Pria Mengaku Aparat yang Aniaya 3 Pegawai SPBU di Jaktim Ditangkap

Polisi bergerak cepat meringkus pria mengaku aparat yang menganiaya tiga pegawai SPBU di kawasan Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur.

Diterbitkan 24 Februari 2026, 16:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Polisi bergerak cepat meringkus pria yang mengaku aparat dan melakukan penganiayaan terhadap tiga pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur AKBP Dicky Fertoffan membenarkan penangkapan tersebut.

“Baru nerima infonya. Infonya sudah diamankan,” kata Dicky saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026).

Dicky belum banyak mengulas rincian operasi penangkapan pelaku penganiayaan tiga pegawai SPBU itu. Yang pasti, satu orang telah diamankan.

“Satu,” ujar dia.

Sebelumnya, polisi menyelidiki dugaan penganiayaan terhadap tiga pegawai SPBU yang terjadi Minggu, 22 Februari 2026 sekitar pukul 22.00 WIB.

“Iya ini lagi lidik,” ujar Dicky.

Menurut dia, peristiwa bermula saat terduga pelaku hendak mengisi BBM jenis Pertalite. Namun, permintaan itu tidak dilayani petugas karena pelat nomor kendaraan tidak sesuai peruntukan.

“Yang bersangkutan mau isi Pertalite tidak dilayani oleh SPBU. Plat-nya tidak sesuai. Tidak untuk peruntukannya,” sambungnya.

Terkait pelaku yang disebut mengaku aparat, Dicky belum berkomentar jauh.

“Lagi lidik, doain ya keungkap ini lagi di lapangan,” tandasnya.

 

Pengakuan Pegawai SPBU

Tiga pegawai yang dianiaya yakni Ahmad Khoirul Anam yang sudah bekerja lima tahun sebagai staf, Lukmanul Hakim selaku operator yang bekerja setelah lulus SMK, dan Abud Mahmudin selaku operator yang sudah empat tahun bekerja.

Aparat tersebut menampar pipi Khoirul Anam. Sementara Lukman dipukul di rahang sebelah kanan. Sedangkan Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut hingga giginya copot.

Pemilik SPBU 3413901 Ernesta langsung melaporkan kejadian penganiayaan terhadap pegawainya ke Polsek Pulogadung. Pihak Propam juga sempat mendatangi lokasi.

"Kami sudah laporkan juga ke Polsek Pulo Gadung seberang SPBU, dan pegawai-pegawai saya yang luka-luka juga sudah divisum," kata Ernesta. Demikian dikutip dari Antara, Selasa (24/2/2026).

Dia juga mengakui kejadian itu membuatnya trauma dan khawatir karena pelaku bisa saja datang kembali. Pelaku sempat menyebut dirinya memiliki jabatan tinggi, sehingga membuat para operator merasa terintimidasi.

"Takutnya dia datang lagi nyari saya. Dia sempat manggil-manggil nama saya. Kita hanya orang biasa. Takutnya dia balik lagi bawa backing-an. Jadi, masih khawatir," ucap Lukman.

Tak hanya Lukman, dua operator lain yang turut menjadi korban penganiayaan, yakni Ahmad Khoirul Anam dan Abud Mahmudin juga memilih beristirahat di rumah masing-masing. Meski tidak menjalani perawatan di rumah sakit. Namun keduanya shock pascainsiden tersebut.

 

Dipukul hingga Gigi Patah

Abud juga menceritakan penganiayaan yang dia alami. Pukulan pelaku di bagian pipi membuat giginya patah.

"Gigi saya patah jadi setengah doang, tidak rata. Berdarah karena sarafnya kena pas dihajar bagian pipi," kata Abud.

Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti awal mula keributan yang terjadi di lokasi kerjanya. Saat peristiwa itu berlangsung, dia hanya berniat melihat situasi karena mendengar kegaduhan di area depan SPBU.

"Saya tidak tahu awalnya gimana. Niatnya cuma mau tahu aaja, kayak kepo doang karena ada kerusuhan. Namanya juga di lingkungan kerja," ujar Abud.

Saat itu rekannya lebih dulu terlibat cekcok dan sempat ditampar oleh pelaku. Melihat rekannya dipukul, Abud refleks mendekat. Namun, dia mengaku tidak ikut berbicara ataupun terlibat dalam perdebatan.

"Saya cuma lihat doang, tidak ngomong sama sekali. Tapi malah saya yang ditandain," ucap Abud.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6