Melihat Rumah Alex di Tangerang: Tempat Dugaan Akhir Perjalanan Alvaro

Ayah tirinya, Alex Iskandar, diduga kuat menjadi pelaku pembunuhan yang terjadi di rumah mereka di Periuk, Kota Tangerang, rumah yang kini dipasangi garis polisi.

Diterbitkan 26 November 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Alvaro Kiano Nugroho, bocah berusia 6 tahun yang hilang diculik delapan bulan, ditemukan tewas di kawasan Tenjo, Kabupaten Bogor, oleh ayah tirinya, Alex Iskandar. 

Diduga Alex menghabisi anak tirinya di sebuah rumah di Kelurahan Periuk, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang. Kini rumah tersebut sudah dipasangi garis polisi, Rabu (26/11/2025).

Berdasarkan pantauan Liputan6.com, rumah berkelir hijau dengan ditutup tirai bambu, catnya tampak memudar, menyisakan kesan lusuh yang menempel pada setiap sudut. Tak ada suara dari dalam, hanya keheningan yang menyelimuti kediaman Alex.

Di teras, kesan rumah yang telah lama ditinggalkan semakin kuat. Jemuran baju masih menggantung seadanya, beberapa pasang sandal tergeletak berantakan, dan sebuah motor dibiarkan terparkir tanpa tanda pernah dipindahkan.

Usut punya usut, motor matic tersebut disebut milik mertuanya Alex, Tugimin.

Ketua RT, Kastiah, mengaku memang sempat melihat Alex di rumah tersebut sebelum insiden pembunuhan Alvaro terjadi. Pernah mencoba memanggil, tapi tak mendapat balasan.

"Saya saat itu coba melihat-lihat ke dalam rumah dari depan pagar, saya coba panggil juga, tapi enggak pernah ada jawaban," ungkap dia.

Alex yang menghuni rumah tersebut sejak 2015, disebut tak akrab dengan warga sekitar.

"Alex memang sudah di sini dari 2015 lalu, tapi selama saya menagih iuran sampah enggak pernah direspon, Alex enggak pernah ke luar, benar-benar tertutup," kata Kastiah.

Mengenang Alvaro Kiano dari Gang Sempit di Pesanggrahan

Duka menyelimuti Gang Al-Muflihun 1, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, sejak kepergian Alvaro Kiano Nugroho. Bocah berusia 6 tahun ini hilang diculik delapan bulan lalu. Alvaro ditemukan tak bernyawa, tinggal kerangka. Dia menjadi korban kekerasan ayah tirinya, Alex Iskandar.

Gapura kecil dengan sisa-sisa ornamen bulan kemerdekaan masih berdiri di mulut gang. Tepat di sisi gapura, sebuah bendera kuning duka digantung. Setengah layu diterpa angin, di bagian tengahnya tertera nama “Alvaro bin Agus”.

Nama yang menjadi pertanda. Kehilangan itu bukan hanya milik satu keluarga, tetapi milik seluruh penghuni gang. Sebuah duka yang bergelayut di atas gang kecil  itu. Kisah tragis Alvaro menyelinap pelan dalam ingatan orang-orang di sekitarnya.

Kisah tragisnya membawa duka yang menutup gang kecil itu dengan kesunyian. Termasuk di mata seorang ibu tetangga Alvaro, yang tak ingin disebutkan namanya.

Sejak awal, dia selalu menenangkan keluarga Alvaro. Dia berpesan pada kakek dan nenek Alvaro. Agar mendoakan bacaan Al-Fatihah 41 kali. “Sebut namanya, pasti pulang,” katanya saat berbincang dengan Liputan6, Senin (24/11/2025).

Di gang inilah, warga tumbuh bersama kenangan tentang bocah yang dikenal rajin beribadah, ceria, dan gemar jajan. Suasana di gang ini berubah drastis. Anak-anak yang dulu bermain dan berlarian bersama Alvaro, kini tak sama lagi.

Kesedihan yang muncul bukan hanya kehilangan seorang anak, melainkan kehilangan sebuah warna yang selama ini melapisi kehidupan mereka sehari-hari.  

Bagi banyak warga, Alvaro bukan sekadar bocah biasa yang tinggal di ujung gang. Dia adalah bagian dari denyut kehidupan dan rutinitas kecil yang tanpa disadari telah mengikat rasa sayang mereka.

“Sudah seperti cucu sendiri,” ujar ibu tersebut dengan suara pelan menahan getir.

Ibu itu masih ingat jelas kebiasaan kecil Alvaro. Sering pula Alvaro bermain atau sekadar mampir untuk meminta jajan, terutama saat kakeknya sedang tidak membawa uang.

Tawa kecilnya, sifatnya yang rajin salat, kegemaran jajan, rengekan manja meminta uang, meninggalkan lubang besar yang tak dapat diisi lagi.

“Rajin salat, waktu puasa kemarin, emang pada rajin sih anak-anak kecil di sini salat nya di masjid.” sambungnya.

Jerit Tangis Pilu Ibunda

Kasih ibu sepanjang masa. Inilah yang dirasakan oleh ibunda Alvaro, bocah kecil yang harus direnggut nyawa di tangan ayahnya sendiri.

Perempuan itu masih terdiam dengan tatapan kosong, memeluk erat kenangan bersama putranya yang ia harap bisa diulang kembali.

Arum, ibunda Alvaro tak pernah terbayang akan kehilangan malaikat kecilnya dalam waktu yang begitu singkat. Tak banyak waktu yang ia habiskan bersama putranya. Arum sendiri adalah tulang punggung keluarga. Dia berlapang dada mempertaruhkan nasibnya di negeri orang demi menghidupi keluarganya.

Dia rela terpisah jauh asal putra tercintanya masih bisa hidup dengan layak. Namun, kerinduan Arum berbalas kematian sang putra. Mendengar kabar Alvaro Kiano Nugroho yang sempat hilang dan ditemukan tak bernyawa, Arum menangis histeris.

"Ya, histeris ya pasti ya. Heboh sendiri gitu kayak, ah ini beneran kayak masih nggak nyangka gitu lah," tutur Arum ketika diwawancarai Liputan6.com pada Selasa malam 25 November 2025.

Perasaan Arum tak terbendung. Ditangan orang yang pernah ia percaya, Alvaro tewas mengenaskan. Jasadnya hanya tersisa tulang belulang dan duka dalam yang tak pernah padam.

"Ya, gimana sih? Pastikan kayak orang kesamber petir lah ya. Campur aduk, berantakan semua," ucap Arum dengan mata berkaca.

Tanpa pikir panjang, Arum yang saat itu tengah bekerja di luar negeri langsung terbang ke tanah air. Dengan hati penuh harap, ia mencari keberadaan Alvaro bersama pelaku. Selama ini, Arum tak pernah menaruh curiga pada mantan suaminya.

"Waktu itu di bulan Maret, itu kan kejadiannya bulan Maret, bulan April baru bisa pulang kesini. Ya udah, bulan April kesini. Itu cari. Terus nyari dan nyari sama pelaku ya. Dia selalu ngikut," cerita Arum.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6