Tas Pelajar SMP Pelempar Molotov Penuh Nama Pelaku Penembakan: Stephen Paddock hingga Adam Lanza

Densus 88 Antiteror Polri menyatakan bahwa tas milik pelajar pelempar molotov di SMPN 3 Sungai Raya tertulis sejumlah nama dari pelaku penembakan massal.

Diterbitkan 04 Februari 2026, 18:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Tas pelajar pelempar molotov berisi nama pelaku penembakan massal dan simbol ekstrem.
  • Nama-nama tersebut sering jadi referensi komunitas ekstrem online dan kekerasan nihilistik.
  • Pelaku korban perundungan dan masalah keluarga, melampiaskan balas dendam di sekolah.

Liputan6.com, Jakarta - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menyatakan bahwa tas milik seorang pelajar pelempar molotov di SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, pada Selasa, 3 Februari 2026 tertulis sejumlah nama dari pelaku penembakan massal.

“Nama-nama yang tertera adalah pelaku penembakan massal dan sering dijadikan referensi di komunitas ekstrem online,” kata Juru Bicara Densus 88 Kombes Mayndra Eka Wardhana di Jakarta, Rabu (4/2/2016), seperti dilansir dari Antara.

Mayndra merinci, nama pertama yang ditulis di tas tersebut adalah Stephen Paddock, yang merupakan pelaku penembakan massal Las Vegas 2017. Sekitar 59 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka saat pria itu memuntahkan peluru ke arah festival musik Route 91.

“Insiden ini termasuk penembakan paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat modern,” jelas dia.

Nama kedua adalah Adam Peter Lanza, seorang pelaku penembakan Sandy Hook Elementary School 2012. Peristiwa tersebut diketahui  menewaskan 20 anak-anak usia sekolah dasar dan 6 staf guru.

“(Adam Peter Lanza) sering dijadikan simbol ekstrem kekerasan nihilistik,” ungkapnya.

Lalu, nama ketiga adalah Seung-Hui Cho, pelaku penembakan Virginia Tech 2007 yang menewaskan 32 orang di kampus. Kasus penembakan tersebut menjadi salah satu kasus awal yang banyak dianalisis dalam studi tentang lone wolf dan alienasi sosial.

 

 

Tak Cuma Nama Pelaku Penembakan

Nama keempat adalah Salvador Ramos, pelaku penembakan di Uvalde, Texas, pada tahun 2022. Pelaku menargetkan Sekolah Dasar Robb dan menewaskan 19 siswa dan 2 guru, serta melukai 17 orang lainnya.

Selanjutnya, nama kelima adalah Luca Traini yang merupakan pelaku penembakan bermotif rasial di Macerata, Italia 2018.

“(Luca Traini) berafiliasi dengan ideologi ekstrem kanan,” kata Mayndra.

Nama terakhir adalah Brenton Tarrant, pelaku serangan teror di Christchurch, Selandia Baru pada tahun 2019. Perbuatannya menewaskan 51 jemaah Muslim di dua masjid setempat.

Selain nama pelaku penembakan massal, anak tersebut juga menuliskan #ZERO DAY dan TCC pada tasnya. Mayndra menjelaskan, istilah #ZERO DAY sering dipakai dalam subkultur kekerasan ekstrem dan merujuk pada hari eksekusi serangan.

“Ini juga terkait dengan narasi film Zero Day tentang penembakan sekolah,” imbuhnya.

Sementara itu, TCC mengacu pada True Crime Community, sebuah komunitas yang menyebarkan paparan ekstremisme dan ideologi kekerasan.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa anak tersebut merupakan korban perundungan dan memiliki keinginan untuk balas dendam terhadap teman-temannya yang kerap kali melakukan perundungan terhadapnya. Selain itu, sang anak juga diduga kuat menghadapi masalah keluarga.

 

Jadi Pelampiasan Balas Dendam

Balas dendam itu kemudian dilampiaskan dengan melakukan aksi kekerasan di sekolah.

Sebelumnya, Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade, menjelaskan, pelaku datang ke lingkungan sekolah dan melemparkan botol berisi bahan bakar yang memicu percikan api dan kepulan asap.

Beruntung, pihak sekolah bersama warga sekitar sigap melakukan penanganan awal sehingga api cepat dipadamkan dan tidak merambat ke bangunan utama maupun ruang kelas.

Personel Polsek Sungai Raya langsung mengamankan lokasi, sementara Tim Inafis Satreskrim Polres Kubu Raya mengumpulkan barang bukti untuk kepentingan penyelidikan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6