Liputan6.com, Jakarta - Tragedi tewasnya Bertrand Eko Prasetyo (18) akibat ditambak polisi di Makassar, turut menjadi perhatian DPR RI. Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB, Abdullah, mendesak Polri melakukan pengusutan tuntas secara transparan dan memberikan sanksi berat guna menjaga marwah institusi serta kepercayaan publik.
Abdullah, menegaskan nyawa warga sipil tidak boleh hilang akibat kecerobohan prosedur. Ia meminta kepolisian membuka fakta secara terang-benderang untuk menghindari spekulasi liar di tengah masyarakat.
“Kasus ini harus diusut tuntas secara transparan. Jika ditemukan kelalaian atau pelanggaran prosedur, pelaku harus diberikan sanksi tegas. Jangan sampai ada kesan impunitas terhadap aparat,” tegas Abdullah dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Advertisement
Abdullah mengingatkan penggunaan senjata api telah diatur ketat dalam Standard Operating Procedure (SOP) dan hanya boleh digunakan sebagai pilihan terakhir (last resort) saat situasi mengancam nyawa.
“Polisi harus profesional dan proporsional. Penggunaan senjata api tidak boleh dilakukan sembarangan karena risikonya sangat besar terhadap keselamatan masyarakat. Ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap prosedur penggunaan senjata di lapangan,” ujarnya.
Ia menegaskan, insiden di Makassar menambah panjang daftar kekerasan senjata api oleh aparat terhadap warga sipil. “Polri harus memperketat pengawasan, pelatihan, dan kedisiplinan anggota yang memegang izin senjata api agar kejadian serupa tidak berulang,” ungkapnya.
Ia memastikan Komisi III akan mengawal ketat proses hukum ini, baik secara etik maupun pidana, demi memberikan keadilan bagi keluarga Bertrand.
“Penegakan hukum harus berjalan adil. Kami akan terus memantau agar proses hukum objektif dan memberikan rasa keadilan bagi keluarga korban. Setiap tindakan aparat harus berlandaskan prinsip akuntabilitas,” pungkasnya.
Remaja Tewas Ditembak Polisi di Makassar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519845/original/086968100_1772599289-penembakan.jpg)
Sebelumnya, seorang remaja berusia 18 tahun di Makassar meninggal dunia setelah diduga tertembak oleh oknum anggota kepolisian. Korban diketahui bernama Betrand Eka Prasetyo Radiman. Insiden maut itu terjadi di Jalan Toddopuli Raya, kawasan Paropo, Kecamatan Panakkukang, pada Minggu pagi, 1 Maret 2026.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyampaikan bahwa anggota polisi yang diduga melepaskan tembakan telah menjalani pemeriksaan oleh Propam di tingkat Polrestabes hingga Polda.
"Kami sudah melakukan tindakan kepada anggota kami yang melakukan tindakan penembakan terhadap korban dan telah dilakukan pemeriksaan secara intensif," ujar Arya.
Ia menjelaskan, pemeriksaan dilakukan untuk mendalami secara menyeluruh rangkaian kejadian serta memastikan apakah tindakan yang diambil sudah sesuai prosedur atau justru mengandung unsur pidana.
Menurut Arya, peristiwa bermula ketika anggota tersebut baru saja menyelesaikan patroli dan hendak kembali ke rumah sekitar pukul 07.00 Wita. Namun, melalui Handy Talky (HT), ia menerima informasi dari Kapolsek Rappocini terkait aktivitas sekelompok remaja di wilayah Toddopuli.
"Bahwa di wilayah Toddopuli tersebut ada anak-anak yang sedang ramai, sekitar puluhan orang begitu melakukan tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat dengan senjata (mainan) omega (peluru jelly)," tuturnya.
Dari data yang diterima Liputan6.com, sekelompok remaja itu diduga menembak warga dan pengguna jalan yang melintas di Jalan Toddopuli menggunakan senjata mainan berpeluru jelly.
Arya menegaskan, aktivitas tersebut tidak sekadar permainan biasa. Aksi puluhan remaja itu disebut telah mengganggu pengguna jalan dan warga sekitar.
"Ada yang didorong sampai jatuh, ada juga merasa terganggu sampai terluka," katanya.
Advertisement
Sempat Beri Tembakkan Peringatan
Berdasarkan laporan itu, oknum anggota polisi tersebut kemudian mendatangi lokasi dengan tujuan membubarkan kerumunan remaja yang dianggap meresahkan. Saat tiba di tempat kejadian perkara, polisi melihat korban tengah terlibat tindakan yang dinilai tidak pantas terhadap seorang warga.
"Sebelum mobilnya berhenti melihat adik kita ini, almarhum Betrand sedang melakukan tindakan yang kurang pantas kepada salah satu warga. Sehingga begitu turun (dari mobilnya) korban langsung dipegang," jelas Arya.
Dalam situasi tersebut, polisi disebut sempat melepaskan satu kali tembakan peringatan ke udara, yang membuat kelompok remaja lain melarikan diri. Namun, ketika korban dipegang, terjadi perlawanan.
"Sehingga tidak sengaja terletus senjatanya mengenai salah satu bagian tubuhnya, di bagian pantat begitu," ujar Arya.
Usai tertembak, korban sempat dilarikan ke RS Grestelina untuk mendapatkan perawatan medis, sebelum akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara. Namun nyawa korban tidak tertolong.
Arya menyebut, korban telah menjalani proses otopsi, dan hasil lengkapnya akan disampaikan oleh dokter forensik.
"Tapi sementara memang hasilnya meninggalnya karena pendarahan yang cukup masif," tandasnya.
Ia juga menegaskan bahwa kepolisian tidak akan menutup kemungkinan adanya sanksi pidana maupun etik apabila ditemukan pelanggaran.
"Melihat alasan, tindakan juga, apakah itu proper atau tidak, dan kalau ada tindak pidana, kita juga akan lakukan tindakan terhadap anggota kami yang melakukan (penembakan)," ucapnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5212534/original/027146800_1746617467-WhatsApp_Image_2025-05-07_at_13.38.17_3fa0f93f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1371708/original/005900800_1476258392-Makassar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8888290/original/030850900_1782938816-Senegal_s_Habib_Diarra__21__scores_their_first_goal_against_Belgium_goalkeeper_Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8898171/original/047299800_1782942914-Belgium_s_Romelu_Lukaku_senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8896227/original/086707700_1782942096-Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782402/original/009814100_1782885154-belanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8901298/original/009057900_1782944367-Belgium_s_Youri_Tielemans__left__celebrates_with_Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8899597/original/014754500_1782943656-Belgian_players_celebrate_youre_tieleman_s_goal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261500/original/047650500_1781713643-bosnia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263358/original/034169000_1781903942-063_2282397014.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8860259/original/052842500_1782927734-063_2284210517.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8679732/original/063438400_1782727549-WhatsApp_Image_2026-06-28_at_23.07.03.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5336106/original/093385500_1756854662-IMG_7958.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263888/original/074262200_1782028382-Depositphotos_643683280_L.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263639/original/016182700_1781947723-778419.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263612/original/095035500_1781945422-777874.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263266/original/063472100_1781873628-775009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262806/original/030546800_1781849066-773543.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261817/original/031020200_1781758697-769133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260136/original/069719400_1781577134-pengungkapan-kasus-pembunuuhan-drw1.jpeg)