Pidato Kebudayaan Afrizal Malna: Libatkan Rakyat Kecil hingga Seniman Wujudkan Global City Jakarta

Sastrawan ternama di Indonesia Afrizal Malna melalui Pidato Kebudayaan menegaskan kesempatan ini merupakan momentum yang bernilai adiluhung atau bernilai tinggi sehingga perlu dijaga.

Diterbitkan 11 November 2025, 17:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seni bukan hanya representasi dari sebuah karya, tetapi juga representasi dari kehidupan kecil masyarakat kota. Siapa pun bisa menikmati dan menciptakan seni bersama, inilah yang diungkapkan oleh seorang sastrawan ternama di Indonesia Afrizal Malna.

Malna hadir sebagai wajah dari seniman Indonesia yang ikut menyuarakan isu-isu sosial lewat seni. Melalui Pidato Kebudayaan bertajuk 'Suara Bajaj dari Cikini', ia menegaskan kesempatan ini merupakan momentum yang bernilai adiluhung atau bernilai tinggi sehingga perlu dijaga.

"Ketika kawan-kawan DKJ minta saya, mengisi pidato kebudayaan ini, ini kan tradisi adiluhung Dewan kesenian Jakarta (DKJ) yang terhubung dengan peringatan ulang tahun-tahun Taman Ismail Marzuki, pidato itu adiluhung banget," tutur Malna dalam Konferensi Pers Pidato Kebudayaan Suara Bajaj dari Cikini di Graha Bhakti Budaya pada Senin 10 November 2025.

Bagi Malna, suara bajaj dari Cikini bukan sekadar tema, sepenggal kisah menarik ia simpan dibaliknya. Penggemar berat Sultan Takdir Alisjahbana itu melihat bajaj sebagai bentuk pergeseran budaya yang kian termakan teknologi.

Menurut Malna, Ibu kota Jakarta lambat laun kian berubah, termasuk hal-hal kecil seperti hilangnya becak yang tergantikan oleh bajaj. Becak sendiri memiliki makna penting untuk Malna. Baginya, ini bukan hanya kendaraan roda tiga. Malna menyimpan tumpukan kenangan bersama becak-becak yang menemaniya di masa kecil.

Namun, melihat kampanye global city yang kian merebak saat ini, Malna merasa bajaj pun akan bernasib sama dengan becak di masa kecilnya. Hal inilah yang kemudian membuatnya ingin bersuara. Dia merasa perkembangan kota semestinya tak harus menggusur masyarakat kota itu sendiri.

"Sementara yang ngilir mudik, di situ bajaj, Jadi itulah kemudian bajaj jadi judul, Suara bajaj dari Cikini gitu, Ternyata, Posisi bajaj pun sedang terancam di Jakarta," ucap Malna.

 

Gandeng Jaringan Rakyat Miskin Kota dan Voice of Baceprot

Malna tak sendiri, bersama dengan Jaringan Rakyat Miskin Kota dan Voice of Baceprot (VOB), ia berkolaborasi untuk menampilkan karya yang mewakili masyarakat. Meski gemar dengan tokoh individualis seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Malna tetap mengedepankan kolaborasi, khususnya dalam seni.

"Boleh gak individualisme ini juga dilanggar, jadi terjadi kolaborasi, tawaran saya ke teman-teman DKJ," kata Malna.

Dia juga mengutarakan antusiasmenya dalam berkolaborasi dengan sejumlah pihak di pidato kebudayaan ini. Salah satu yang menarik perhatian Malna adalah band asal garut, Voice of Baceprot. Malna mengungkapkan senang dengan karya musik mereka mengangkat permasalahan sosial di masyarakat.

"Dalam kolaborasi ini, terutama ada kawan-kawan dari VOB, saya pengagum VOB. Ya sungguh-sungguh saya pengagum VOB," cetus Malna.

Selain itu, Malna diketahui turut berkolaborasi dengan Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK). Sebuah gerakan yang lahir sebagai perwakilan dari masyarakat miskin kota dengan mengadvokasi kebijakan atau isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Malna sendiri mengungkapkan, ia dulunya merupakan salah satu dari pendiri rakyat miskin kota. Kolaborasi ini pun membuatnya bernostalgia kembali semasa aktif memperjuangkan hak-hak rakyat kecil dalam organisasi tersebut.

"Akhirnya terhubung dengan jaringan miskin kota, dimana saya pendirinya dulu, jadi ajaib gitu, ya semestanya udah bergerak kayak begitu," cerita Malna.

Singgung Global City Harus Libatkan Seniman Kota

Tak hanya bicara soal seni, Malna turut mengungkapkan sejumlah pendapatnya terkait global city. Menurutnya, pemikiran masyarakat mengenai global city saat ini hanya terfokus pada sistem kapitalistik atau perkembangan ekonomi yang terpusat di kota.

"Semuanya ingin jualan dengan global city, itu order dari siapa gitu, dan bagaimana kita mendefinisikan global city itu, mengikuti definisi apa, definisi umum tentang global city ya, Kapitalistik ya," ungkap Malna.

Sementara Malna menjelaskan, untuk membangun Jakarta sebagai global city perlu melibatkan banyak pihak dan tidak terpusat pada perdagangan ekonomi saja, tapi juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk para seniman dan budayawan.

"Bagaimana kita semua terlibat, memberi suara, apa yang kita maksud dengan global city, dan disitu ada teman-teman rakyat miskin kota, ada teman-teman VOB dari Garut, nah kira-kira kayak begitu," pungkas Malna.

 

Menyisir Gang-Gang Kota dengan Dramaturgi Teknologi

Upaya Malna untuk menyebarkan pemikiran global city yang melibatkan para seniman ini tak hanya di jalan-jalan besar. Dia berharap, dengan perkembangan teknologi yang ada, suara-suara dari para seniman mampu menembus gang-gang kecil di Jakarta.

Dia juga mengungkapkan pendekatan yang akan dilakukan untuk masyarakat akan menggunakan konsep teori dramaturgi untuk menganalisis interaksi sosial di masyarakat.

Dari sini, Malna bisa mengetahui bagaimana masyarakat mendapatkan informasi mengenai suatu hal dan memanfaatkan hal tersebut untuk memperluas suara-suara seniman kota.

"Kita gak kebayang, bagaimana ada dramaturgi yang tiba-tiba muncul di luar wilayah kesenian, dan dramaturgi itu canggih, yang sekarang ini kita sebut sebagai dramaturgi jaringan teknologi media gitu," ucap Malna.

Dengan konsep ini, Malna berharap setiap orang dapat terlibat dalam membangun seni di Jakarta. Dia ingin setiap masyarakat bisa menjadi bagian dari seni tanpa terkecuali.

"Bagaimana dramaturgi seperti ini berkolaborasi dengan tradisi kesenian yang sudah panjang. Yang tadi oleh Elen mau dibongkar, bahwa kesenian sudah menjadi sangat inklusif. Atau bagaimana kesenian itu dibuat menjadi sangat inklusif, bahwa setiap orang, Itu adalah seniman," pungkas Malna.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6