Munas Pemuda Hidayatullah Soroti Peran Strategis Generasi Muda Indonesia

Dalam menjawab tantangan global, Sumpah Pemuda adalah fondasi ideologis pergerakan kepemudaan Indonesia.

Diterbitkan 09 Januari 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Sumpah Pemuda adalah fondasi ideologis pergerakan pemuda Indonesia hadapi tantangan global.
  • Indonesia miliki potensi demografi dan ekonomi besar, butuh pemuda terampil relevan.
  • Disrupsi ciptakan "lonely economy" namun juga peluang kewirausahaan baru bagi pemuda.

Liputan6.com, Jakarta - Pemuda Hidayatullah menggelar Musyawarah Nasional (Munas) IX, Kamis (8/1). Dalam kesempatan tersebut, CEO Anata Development Group, Reza Pranata hadir sebagi pembicara yang menyampaikan Peran Strategis Pemuda Indonesia.

Menurut dia, dalam menjawab tantangan global, Sumpah Pemuda adalah fondasi ideologis pergerakan kepemudaan Indonesia.

"Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa merupakan titik temu visi kolektif yang mempersatukan pemuda lintas latar belakang. Dari sinilah identitas nasional Indonesia dibangun dan terus dirawat hingga hari ini," kata Reza seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (9/1/2026).

Reza memaparkan, proyeksi Indonesia di masa depan menunjukkan potensi besar. Menurut data, pada 2026 Indonesia memiliki sekitar 40,3 juta penduduk berusia di bawah 30 tahun, dengan pendapatan per kapita mencapai 5.520 dolar AS. Selain itu, pada 2030, jumlah konsumen diperkirakan menembus 135 juta jiwa, dengan 71 persen populasi tinggal di kawasan urban yang memproduksi sekitar 86 persen produk domestik bruto. Bahkan pada 2050, Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia.

"Potensi demografi dan ekonomi tersebut hanya akan bermakna jika pemuda dibekali keterampilan yang relevan. Sejumlah keahlian paling dibutuhkan menuju 2030, di antaranya literasi digital, pemasaran digital, analisis data, kecerdasan buatan, keamanan siber, serta soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan berpikir kritis," jelas Reza.

"Berbagai keterampilan ini menjadi prasyarat untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045," imbuhnya.

 

Disrupsi

Reza menegaskan, perubahan zaman juga ditandai oleh disrupsi besar dalam dunia bisnis. Perbandingan antara masa lalu dan masa kini, di mana model bisnis konvensional tergeser oleh platform digital.

"Transformasi ini melahirkan apa yang disebut sebagai lonely economy, sebuah fenomena ekonomi yang muncul akibat gaya hidup individual dan digitalisasi yang semakin meluas. Ciri utamanya antara lain meningkatnya jumlah rumah tangga yang hidup sendiri, koneksi digital sebagai komoditas, serta perubahan pola relasi sosial," tutur dia.

Walau begitu, Reza mendorong optimisme terhadap pemuda. Sebab, fenomena tersebut melahirkan peluang usaha baru.

"Kewirausahaan bukan semata urusan bisnis, melainkan cara pandang dalam melihat dan merespons perubahan. Entrepreneurship is a mindset that allows you to see opportunity everywhere," dia menandasi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6