Bahlil Nyalakan Harapan: Program Merdeka dari Kegelapan Terangi Pelosok Negeri

Program Merdeka dari Kegelapan, hasil kerja sama Kementerian ESDM dengan PT PLN (Persero), menjadi wujud nyata pemerataan energi di Indonesia.

Diterbitkan 30 Oktober 2025, 08:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Menteri ESDM resmikan listrik di Minahasa, simbol awal baru bagi desa terpencil.
  • Elektrifikasi desa adalah wujud kedaulatan negara dan pemerataan energi di Indonesia.
  • Targetnya, 11-12 desa di Sulut berlistrik penuh pada Desember 2026.

Liputan6.com, Jakarta Sore itu, udara dingin Minahasa diselimuti suasana penuh haru. Warga desa berbondong-bondong memenuhi lapangan kecil, menanti momen yang telah lama mereka impikan. Saat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menekan tombol peresmian, lampu-lampu di rumah-rumah panggung pun menyala serentak.

Cahaya pertama itu menandai awal baru bagi mereka, sebuah tanda bahwa negara hadir hingga ke pelosok. “Masih ada sekitar sebelas atau dua belas desa di Sulawesi Utara yang belum ada listriknya. Saya mau semuanya selesai tahun 2026. Desember harus sudah selesai,” ujar Bahlil, suaranya tegas namun bersahabat.

Listrik Sebagai Simbol Kedaulatan Negara

Bagi Bahlil, proyek elektrifikasi desa bukan sekadar urusan infrastruktur. “Jangan sampai daerah-daerah yang berbatasan dengan negara lain merasa tidak diurus. Ini bukan hanya soal listrik, tapi soal kedaulatan negara,” katanya disambut tepuk tangan panjang warga yang terdiri dari petani, guru, dan siswa sekolah dasar.

Bahlil mengingat betul medan ekstrem di daerah-daerah terpencil. Ia pernah menempuh perjalanan empat jam menuju Pegunungan Arfak, Papua Barat, melewati jalan licin dan tanjakan curam. “Di sana ada sungai besar yang juga jadi lokasi penambangan emas. Saya tidak tahu izinnya ada atau tidak,” katanya sambil tersenyum, membuat warga tertawa kecil.

Di wilayah itu, pembangkit listrik hanya berdaya 500 kWh. Ia segera memerintahkan peningkatan kapasitas menjadi 1 megawatt. “Kalau mau bangun, jangan tanggung-tanggung. Masyarakat di sana harus jalan jauh angkut BBM. Kalau jalan licin, truknya bukan naik, tapi malah turun masuk jurang,” ujarnya.

Wujud Nyata Pemerataan Energi di Indonesia

Program Merdeka dari Kegelapan, hasil kerja sama Kementerian ESDM dengan PT PLN (Persero), menjadi wujud nyata pemerataan energi di Indonesia. Selain pemasangan listrik gratis, Bahlil juga meresmikan PLTMH Wairara (128 kW) di Sumba Timur, PLTMH Anggi I (150 kW), dan meletakkan batu pertama PLTMH Anggi II (500 kW) di Pegunungan Arfak.

Bahlil kemudian berbagi kisah masa kecilnya di kampung tanpa listrik. “Kalau siswa nakal, tugasnya menjahit penghapus,” ujarnya sambil tertawa. “Itu kearifan lokal yang membentuk anak-anak tangguh. Dari situ lahir pemimpin, pengusaha, jenderal, orang besar.”

Ia juga menyinggung pesan Presiden Prabowo Subianto tentang pentingnya pemerataan akses pendidikan dan teknologi. “Tujuannya sederhana,” katanya, “agar nanti mereka yang sukses tidak lupa dengan rakyat yang masih susah.”

Sambil menatap anak-anak SD di hadapannya, Bahlil berkata pelan namun yakin, “Mungkin anak-anak dari 5.700 desa dan 4.400 dusun yang belum berlistrik ini, dua puluh atau tiga puluh tahun lagi akan jadi presiden, menteri, atau gubernur.”

Pidatonya diakhiri dengan kalimat penuh makna: “Barang siapa yang menyelesaikan perkara kecil dengan baik, Tuhan akan memberinya perkara besar.” Saat matahari tenggelam di balik bukit, lampu-lampu di desa itu menyala satu per satu. Wajah-wajah warga memantulkan cahaya hangat. Program Merdeka dari Kegelapan bukan hanya proyek listrik, melainkan kisah harapan yang kini nyata di pelosok negeri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6