Dinas Bina Marga DKI Jakarta Rampungkan Revitalisasi JPO Kyai Tapa di Jakbar

Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta melalui Bidang Prasarana dan Sarana Utilitas Kota (PSUK) telah menyelesaikan revitalisasi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Kyai Tapa, Grogol Petamburan, Jakarta Barat (Jakbar).

Diterbitkan 27 Desember 2025, 00:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta melalui Bidang Prasarana dan Sarana Utilitas Kota (PSUK) telah menyelesaikan revitalisasi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Kyai Tapa, Grogol Petamburan, Jakarta Barat (Jakbar).

Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Bina Marga DKI Jakarta Siti Dinarwenny, revitalisasi dilaksanakan selama empat bulan mulai bulan Agustus sampai dengan Desember 2025.

"Pada 23 Desember 2025, JPO Kyai Tapa telah resmi dibuka kembali," ujar Siti saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (26/12/2025) melansir Antara.

Dia menjelaskan,, JPO tersebut memiliki panjang 47 meter dan lebar 2,6 meter, serta dilengkapi lampu hias RGB (red, green and blue) dan videotron, dengan desain yang terinspirasi dari ondel-ondel dan motif sarung Betawi.

"Desainnya terinspirasi dari rangka dinamis ondel-ondel dan motif kain sarung Betawi berbentuk segitiga kuning, menghadirkan kesan kokoh, dinamis, sekaligus menjadi daya tarik baru kota Jakarta," ucap Siti.

Diketahui, beberapa hari lalu, viral di media sosial seorang netizen yang menyampaikan keluhan terkait JPO Kyai Tapa tak kunjung dibuka meski sudah rampung direvitalisasi.

Pria dalam video itu juga mengaku kesulitan menyeberang karena tak adanya pelican crossing di bawah JPO sejak proses revitalisasi pada Agustus 2025.

 

 

Jakbar Gencarkan Penambalan Turap Kali yang Bocor, Antisipasi Banjir Akibat Luapan

Sebelumnya, Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Barat (Sudin SDA Jakbar) menggencarkan penambalan turap atau 'sheetpile' kali yang bocor untuk mengantisipasi banjir akibat luapan kali.

"Kita sudah lakukan penambalan oleh Sudin SDA," ujar Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah saat dikonfirmasi di Jakarta, melansir Antara, Jumat (26/12/2025).

Menurut dia, turap yang bocor memperparah penanganan banjir. Hal itu ditambah jika banjir rob di Jakarta Utara meluas hingga ke wilayah Jakarta Barat.

"Ya memang ketika ada kejadian air rob kan tidak bisa kita hindari. Kemudian ketika (genangan air) mau kita dorong kembali ke laut dengan pompa juga enggak bisa, bakal balik lagi," ucap Iin.

Apalagi, lanjut dia, dengan curah hujan yang datang dari darat atau dari aliran air, kemudian dari rob bertemu. "Itu pasti akan 'deadlock' (buntu)," kata Iin.

Karena itu, Iin meminta masyarakat untuk menjaga fasilitas turap agar penanganan genangan bisa berjalan optimal. Selain itu, ia juga meminta agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan agar aliran air tidak tersumbat atau dangkal.

"Beberapa waktu lalu ada yang bolongi 'sheetpile'. Jadi tolong kerja sama kita jaga fasilitas kita. Sampah juga buang pada tempatnya, jangan ke badan kali," terang Iin.

Sejumlah turap yang bocor di Jakarta Barat (Jakbar) memperparah genangan air atau banjir. Beberapa di antaranya terletak di Pesing Poglar dan Jelambar Baru.

 

Penambalan Turap Bolong

Iin menjelaskan, penambalan turap-turap bolong itu untuk sementara dilakukan menggunakan karung pasir. Berdasarkan keterangan dari Suku Dinas (Sudin( SDA Jakbar, penambalan permanen akan dilakukan dalam waktu dekat.

"Pemerintah Kota (Pemkot) Jakbar juga menggencarkan pengerukan sedimen lumpur di saluran air di wilayah setempat untuk mengantisipasi cuaca ekstrem karena berpotensi menyebabkan banjir," terang dia.

Iin mengatakan, cuaca ekstrem di Jakarta diprediksi bisa terjadi hingga Januari 2025."M "Kita ketahui bahwa BMKG merilis bahwa memang cuaca ini tidak terprediksi sampai dengan Januari. Jadi, kita harus siap siaga," ujar Iin.

Menurut dia, pengerukan sedimen saluran air di Jakarta Barat penting dilakukan karena terdapat 13 kali besar, seperti Kali Ciliwung.

"Jakarta Barat berbatasan dengan daerah lain, dari Tangerang masuk lewat kita, kemudian dari Ciliwung juga masuk ke kita lewat Kali BKB (Banjir Kanal Barat)," ucap Iin.

"Karena itu, prinsipnya bahwa konsep hulu ke hilir ini perlu dijaga. Jangan sampai ada sedimen lumpur," jelas Iin.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6