Prof Connie Rahakundini: Kejayaan Indonesia Tak Lagi dari Jakarta, Tapi Bangkit dari Daerah

Connie mengatakan, kepemimpinan berkesadaran adalah fondasi penting dalam membangun masa depan Indonesia yang berdaulat.

Diterbitkan 08 November 2025, 14:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kejayaan Indonesia mendatang akan bangkit dari kekuatan daerah, bukan Jakarta.
  • Pemimpin harus punya kesadaran geopolitik, kemandirian strategis, dan moral.
  • Penting memahami ancaman maritim, udara, siber, serta konsep TEPIDOIL.

Liputan6.com, Jakarta - Pakar geopolitik dan pertahanan internasional, Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, M.Si., menegaskan bahwa masa depan kejayaan Indonesia tidak lagi bertumpu pada pusat pemerintahan di Jakarta, melainkan akan lahir dari kekuatan daerah.

“Kejayaan Indonesia berikutnya tidak akan lahir dari Jakarta, tapi bangkit dari daerah-daerah, dari tanah tempat kalian berdiri dan memerintah,” ujar Prof. Connie dalam kuliah umum di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Sabtu (8/11/2025).

Dalam kuliah bertema “Meneguhkan Kembali Otonomi Strategis Indonesia dari Gerakan Non-Blok Menuju BRICS dan Kemitraan Eurasia Raya”, Guru Besar di Saint Petersburg State University, Rusia, itu menyampaikan pentingnya kesadaran geopolitik dan kemandirian strategis bagi calon pemimpin bangsa.

Connie menekankan bahwa generasi muda hari ini hidup di era penuh pilihan, tapi juga penuh ujian. Menurutnya, teknologi dan kekuasaan bisa menjadi alat kemajuan  atau justru sumber kejatuhan, tergantung pada kesadaran moral pemimpinnya.

“Kalian (praja) harus benar-benar menjaga nurani dan kesadaran karena zaman ini teknologi bisa menjadi berkah tapi juga bisa menjadi jebakan. Kekuasaan bisa menjadi alat kemajuan atau malah menjadi sumber kejatuhan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan berkesadaran adalah fondasi penting dalam membangun masa depan Indonesia yang berdaulat. Pemimpin sejati, kata Connie, harus berpikir strategis sebagai negarawan, berperasaan lembut sebagai agamawan, bertindak berani sebagai patriot, dan berjiwa sebagai pelayan rakyat.

“Inilah tugas kalian sebagai calon pemimpin. Dari tempat ini harus lahir doktrin kepemimpinan berkesadaran yang berpijak pada desentralisasi dan berakar pada TEPIDOIL,” tambahnya.

Konsep TEPIDOIL yang dimaksud meliputi delapan pilar strategis: Territory, Economy, People, Ideology, Defense, Organization, Infrastructure, dan Leadership.

 

 

Bahas Ancaman Global dan Tantangan Geopolitik

 

Dalam paparannya, Prof. Connie juga menyoroti ancaman maritim, udara, dan siber yang mengintai kedaulatan Indonesia di tengah rivalitas global. Ia mencontohkan Selat Malaka sebagai wilayah strategis yang kini menjadi target perebutan pengaruh ekonomi dan militer.

“Di bawah samudra bersemayam submarine, fiber optic cable, dan sistem komunikasi dunia yang menjadi target sabotase. Data dan citra udara kini menjadi senjata intelijen geopolitik. Itu harus kalian pahami dan pelajari sedini mungkin,” tegasnya.

Menurutnya, calon pemimpin masa depan harus memahami keseimbangan antara kekuatan pertahanan, diplomasi berperadaban, serta kemandirian ekonomi sebagai bagian dari strategi menjaga kedaulatan nasional.

 

Rektor IPDN: Praja Harus Pahami Posisi Indonesia di Dunia Global

Sementara itu, Rektor IPDN Hadiul Khairi menyebut kehadiran Prof Connie sebagai kesempatan langka bagi para praja untuk memahami dinamika geopolitik dunia secara langsung dari pakarnya.

“Praja harus paham situasi global dan posisi Indonesia saat ini. Karena kalian dipersiapkan untuk masuk ke jejaring internasional, membawa Indonesia di kancah global,” ujar Hadiul.

Ia menjelaskan bahwa IPDN terus berupaya menyiapkan praja yang tidak hanya kuat secara moral dan budaya, tetapi juga kompetitif secara global. Karena itu, IPDN kini memperkuat kurikulum dengan menambah tes TOEFL sebagai syarat masuk dan kelulusan, serta menyisipkan materi internasional dan geopolitik dalam pembelajaran.

“Selain prinsip-prinsip lokal dan akar budaya nasional yang kuat, praja juga harus mampu bersaing secara global,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6