Asa Mujilah, Bangkit dari Abu Sisa Kebakaran Pasar Kramat Jati

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran itu meski ratusan lapak dagang hangus menjadi abu.

Diterbitkan 24 Desember 2025, 10:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pagi itu, api berkobar hebat di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Si jago merah mengamuk dan melalap Los C2 Sub Grosir Buah.

Peristiwa itu menghanguskan ratusan kios dan barang dagangan. Api datang tanpa aba-aba, merambat cepat, dan meninggalkan lubang besar dalam hidup banyak orang.Meski tak ada korban jiwa, kejadian itu telah merenggut rasa aman dan harapan para pedagang pejuang nafkah

Di antara puing hitam dan bau plastik terbakar di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Mujilah masih tetap berdiri memandangi puing-puing los yang selama puluhan tahun menjadi ruang hidupnya, tempat ia memasak, bekerja, dan mengasuh orang-orang yang ia anggap keluarga sendiri.

Suaranya pun masih menyimpan getar trauma saat mengingat api begitu sangat cepat melalap kiosnya, dalam pengakuannya si jago merah itu langsung melahap semua Los buah tersebut dalam waktu 15 Menit.

Perempuan kelahiran Malang, 1964 itu sudah hampir tiga dekade menggantungkan hidup dari warung lauk pauk khas Jawa Timur. Pecel, rujak cingur, tempe gembus, tepo tahu, menu yang mengobati rindu kampung halaman bagi para sopir dan pedagang asal Malang yang setiap hari keluar-masuk pasar terbesar di Jakarta itu.

“Usaha yang dirintis dari awal, hilang dalam beberapa detik,” ucap Mujilah lirih saat berbincang dengan Liputan6.com akhir pekan lalu.

Transaksi Penjualan Kembali Berdenyut

Sehari setelah kebakaran, aktivitas pasar perlahan bergerak kembali. Timbangan kembali berdenting, pepaya disusun ulang, dan pembeli mulai datang meski bau sisa plastik terbakar masih menggantung di udara.

Pantauan Liputan6.com di lokasi, pedagang yang mayoritas penjual pepaya mulai menata dagangan di area lapak yang masih menyisakan bekas kebakaran.

Api Datang dari Sebelah

Warung Mujilah menjadi titik terdepan yang terdampak kebakaran di Los C2 Sub Grosir Buah. Dari 121 kios yang hangus, warungnya termasuk yang pertama dilalap api.

“Itu dari dempet saya, mas. Toko plastik itu dempetan sama saya. Nomor satu titik api yang kena,” kata Mujilah, menunjuk puing-puing hitam yang kini tinggal rangka.

Api berasal dari gudang plastik di atas kios sebelah, tempat penyimpanan tali rafia dan bahan plastik mudah terbakar. Ketika angin berembus kencang, api tak butuh waktu lama untuk merambat.

“Cepet banget. Cuma 15 menit langsung ludes. Campur angin,” ujarnya.

Saat api mulai menjalar, Mujilah tak sempat menyelamatkan apa pun. Bahkan sepeda motor Honda Revo miliknya yang terparkir di depan warung tak bisa ia dekati.

“Panik, udah gak bisa mikir apa-apa. Mau ngambil motor juga gak berani. Plastik meleleh netes-netes, takut. Yaudah lari aja,” kenangnya.

Bau plastik terbakar memenuhi udara. Asap tebal membuat napas sesak. Dalam kepanikan itu, ia memilih menyelamatkan nyawa.

“Uang juga ikut kebakar semua,” katanya singkat.

Modal Hidup yang Jadi Abu

 

Kerugian Mujilah ditaksir mencapai Rp75 juta. Uang tunai lebih dari Rp10 juta, hasil penjualan lima hari, hangus bersama perabot dapur, kompor, panci, meja, dan stok bahan makanan.

“Itu uang mau buat bayar kontrakan, mas. Eh kebakar,” ujarnya sambil tertawa kecil, tawa yang berusaha menutup duka.

Warung itu bukan sekadar tempat usaha. Dari situlah Mujilah membayar sewa lapak Rp18 juta per bulan untuk tiga petak, membayar kontrakan rumah, dan menggaji empat karyawan perempuan yang sudah seperti keluarga sendiri.

Ketika api benar-benar melahap warungnya, Mujilah tak kuasa menahan diri.

"Saya nangis, langsung gelempoh saya, ngerti gelempoh enggak? Langsung brukkk aja, lemes saya, duduk disana saya ditimbangan mobil, aduh ya Allah, langsung istighfar mas, gak pernah lihat seumur-umur," kenangnya

Malam setelah kebakaran menjadi malam yang panjang. Mujilah tak bisa tidur. Bayangan api terus berputar di kepalanya.

"Kebayang api tuh, brrrrrr gitu lho, muter-muter whoaahh, heran saya, kayak angin topan, makanya, mau nyelamatin motor aja gak bisa, takut," ujarnya

“Trauma. Deg-degan terus bawaan nya," sambungnya.

Keesokan harinya, Mujilah kembali ke lokasi. Ia berharap masih ada sisa yang bisa diselamatkan. Namun yang tersisa hanyalah abu.

“Gak kelihatan apa-apa. Kompor, gelas, semua lembut jadi abu,” katanya.

Ia sempat bercanda saat menemukan kerangka motor Revo miliknya yang hangus.

“Ternyata di situ motornya,” ujarnya sambil tersenyum pahit.

 

Belum Jualan, Tapi Tak Diam

Hingga Rabu (17/12/2025), Mujilah belum kembali berjualan. Namun ia tidak tinggal diam.

“Hari ini saya mau survei tempat. Mau bikin tenda di pinggir, yang ada pohon itu,” katanya.

Ia memilih tak menunggu terlalu lama penampungan sementara dari pemerintah.

“Kalau kelamaan, kasihan karyawan. Mereka kan perlu kerja,” ujarnya.

Di tengah duka, Mujilah masih memikirkan nasib empat karyawannya.

Diketahui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjanjikan bantuan Rp5 juta per pedagang serta pembangunan penampungan sementara dalam lima hari. Namun hingga saat itu, Mujilah belum menerima apa pun.

“Kalau dikasih ya Alhamdulillah. Tapi jauh banget dari kerugian,” katanya jujur.

Meski begitu, ia tak kehilangan harapan. Pelanggan setianya berdatangan ke rumah, malam setelah kebakaran, menawarkan bantuan.

“Ada yang nawarin kompor, panci, meja,” ujarnya terharu.

Warung yang Dicari Orang

Sejak 1995, Mujilah berjualan di Pasar Induk Kramat Jati. Ia mengaku menjadi salah satu pedagang paling lama yang masih bertahan.

“Yang lain seumuran saya udah pada istirahat, Saya belum, paling tua dan lama saya disini” katanya.

Warungnya dikenal sebagai tempat makan para sopir pepaya asal Malang. Meski warungnya terbakar, para pelanggan yakin Mujilah akan kembali.

“Pasti dicariin. Warung Bu Mujilah di mana?” katanya menirukan pelanggan.

Bertahan Karena Hidup

Saat ditanya apa yang ingin ia katakan jika api bisa bicara, Mujilah terdiam sejenak.

“Kok punya saya dibakar semua ya, tapi ya namanya musibah,” ujarnya pasrah.

Hari ini, ia menggambarkan dirinya sebagai perempuan yang sedang membangun ulang hidupnya dari nol.

“Insya Allah mulai lagi. Orang langganan pasti nyari,” katanya.

Di Pasar Induk Kramat Jati, api telah menghanguskan kios dan harta benda. Namun semangat Mujilah, belum benar-benar padam.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6