Dari Gaza ke Cawang: Kisah Kakak-Beradik Asal Palestina Bertahan Hidup Lewat Donasi Demi Berobat Kanker

Bermodal seadanya dan niat menyelamatkan diri dari konflik, keduanya berusaha lari menuju negara yang diyakini dapat menerimanya dengan ramah: Indonesia.

Diterbitkan 12 Februari 2026, 07:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemandangan tak biasa muncul saat melintas jalur penyeberangan transportasi umum yang menghubungkan Stasiun LRT Cikoko dan Stasiun KRL Cawang. Dua sosok pemuda berparas timur tengah berdiri tepat di bawah tangga lantai 2 jalur tersebut, dengan membawa kotak donasi bertuliskan Palestina. 

Selain paras, kedua pemuda tersebut juga menggunakan atribut Palestina, seperti syal, topi dan bendera kecil yang digenggamnya bersama kotak donasi. 

Menurut warga yang kerap melintas jalur itu, keberadaan mereka bukan muncul sesekali. Tapi hampir setiap hari, mereka berdiri di titik yang sama. 

Mengonfirmasi hal itu, awak redaksi Liputan6.com mendekat dan berdialog dengan keduanya, pada Rabu sore (12/2/2026). Mereka mengaku bernama Basil dan Khaled

Membuka percakapan, Basil dan Khaled menyatakan tak mampu berbahasa Indonesia. Mereka hanya bisa bercakap dalam dua bahasa, Inggris dan Arab. Dengan izin, keduanya bersedia menceritakan kisahnya.

Awal kedatangannya ke Indonesia dimulai empat bulan yang lalu. Mereka tiba sebagai penyintas atas konflik berkepanjangan tempat tinggalnya di Gaza. Bermodal seadanya dan niat menyelamatkan diri, mereka berusaha lari menuju negara yang diyakini dapat menerimanya dengan ramah, Indonesia.

"Kami datang sendiri dan tiba sejak empat bulan yang lalu. Kami lari dari Gaza menuju Mesir. Dari Mesir ke sini. Karena seperti yang Anda tahu, tidak ada penerbangan langsung dari Gaza. Jadi kami pindah melalui jalur 'bawah tanah' hingga ke Mesir, dari Mesir kami beli tiket dan datang ke Indonesia. Karena Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang mengizinkan kami masuk begitu tiba di bandara," kata Khaled.

Khaled menjelaskan, mereka hanya perlu mengurus visa on arrival sesuai regulasi yang disyaratkan pemerintah Indonesia. Mereka memastikan, kehadirannya di Jakarta bukanlah WNA ilegal atau penyelundup.

"Kami legal, bahkan ketika mengurus visa kedatangan, petugas menyambut ramah karena melihat paspor Palestina. Kami kemudian membayar biaya masuk sebagai syarat administrasi visa on arrival," kata Khaled. 

Guna menjamin legalitasnya, Khaled dan Basil juga mengaku sudah lapor diri ke kantor UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) untuk melaporkan keberadaannya selama di Indonesia. Tujuannya, agar aktivitas mereka terpantau dan memiliki izin tinggal tanpa harus memperpanjang rutin ke pihak imigrasi.

"Aktivitas kami di sini atas sepengetahuan mereka, sebagai warga dunia yang mencari perlindungan dari negara asal yang sedang berkonflik," jelas Khaled.

Dengan tabungan terbatas, keduanya mengaku tidak memiliki sanak dan kerabat selama di Indonesia. Mereka mendanai kegiatan hariannya sendiri, seperti untuk makan, minum dan tempat tinggal. Namun petaka terjadi ketika tabungan semakin menipis dan Khaled harus menjalani pengobatan di RSCM akibat menderita kanker di wilayah perut.

"Adik saya sakit. PBB (UNHCR) tidak membantu. Kami mencoba mencari solusi untuk membiayai pengobatan dan paspor adik saya juga ditahan di rumah sakit (sebagai jaminan tidak kabur)," tutur Basil.

"Ya, paspor saya ditahan, sebab masih ada tunggakan biaya berobat lebih dari Rp6 juta," sahut Khaled.

Khaled menuturkan, akibat kanker dideritanya, dia sudah dioperasi dua kali, 2014 dan 2017. Namun seiring dengan waktu, pada sebulan terakhir dirinya harus kembali rutin berobat.

"Setiap dua minggu saya ke rumah sakit, tapi saya tidak dapat menebus obat setiap saat karena harganya mahal. Satu jenis obat berkisar Rp 1 juta’an. Padahal ada 7 jenis yang harus ditebus," beber Khaled.

"Karena itulah, kami berdiri sepanjang hari di sini. Kami tidak akan seperti ini jika tidak dalam kondisi tersebut," timpal Basil.

 

Tidak Ada Bantuan PBB

Saat harus menjaminkan paspornya, Khaled mengatakan kepada pihak RSCM untuk berkoordinasi terlebih dahulu dengan UNHCR di Jakarta. Pihak RS mengaku sudah melakukan hal itu, namun UNHCR mengatakan tidak dapat membantu.

"Saya dirawat di sana selama tiga hari. Mereka merawat saya tiga hari, dan tiga hari itu biayanya lebih dari 6 juta. Dan saya bilang kepada mereka saya tidak bisa membayar jumlah tersebut. Saya bilang saya orang Palestina dari Gaza dan ini paspor saya. Saya bilang kalian bisa bicara dengan PBB. Lalu pihak rumah sakit bicara dengan PBB, tapi mereka (PBB) menolak untuk menanggung biayanya," ungkap Khaled.

Khaled mengklaim, berdasarkan alasan diterimanya dari pihak terkait, PBB dalam hal ini tidak menanggung urusan medisnya.

Saat Liputan6.com bertanya apakah keduanya pernah menghadap langsung ke kantor perwakilan UNHCR di Jakarta, keduanya menjawab hal tersebut sulit dilakukan. Sebab butuh membuat janji di awal hingga dicari waktu bertemu, prosesnya tidak instan. Sementara kondisi mendesak.

"Kami harus buat janji dulu dan untuk membalas janji, butuh waktu berbulan-bulan. Mungkin satu bulan, dua bulan, tiga bulan. PBB di sini sangat buruk! Ada orang yang kondisinya lebih buruk dari saya, dengan kursi roda, mereka juga tidak menanggungnya," sesal Khaled.

Nomaden dari Masjid ke Masjid

Selama di Jakarta,  Basil dan Khaled mengaku tidak punya tempat tinggal tetap. Mereka pindah dari masjid ke masjid untuk dapat singgah dan bermalam. Kebanyakan, para pengelola masjid membolehkan tidak lebih dari tiga hari. Alhasil, mereka pun harus mencari masjid lainnya. 

Namun dalam sebulan terakhir, ada sebuah masjid di wilayah Gajah Mada yang berkenan menerimanya lebih lama, hingga satu bulan. Tetapi dalam waktu dekat, mereka sudah diminta angkat kaki.

"Banyak masjid yang setelah waktu Isya, mereka menutup dan mengunci. Tidak banyak tempat yang bisa digunakan untuk bermalam. Paling lama tiga hari, lalu kami cari lagi. Tapi sebulan ini kami di Gajah Mada, ada masjid yang bolehkan kami tinggal tapi tidak lama lagi diminta pergi, mungkin karena sudah terlalu lama," beber Khaled.

 

Tanpa Arah dan Tujuan

Khaled dan Basil saat ini tanpa arah dan tujuan. Fokusnya hanya untuk bertahan hidup dan berusaha menebus paspor yang dijadikan jaminan pengobatan. 

"Kami tidak tahu (sampai kapan di Indonesia), jika menunggu tindakan PBB, bisa memakan waktu bertahun-tahun," ungkap Khaled. 

Sebagai negara dengan mayoritas populasi Muslim terbesar di dunia, Basil dan Khaled menaruh harapan besar uluran tangan organisasi dan kelompok peduli Palestina. Namun hingga kini, belum ada gayung bersambut.

"Belum ada, kami dengar memang banyak organisasi dan kelompok pro Palestina di Indonesia tapi kami tidak tahu mereka dimana lokasinya atau kantornya, kami bingung," jelas Khaled.

Hal yang dapat dilakukan saat ini oleh Khaled dan Basil hanya meminta donasi seikhlasnya dari orang-orang yang melihatnya.  Memang diakui pendapatan diterima hanya bisa membeli air dan snack demi mengganjal perut, tentu tidak cukup untuk menebus biaya rumah sakit.  

"Saya berharap begitu (ada komunitas yang dapat membantu), siapa pun, kami membutuhkan uluran tangan itu, untuk obat-obatan. Namun memang, apa yang kami dapat setiap harinya dari cara seperti ini harus memilih antara membeli obat atau makanan," urai Khaled.

Meski berharap dibantu, Khaled dan Basil kini lebih waspada karena tidak sedikit pihak yang hanya ingin menjadikannya objek kapital. Karena itu, saat berbincang dengan Liputan6.com, keduanya hanya bersedia direkam suara tanpa dokumentasi visual. 

Hal ini guna memastikan betul informasinya tidak disalahgunakan untuk komoditas konten yang akhirnya bertujuan mencari sumbangan ke publik melalui rekening para oknum tanpa disalurkan ke mereka.

"Tapi jika ada pihak yang ingin benar-benar membantu, kami bersedia dan terbuka, kami bisa tunjukkan bagaimana kami tinggal, semua dokumen legal yang kami punya dan bawa dan bisa menghubungi nomer kami 087766671674," tegas Basil.

Meski situasinya sulit,  ada satu hal yang masih disyukuri keduanya, yaitu kegiatan mereka tidak ada yang mengusir. Keduanya menuturkan, otoritas setempat tidak ada yang melakukan penertiban sejak hari pertama ada di lokasi tersebut.

"Mereka baik-baik. Apalagi saat tahu kami dari Gaza, rasa persaudaraan antar muslim yang kuat, kami pun dibiarkan sampai hari ini," Basil menandasi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6