Pramono Minta Pelajar Siram Air Keras di Jakpus Ditindak Tegas: Tidak Ada Kompromi

Pramono menegaskan tidak akan menoleransi segala bentuk kekerasan yang membahayakan keselamatan masyarakat apalagi melibatkan pelajar

Diterbitkan 10 Februari 2026, 11:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Gubernur DKI Pramono Anung tegaskan tidak kompromi kekerasan pelajar.
  • Tiga pelajar diamankan polisi terkait penyiraman air keras di Jakarta Pusat.
  • Penyiraman acak ini melukai mata korban, pelaku menyerang duluan.

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tak memberi kompromi pelajar yang berbuat onar. Sikap tegas Pramono ini usai mengetahui ada pelajar yang disiram air keras oleh tiga siswa sekolah lain. Peristiwa itu terjadi di Jakarta Pusat.

Pramono mengatakan perbuatan menyiramkan air keras masuk kategori kekerasan serius dan meminta aparat untuk menindak tegas para pelaku.

"Siapa pun yang melakukan tindakan itu, itu sudah tindakan kekerasan," kata Pramono di Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, katanya, tidak akan menoleransi segala bentuk kekerasan yang mengancam keselamatan masyarakat, khususnya yang melibatkan pelajar.

“Saya minta untuk diambil tindakan tegas. Enggak ada kompromi untuk itu,” ucapnya.

Tiga Pelaku Sudah Diamankan

Diketahui, Polisi mengamankan tiga pelajar terkait kasus penyiraman air keras di Jalan Cempaka Raya, Jakarta Pusat. Dua di antaranya masih di bawah umur, sementara satu pelaku berusia 18 tahun.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra mengatakan, ketiga pelajar tersebut diketahui berada di luar Jakarta. Lokasi mereka berpencar di Karawang, Cikarang, dan Depok. Namun, para pelaku datang secara kooperatif setelah diminta hadir oleh penyidik.

“Enggak. Kita enggak tangkap. Kita hadirkan. Jadi kita secara persuasif, minta hadirkan orangnya. Karena kan mereka lagi di luar kota, tiga orang itu,” kata dia kepada wartawan, Senin (9/2/2026).

Roby menyebut, ketiganya kini masih menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Pusat selama 3x24 jam.

“Iya, sekarang masih di pemeriksaan,” katanya.

Hasil pemeriksaan awal, ketiga pelajar tersebut merupakan siswa salah satu SMA di Jakarta Pusat. Antara pelaku dan korban tidak saling mengenal. Penyiraman dilakukan secara acak saat berpapasan di jalan.

“Jadi keterangannya itu hanya random saja. Mereka itu lihat anak-anak sekolah lain di seberang jalan, kebiasaannya kalau begitu takutnya mereka yang diserang, mereka menyerang duluan. Intinya sih mereka berperilaku agresif duluan. Tapi korbannya random," ucap dia.

Akibat kejadian itu, satu pelajar mengalami cedera di bagian mata. Korban sempat dirawat di rumah sakit. Tapi kini sudah berada di rumah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6