Guru Besar UI Kembangkan Limbah jadi Material Konstruksi Beton Ramah Lingkungan

Guru Besar UI Sotya Astutiningsih membuat beton berbahan limbah ramah lingkungan untuk menekan risiko pengurangan sumber daya alam.

Diterbitkan 14 Februari 2026, 16:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Guru Besar Tetap Bidang Material Konstruksi dan Bangunan Ramah Lingkungan Universitas Indonesia (UI) Sotya Astutiningsih mengembangkan material beton dari limbah industri untuk meningkatkan kebutuhan perumahan dan infrastruktur berbasis kelestarian lingkungan.

Menurut Sotya, pemanfaatan bahan baku sekunder menjadi kunci penting dalam memenuhi kebutuhan produksi barang bangunan.

Bahan baku sekunder yang digunakan dapat berupa material keluaran dari produk samping atau limbah yang dimanfaatkan sebagai masukan pada proses produksi lain.

Limbah yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan Batubara, misalnya, menyumbang hampir 60% sumber energi di Indonesia. Residu ini bersifat reaktif yang dikenal sebagai abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash).

"UI berkolaborasi dengan SIG meneliti abu terbang dari berbagai sumber PLTU di Indonesia sebagai bahan baku sekunder, baik untuk menggantikan sebagian klinker pada semen Portland (SCM, supplementary cementitious materials) maupun sebagai bahan dasar (prekursor) semen geopolymer," ujar Sotya dilansir Liputan6.com dari laman resmi Universitas Indonesia (UI) www.ui.ac.id, Jumat 13 Februari 2026.

Sotya menyoroti bahwa lonjakan populasi dunia meningkatkan kebutuhan perumahan dan infrastruktur yang berpotensi menekan sumber daya alam. 

Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan nasional tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Melalui inovasi ini, ia berharap dapat menciptakan pembangunan yang ramah lingkungan di Indonesia.

Berbagai Bahan Sekunder Pembentuk Beton

Sotya menemukan terdapat lebih dari 75% bahan geopolimer berasal dari limbah seperti abu terbang dan terak. 

Bahan ini dinilai lebih hemat karena sudah berbentuk serbuk halus dan tidak perlu digiling lagi, hanya perlu digunakan sebagai campuran semen Portland.

Selain abu terbang, terak feronikel merupakan bahan baku sekunder paling prospektif untuk agregat beton. Terak feronikel ditimbulkan dari pengolahan bijih nikel lateritik pada smelter. 

Berbagai penelitian di UI menunjukkan mortar maupun beton berbahan terak feronikel sebagai agregat memiliki kuat tekan lebih tinggi dibandingkan mortar atau beton berbahan pasir biasa atau pasir kuarsa.

Tim peneliti Fakultas Teknik (FTUI) membuat formulasi semen geopolimer berbasis terak nikel dari proses pembuatan nickel pig iron yang digiling menjadi serbuk halus dan menggunakan terak feronikel dari proses RKEF di PT Aneka Tambang sebagai agregat. 

Dari eksperimen ini, dihasilkan beberapa paten dan hasilnya dilanjutkan dengan uji coba aplikasi pada produk beton pracetak bekerja sama dengan PT Jaya Beton Indonesia.

Beton dari Cangkang Sawit Lebih Tahan Gempa

Selain itu, terdapat palm kernel shell atau cangkang kelapa sawit (CKS) yang dimanfaatkan sebagai pengganti agregat batu pecah pada beton. 

Penelitian ini didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Hasil penelitian menemukan bahwa dampak lingkungan dari penggunaan CKS sebagai agregat beton dibandingkan dengan agregat daur ulang serta agregat alam bersifat kontekstual bergantung pada kebutuhan performa mekanis dan aspek geografis. 

Dari sisi performanya, beton CKS memiliki kekuatan dan pola keruntuhan serta perilaku di bawah beban yang mirip dengan beton biasa namun lebih ulet, menjadikannya lebih tahan gempa.

Pemanfaatan bahan baku sekunder dalam industri konstruksi tidak hanya membuka peluang pengurangan limbah industri dan emisi karbon, namun juga memperkuat ketahanan pasokan material nasional. 

"Penelitiannya terkait pemanfaatan bahan baku sekunder ini merupakan bagian dari peta jalan riset berkelanjutan di bidang rekayasa material konstruksi ramah lingkungan yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir," jelas Sotya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6