BNPB Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca Terbesar Sepanjang Sejarah, 9 Pesawat Dikerahkan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengintensifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) serta percepatan normalisasi sungai di sejumlah wilayah terdampak banjir di Sumatera.

Diterbitkan 31 Desember 2025, 11:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengintensifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) serta percepatan normalisasi sungai di sejumlah wilayah terdampak banjir di Sumatera.

Operasi Modifikasi Cuaca yang saat ini berjalan melibatkan jumlah pesawat terbanyak sejak OMC pertama kali dilakukan di Indonesia.

"Kita masih terus mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca, bahkan total 9 pesawat ini termasuk operasi paling besar yang pernah kita lakukan dalam sejarah kita melakukan OMC di Indonesia," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Konferensi Pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa 30 Desember 2025.

"Tetapi ini ada satu keharusan kita harus memastikan supaya progres berjalan tidak terganggu oleh bencana susulan," sambung dia.

Abdul menegaskan, fokus BNPB saat ini tidak semata pada potensi hujan ekstrem, tetapi kondisi infrastruktur pengendali air yang belum sepenuhnya pulih pascabencana.

Dia menjabarkan, penanganan difokuskan pada dua jalur utama, yakni rekayasa cuaca untuk mengendalikan hujan serta pemulihan fisik sungai dan drainase agar kembali optimal.

"Sekali lagi, atensi kita sebenarnya saat ini tidak hanya hujan ekstrem, karena hujan intensitas sedang pun itu bisa membuat banjir, karena daya tampung dari drainase primer saat ini saluran-saluran air itu sangat terbatas," ucap Abdul.

"Upaya ini dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum serta unsur TNI dan Polri," sambung dia.

 

Normalisasi Sungai Dikebut Cegah Banjir Susulan

Menurut Abdul, BNPB juga memberi perhatian khusus pada titik-titik rawan seperti jembatan darurat dan ruas sungai yang masih menyimpan banyak material sisa bencana.

Dia memastikan operasi ini akan terus dioptimalkan demi mencegah bencana lanjutan.

"OMC masih terus kita lakukan, saat ini Aceh 4 pesawat, Sumatera Utara 2 pesawat, dan Sumatera Barat 3 pesawat," ucap Abdul.

Dia menjelaskan, normalisasi sungai menjadi perhatian utama karena banyak alur sungai yang berubah dan dipenuhi sedimen serta material bencana.

"Pembersihan dan normalisasi sungai terus kita kebut karena ini yang kita khawatirkan. Beberapa kali hujan yang seharusnya pada kondisi normal itu enggak bikin banjir," kata Abdul.

"Tetapi karena kondisi sedimen di sungai dan beberapa sungai alurnya berubah total, daya tampung sungai itu yang sebelumnya untuk kapasitas hujan yang sebenarnya tidak bikin banjir itu bisa meluap," sambung dia.

Abdul menegaskan, langkah percepatan normalisasi sungai dan pembersihan saluran air dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi untuk mencegah terjadinya banjir susulan.

"Supaya kita sedikit demi sedikit bisa kemudian memaksimalkan lagi, mengoptimalkan lagi daya tampung air di jalur-jalur drainase primer ini," terang dia.

 

Hujan Normal Tetap Picu Banjir

Abdul menyebut, masih banyak material yang berpotensi menghambat aliran air dan memicu banjir lanjutan.

"Dan ini juga menjadi salah satu titik poin untuk atensi kita karena di setiap ruas-ruas jembatan darurat atau ruas jembatan yang masih bisa digunakan itu sangat banyak debris-debris baik itu kayu maupun barang-barang lain atau lumpur yang bisa saja menghambat kemudian bisa membuat luapan air yang bisa menjadi banjir susulan," kata dia.

BNPB mencatat, dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas sedang tetap berpotensi menimbulkan banjir karena kapasitas drainase yang menurun.

"Ini beberapa atensi khusus mengingat beberapa hari terakhir ini, meskipun kita lakukan OMC itu di Aceh 4 pesawat, tetapi memang karena kita berada pada puncak musim hujan itu tetap ada kondisi-kondisi di mana intensitas hujannya masih sebenarnya itu masih normal, bukan kondisi ekstrem," tuturnya.

"Tapi karena memang daya tampung dari drainase primer ini saat ini sedang berkurang, ini kita lakukan percepatan untuk normalisasi," pungkas Abdul Muhari.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6