Rawan Bencana, UGM Pasang Sistem Peringatan Dini Banjir untuk Warga Bener Meriah Aceh

Universitas Gadjah Mada (UGM) memasang sistem peringatan dini banjir di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, menyusul banjir susulan yang kembali terjadi pada akhir 2025.

Diterbitkan 15 Januari 2026, 12:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banjir susulan yang kembali terjadi di Kabupaten Bener Meriah, Aceh pada penghujung 2025 mendorong penguatan upaya mitigasi di wilayah rawan bencana tersebut. 

Menindaklanjuti kondisi tersebut, tim Universitas Gadjah Mada (UGM) memasang Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) banjir di kawasan terdampak, khususnya Desa Lampahan Timur dan Desa Lampahan Induk, Kecamatan Timang Gajah, yang sempat terendam akibat luapan sungai.

Program ini dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat UGM yang diketuai Dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM Adhy Kurniawan bekerja sama dengan Pusat Studi Energi (PSE UGM) dan Universitas Teuku Umar. 

Kegiatan tersebut didukung hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisainstek) melalui skema Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana.

Sistem EWS yang dipasang dirancang mandiri energi dengan panel surya serta dilengkapi sensor ketinggian muka air, CCTV pemantauan aliran sungai, dan sirine peringatan untuk memberi sinyal dini kepada warga saat potensi banjir meningkat. 

Penentuan lokasi pemasangan EWS dilakukan berdasarkan kajian atas pola banjir yang berulang melanda kawasan tersebut, khususnya setelah terjadinya banjir susulan pada akhir 2025. 

"Pemilihan lokasi pemasangan EWS didasarkan pada kejadian banjir susulan akhir tahun 2025 di Desa Lampahan Timur," ujar Adhy, melansir Antara, Kamis (15/1/2026). 

Tantangan Akses dan Pemasangan

Adhy mengatakan, proses pemasangan EWS banjir di Kabupaten Bener Meriah tidak berlangsung mudah. Tim harus menghadapi tantangan logistik dan akses wilayah yang cukup berat sejak tahap pengiriman peralatan dari Yogyakarta menuju Aceh. 

Sebanyak 31 paket kargo berisi komponen EWS dikirim secara bertahap, menyesuaikan kondisi transportasi dan medan yang harus ditempuh.

"Dari Banda Aceh ke Bireuen saja bisa lebih dari enam jam, lalu dilanjutkan ke Bener Meriah enam jam lagi. Akses jalan dan cuaca memang cukup berat," kata Adhy.

Kondisi geografis Aceh bagian tengah menjadi tantangan tersendiri dalam proses menuju lokasi pemasangan. Faktor cuaca dan kondisi jalan turut memengaruhi kelancaran distribusi peralatan dan mobilitas tim selama di lapangan.

Setelah seluruh peralatan tiba di lokasi dan melalui tahap perakitan, tim mulai melakukan pekerjaan teknis di lapangan. Pemasangan EWS akhirnya dilakukan pada 2 Januari 2026 di Desa Lampahan Timur, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah. 

Seluruh proses pemasangan dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat, guna memastikan lokasi, keamanan alat, serta pemahaman awal warga terhadap fungsi sistem peringatan dini tersebut.

Fungsi Sistem dan Jangkauan Peringatan Dini

Sistem EWS dirancang dengan dua unit pengeras suara yang dipasang pada arah berbeda untuk memperluas jangkauan suara peringatan, sehingga dapat terdengar hingga ke beberapa kawasan permukiman. 

Selain itu, EWS dilengkapi kamera CCTV yang memungkinkan pemantauan visual kondisi sungai secara berkala, dengan rekaman yang dapat diakses melalui laman pemantauan untuk mendukung kewaspadaan dini. 

"Harapannya, saat sirine berbunyi, warga sudah paham itu tanda muka air naik dan harus bersiap, misalnya mengamankan barang-barang penting," ucap Adhy.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sistem peringatan dini diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan warga agar dapat segera bersiap saat potensi banjir muncul.

Keberlanjutan dan Pengembangan Sistem

Pemasangan EWS di Bener Meriah menjadi yang ketiga dilakukan tim UGM di Aceh, setelah sebelumnya dua sistem serupa dipasang di Pulau Simeulue pada 2024 melalui program Kosabangsa serta di wilayah Meulaboh pada 2025 bekerja sama dengan Universitas Teuku Umar dan Universitas Cipta Mandiri. 

"Alhamdulillah, lokasi bisa ditentukan dengan cepat dan penempatan alatnya lancar, peralatan utama kami bawa dari Jogja, di sini hanya beli tiang-tiang pendukung," kata Adhy.

Terkait keberlanjutan, pengelolaan dan perawatan EWS diserahkan kepada masyarakat dan pemerintah daerah, dengan peluang penerapan di wilayah rawan banjir lain ke depan.

"Alat ini kami serah-terimakan ke masyarakat, karena konsep dari sistem peringatan dini itu yang penting dia berfungsi sebelum kejadian bencana untuk memberikan peringatan. Bisa saja nanti dikembangkan jadi beberapa titik dan dipantau lewat satu dashboard, tapi itu bertahap," terang Adhy.

Sistem EWS dirancang fleksibel dan dapat dipindahkan jika diperlukan. Apabila ke depan BPBD menilai perlunya pemindahan lokasi, perangkat EWS dapat direlokasi dengan mudah karena telah dilengkapi GPS yang menyesuaikan titik koordinat secara otomatis. Sistem ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

"Semoga alat ini dirawat dan difungsikan dengan baik sehingga bisa memberi peringatan dini sebelum banjir terjadi. Ini kontribusi kecil kami untuk masyarakat Aceh," pungkas Adhy.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6