Bos Tokocrypto: Pasar Kripto Indonesia Masih Dipandang Sebelah Mata

Bos Tokocrypto menilai pasar kripto Indonesia masih dipandang sebelah mata, meski adopsi dan jumlah penggunanya terus tumbuh.

Diterbitkan 10 September 2026, 06:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah pemulihan harga Bitcoin yang kembali menembus level US$ 80.000, perhatian pasar kripto masih dibayangi berbagai sentimen ekonomi global. Mulai dari harga minyak, imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), hingga arah kebijakan The Fed.

Namun, CEO Tokocrypto Calvin Kizana justru melihat peluang yang lebih besar di pasar domestik. Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu pasar kripto yang potensinya masih kurang mendapat perhatian di tingkat global.

"Dari perspektif saya, Indonesia masih menjadi salah satu pasar yang underrated, potensinya paling dipandang sebelah mata," ujar Calvin pada acara Coinfest Asia 2026, dikutip Kamis (10/9/2026).

Pandangan tersebut bukan tanpa dasar. Berdasarkan Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025, Indonesia berada di peringkat ketujuh dari 151 negara dalam tingkat adopsi kripto grassroots.

Posisi tersebut bahkan menempatkan Indonesia di atas sejumlah negara yang selama ini lebih dikenal sebagai pusat industri kripto Asia Tenggara. Singapura, misalnya, tidak masuk dalam 10 besar indeks tersebut.

Data domestik juga menunjukkan besarnya pasar kripto Indonesia.

 

Pengguna Kripto Capai 22,93 Juta

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta hingga Juli 2026.

Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp 20,52 triliun.

Besarnya pasar tersebut turut ditopang perkembangan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mendekati US$ 100 miliar pada 2025 berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company.

Calvin menilai angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan aset kripto di Indonesia sudah memasuki tahap yang lebih matang.

"Kripto di Indonesia bukan lagi sebuah eksperimen. Kita tidak sedang memulai adopsi, tapi adopsi itu sudah terjadi," tegas Calvin.

Meski demikian, Indonesia dinilai masih kerap luput dari perhatian pelaku industri global. Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa seluruh negara Asia Tenggara dapat didekati menggunakan strategi yang sama.

Padahal, karakter setiap pasar berbeda, mulai dari regulasi, kebiasaan pembayaran, budaya, hingga ekspektasi konsumen.

"Indonesia sangat berbeda dari Singapura, Vietnam, Thailand, bahkan India. Regulasinya berbeda, perilaku pengguna dan pembayarannya berbeda, budayanya berbeda, ekspektasi konsumennya pun berbeda," ujarnya.

Bukan Sekadar Kejar Pengguna

Menurut Calvin, tantangan pasar kripto Indonesia kini bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah pengguna. Industri perlu masuk ke tahap berikutnya dengan memperkuat ekosistem dan menghadirkan manfaat yang lebih nyata bagi pengguna.

Hal itu mencakup peningkatan partisipasi institusi, integrasi dengan sektor keuangan, serta pengembangan utilitas aset kripto.

"Peluangnya sekarang adalah bergerak dari sekadar adopsi ritel menuju utilitas keuangan yang teregulasi, partisipasi institusional, dan tokenisasi," ujar Calvin.

Perubahan tersebut juga membutuhkan strategi berbeda bagi perusahaan kripto global yang ingin masuk ke Indonesia.

Calvin mengingatkan, besarnya modal bukan jaminan sebuah proyek dapat memenangkan pasar. Salah satu strategi yang dinilai kurang tepat adalah mengandalkan influencer marketing secara agresif untuk mengejar pengguna dalam waktu singkat.

"Uang bisa membeli awareness, bisa membeli download, bahkan bisa membeli volume sementara. Tapi uang tidak bisa membeli kepercayaan karena kepercayaan tidak bisa dipotong jalan pintas," ujarnya.