Alissa Wahid Kritisi Perilaku Gus Elham: Itu Menodai Nilai Dakwah

PBNU melalui Alissa Wahid menyerukan agar setiap pendakwah memegang teguh nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah serta Maqashid Syariah, dengan menempatkan perlindungan martabat manusia sebagai prioritas utama.

Diterbitkan 12 November 2025, 11:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNUAlissa Wahid, mengkritisi perilaku pendakwah Elham Yahya Luqman atau yang biasa disapa Gus Elham yang disebut tidak mencerminkan akhlakul karimah.

Nama Gus Elham menjadi viral di media sosial setelah beredar foto serta gerakan kampanye yang mengecam perilakunya di medsos. Dalam foto gerakan kampanye tersebut berisi kolase Gus Elham tengah mencium anak-anak perempuan.

 

Menurut Alissa Wahid, perilaku tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap nilai kemanusiaan dan prinsip dakwah bil hikmah yang menjadi ciri dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin.

"Itu menodai nilai-nilai dakwah sendiri yang seharusnya memberikan teladan melalui sikap dan lakunya kepada umat," kata Alissa seperti dilansir dari Antara, Rabu (12/11/2025).

Dia menjelaskan, Nahdlatul Ulama (NU) mewarisi amanah besar untuk membangun kemaslahatan umat dengan berpegang pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah.

Karena itu, lanjut Alissa, menolak keras segala praktik yang mencederai Maqashid Syariah (tujuan penerapan syariat), terutama perlindungan terhadap kehormatan manusia (hifdz al-‘irdh), tanpa memandang usia, status, maupun kedudukan sosial.

"Prinsip maqashid syariah inilah yang harus dipegang dan menjadi pertimbangan utama para pendakwah," jelas dia.

Selain itu, kata Alissa, PBNU menekankan penghormatan tinggi ke para kiai didasarkan pada keulamaan, kearifan sebagai sosok pengasuh, serta peranannya sebagai pengayom jamaah. Penghormatan ini menurutnya amanah dan seyogyanya, setiap tokoh agama wajib menjaga diri dan berperilaku sebagai uswatun hasanah bagi umat.

"Sebab sejatinya kiai-nyai, pendakwah secara umum juga merupakan guru yang sudah sepantasnya digugu dan ditiru," kata Alissa.

 

 

NU Harus Ciptkan Ruang Aman dan Bermartabat

Sejalan dengan itu, PBNU mengajak seluruh elemen jamaah dan jam’iyah NU untuk menciptakan ruang yang aman dan bermartabat bagi semua insan, terutama bagi mereka yang lemah seperti anak-anak, santri, dan perempuan.

Sebagai bentuk tanggung jawab kelembagaan, PBNU telah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan di Pesantren (SAKA). Tim ini dibentuk secara aktif bekerja menanggulangi praktik kekerasan, pelecehan, dan bentuk penyimpangan lainnya di lingkungan pesantren NU.

"Pembentukan SAKA merupakan wujud nyata komitmen PBNU dalam menjaga marwah pesantren serta memastikan lingkungan dakwah dan pendidikan Islam tetap berlandaskan kasih sayang, akhlak mulia, dan perlindungan terhadap kemanusiaan, serta maqashid syariah," ungkap Alissa.

PBNU menegaskan kembali tidak ada ruang bagi kekerasan, pelecehan, dan penyalahgunaan otoritas dalam dakwah Islam.

"Dakwah harus menumbuhkan kemuliaan, bukan menistakan martabat manusia," kata Alissa.

Respons Tegas Wamenag: Tidak Pantas

Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi'i buka suara, merespons perilaku Mohammad Elham Yahya Luqman atau biasa disapa Gus Elham yang mencium anak-anak perempuan. Romo Syafi'i menganggap perbuatan itu tidak pantas, apalagi dilakukan oleh seseorang yang dianggap pemuka agama.

“Kita sepakat dengan publik, bahwa itu tidak pantas!,” kata Romo Syafii di Jakarta, Selasa (11/11/2025). Dikutip dari Antara.

Sebelumnya beredar foto serta gerakan kampanye yang mengecam perilaku Gus Elham di media sosial. Dalam foto gerakan kampanye tersebut berisi kolase Gus Elham tengah mencium anak-anak perempuan.

Banyak warganet menganggap hal tersebut menjijikkan dan tak pantas dilakukan oleh seseorang yang dianggap sebagai pemuka agama. Namun adapula yang beranggapan hal tersebut sebagai ekspresi kasih sayang.

Romo Syafi'i menjelaskan Kemenag telah memiliki pedoman tegas mengenai lingkungan ramah anak di madrasah dan pesantren melalui Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam.

"Ada surat keputusan dari Dirjen Pendis tentang madrasah dan pesantren ramah anak yang intinya agar anak-anak madrasah, anak-anak pesantren mendapatkan pemenuhan haknya sebagai peserta didik dan jauh dari tindak kekerasan yang tidak seharusnya mereka terima,” ujarnya.“Tentu saja kasus-kasus itu mungkin tetap ada ya, tapi kita tadi sepakat agar ke depan pengawasannya lebih ditingkatkan agar peristiwa itu bisa hindari," lanjut Wamenag.

Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan pemanggilan atau penelusuran terhadap pihak terkait, Romo Syafi'i mengatakan pengawasan dan penertiban merupakan bagian dari langkah Kemenag untuk memastikan keteladanan dalam ruang publik keagamaan.

“Tadi kan sudah kita sampaikan, pengawasan itu termasuk itu, supaya tidak terulang. Bahkan terhadap yang bersangkutan memang harus ada upaya mengembalikan kepada posisinya, jika tidak mengulangi perbuatan-perbuatannya,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6