Kerap Turun ke Akar Rumput, Seskab Teddy Dinilai Perkuat Praktik Empathetic Governance

Teddy belakangan memilih turun langsung ke akar rumput seperti mengunjungi sekolah rakyat.

Diterbitkan 16 November 2025, 03:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Akademisi Universitas Nasional, Amsori Baharudin Syah, menilai kiprah Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menandai pergeseran penting dalam praktik kepemimpinan birokrasi di Indonesia.

Tidak lagi sekadar menjalankan peran teknokratis, Teddy justru memilih turun langsung ke akar rumput, seperti mengunjungi sekolah rakyat.

“Apa yang dilakukan Teddy Indra Wijaya adalah bentuk dari pelayanan publik. Ia hadir bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia yang mau mendengar,” ujar Amsori dalam keterangannya, Sabtu (15/11).

Amsori menilai pendekatan Teddy menghadirkan model kepemimpinan publik yang jarang terlihat pada pejabat setingkat kabinet. Dalam banyak birokrasi modern, pejabat umumnya berfungsi sebagai pengambil keputusan strategis di balik ruang rapat. Namun Teddy, kata dia, justru memindahkan sebagian ruang kerjanya ke tengah masyarakat.

“Di mata saya, Teddy hadir sebagai wujud negara yang mengasuh, bukan mengatur. Ini penting, karena negara tidak cukup hanya membuat aturan, negara harus hadir dalam rasa, hadir dalam kehidupan warganya,” jelas Amsori.

Kehadiran fisik pejabat tinggi negara, lanjut Amsori, memiliki dampak psikologis kuat. Masyarakat merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Dalam situasi di mana jarak antara pemerintah dan rakyat kerap terasa lebar, Teddy justru menembus batas tersebut.

Amsori menyebut gaya kepemimpinan Teddy sejalan dengan konsep “empathetic governance”, sebuah pendekatan dalam teori kepemimpinan publik yang menekankan kehadiran emosional, bukan hanya struktural.

Ia menjelaskan bahwa menurut teori Hannah Arendt tentang “power as acting in concert”, kekuasaan politik sejati muncul ketika pemimpin berada dalam ruang yang sama dengan rakyat dan membangun kepercayaan melalui tindakan konkret.

Kekuasaan bukan berasal dari jabatan, melainkan dari keberhasilan membangun hubungan sosial.

“Teddy tidak sedang menunjukkan kuasa administratif, tetapi kuasa moral. Ia membangun legitimasi dengan mendengarkan, bukan memerintah,” kata Amsori.

Pendekatan ini, menurutnya, menjadi modal penting bagi birokrasi modern yang menuntut pemimpin untuk adaptif, inklusif, dan dekat dengan realitas sosial.

Bagi Amsori, langkah Teddy mengunjungi sekolah rakyat merupakan simbol dari semangat state nurturing, negara yang hadir untuk merawat, menguatkan, dan memanusiakan warganya.

Ia menilai gestur sederhana seperti duduk bersila bersama anak-anak, berbicara santai dengan orang tua, atau mendengarkan keluhan tanpa catatan protokol justru menjadi tindakan administratif paling kuat.

“Banyak pejabat bicara soal pelayanan publik, tetapi sedikit yang hadir sebagai manusia. Teddy melakukannya. Itu yang membuat pesan kepemimpinannya berbeda,” sambungnya.

Gestur responsif semacam ini, menurut Amsori, juga memperkuat citra kabinet sebagai institusi yang tidak hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi juga memahami realitas lapangan tempat kebijakan itu bekerja.

Amsori menambahkan bahwa perubahan gaya kepemimpinan seperti ini sangat relevan dalam konteks politik kontemporer Indonesia.

Di tengah tingkat skeptisisme publik terhadap pejabat negara, pendekatan empatik dan rendah hati dapat menjadi jembatan untuk memulihkan kepercayaan.

“Teddy menunjukkan bahwa negara yang kuat adalah negara yang mau mendengar,” tutup Amsori.

 

Survei Indikator Sebut Tingkat Popularitas Seskab Teddy Capai 50,8 Persen, Ini Alasannya

Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei soal tingkat popularitas menteri Kabinet Merah Putih pada satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka.

Salah satu figur pejabat non-Menteri Koordinator yang paling dikenal publik yakni, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.

Hasil survei terbaru Indikator Politik Indonesia menunjukkan tingkat awareness atau kedikenalan Teddy Indra Wijaya mencapai 50,8 persen. Hal ini menempatkannya di posisi ketiga secara keseluruhan.

Teddy berada di bawah Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir serta Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dalam grafik 10 Pejabat/Menteri Terpopuler, Teddy Indra Wijaya berada di atas sejumlah Menteri Koordinator dan Kepala Lembaga penting lainnya. Angka ini menandakan keberhasilan Teddy dalam membangun profil publik di tengah isu-isu pemerintahan yang krusial.

Founder dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi menyebut tingginya tingkat kepopularitas Teddy sebagai fenomena politik yang menarik dan patut dicermati. Pasalnya, Seskab bukanlah pejabat yang memiliki wewenang sebesar menteri koordinator atau menteri teknis lainnya.

"Posisi Sekretaris Kabinet secara tradisional bukanlah jabatan yang memiliki sorotan media sebesar Menteri Koordinator atau Menteri teknis yang berurusan langsung dengan proyek fisik," kata Burhanuddin saat menyampaikan hasil survei bertajuk ‘Evaluasi Publik Atas Kinerja Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran secara virtual, Sabtu (8/11/2025).

Menurut dia, hal tersebut menunjukkan bahwa publik sangat memperhatikan sosok di lingkaran inti Presiden.

Burhanuddin mengindikasikan bahwa Teddy Indra Wijaya berperan sangat krusial dalam menyampaikan kebijakan dan keputusan penting di balik layar kepresidenan.

Perannya sebagai penjaga gerbang informasi dan administrasi Presiden kemungkinan besar terekspos dalam isu-isu besar. Kedua, terkait efektivitas komunikasi.

"Meskipun bukan jabatan yang sering tampil di front-line, tingginya awareness ini bisa mencerminkan efektivitas komunikasi yang dibangun Seskab, baik melalui pernyataan publik terbatas maupun kehadirannya yang konsisten mendampingi Presiden dalam momen-momen penting," tutur dia.

Di sisi lain, awareness Teddy yang mencapai lebih dari 50 pesen melampaui beberapa figur kunci. Termasuk, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto (34,2%), Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar (44,6%), dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (42,1%).

Tak hanya itu, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Teddy sebagai Seskab juga mencapai 84,5 persen. Dia hanya terpaut sedikit di atas Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang berada peringkat atas.

Survei Indikator dilakukan secara tatap muka, dalam rentang 20-27 Oktober 2025, menempatkan 1.220 responden dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6