinan tidak hanya membangun dengan batu dan mortar, tetapi dengan perhitungan dan imajinasi.

"Kamu harus tahu. Ini bukan merokok. Cara ini dipakai Sinan untuk menguji sirkulasi udara dari bangunan. Masjid ini juga tidak perlu microphone. Ketika jemaah salat hanya tepuk tangan dan menjetikkan jari, suaranya bisa terdengar hingga belakang," kata pemandu wisata dari Badan Pariwisata Turki (TGA), Aret.

Tak Sekadar Rumah Ibadah

Masjid Süleymaniye lebih dari sekadar tempat ibadah. Kompleks masjid ini, yang dikenal dengan nama külliye juga berfungsi sebagai pusat sosial dan budaya yang lengkap. Di dalam külliye, terdapat madrasah, rumah sakit, dapur umum, perpustakaan, hingga pemandian.

Masjid Suleymaniye adalah kota kecil yang berdenyut oleh ilmu, ibadah, dan pelayanan social. Dia cerminan bagaimana Kekaisaran Ottoman memandang masjid sebagai jantung kehidupan.

Di bagian belakang, makam Sultan Süleyman dan istrinya, Hürrem Sultan, berdiri dalam kesunyian. Dari titik ini, Istanbul terbentang jauh di bawah, Selat Bosporus berkilau di kejauhan.

Selama ratusan tahun, Masjid Suleiman menjadi masjid terbesar di Istanbul. Hingga akhirnya, pada tahun 2019, gelar ini diambil alih oleh Masjid Çamlıca.

Penerbangan Airasia X Rute Kuala Lumpur-Istanbul

Perjalanan wisata sejarah sekaligus spiritual Liputan6.com ke Masjid Süleymaniye dan tempat-tempat wisata Turki didukung oleh AirAsia X dan Badan Pariwisata Turki (TGA).

Dikutip dari website airasia.com, Airasia kini melayani penerbangan langsung dari Kuala Lumpur (KUL) ke ke Bandara Internasional Sabiha Gökçen, Istanbul (SAW). Hal ini menandai langkah penting lainnya dalam perluasan jaringan global AAX.

Layanan ini hadir mulai 14-17 November 2025 lalu dengan frekuensi empat kali seminggu menggunakan Airbus A330-300. Jadwal penerbangan Kuala Lumpur-Istanbul ini tersedia pada hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu.

Penerbangan ini menawarkan opsi Fly-Thru dari berbagai destinasi lain di Asia Tenggara ke Istanbul. Penerbangan langsung ini memperkuat konektivitas antara Asia dan Eropa dengan biaya terjangkau.

Terobosan ini menandai masuknya AAX yang telah lama diantisipasi ke Eropa, membuka gerbang penting yang menghubungkan Asia Tenggara ke Eropa melalui salah satu destinasi paling kaya sejarah dan unik secara geografis di dunia.

Terletak di dua benua yang dipisahkan oleh Selat Bosphorus, Istanbul menawarkan kesempatan langka bagi wisatawan untuk merasakan keindahan dua dunia sekaligus.

Seluruh tiket penerbangan AirAsia dapat dipesan melalui aplikasi airasia MOVE (dahulu airasia Superapp), website airasia.com, online travel agent, dan agen perjalan resmi lainnya. Untuk pemesanan tiket rombongan berjumlah 10 orang atau lebih, calon penumpang dapat menghubungi layanan Group Desk AirAsia melalui email ke groupbooking_id@airasia.com.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6